Inspiration

Doa Islami Ini Menginspirasiku, Pastor Katolik Dalam Sikap Tobat Dan Berdoa Memohon Ampun

Sahabat Peradaban Kasih UC We-Media yang terkasih, dalam semua agama, ruang pertobatan selalu disediakan bagi kita yang rapuh, lemah, ringkih dan berdosa ini. Ada banyak cara untuk membangun sikap tobat dan berdoa memohon pengampunan atas dosa kita sesuai dengan agama masing-masing. Namun, ada yang unik yang baru saja terjadi dalam hidupku. Doa Islami ini menginspirasiku, meski saya seorang Pastor Katolik, dalam membangun sikap tobat dan berdoa memohon ampun kepada Tuhan yang Maha Rahim. Bagaimana bisa terjadi?

Pemilik hak cipta: Aloys Budi Purnomo Pr

Saya mendapatkan kiriman dari sahabatku, Husni Muhammad. Kiriman itu berupa youtube yang berisi Syair Doa Abu Nawas. Saya membukanya, melihatnya, dan menikmatinya dengan penuh syukur.

Sungguh, Syair Doa Abu Nawas yang dilantunkan dalam bahasa Arab tersebut sangat menginspirasi saya. Saya resapkan kata demi kata dengan iringan musik yang ada. Hatiku sangat tersentuh untuk menikmati doa itu. Maka, sesudah itu, saya langsung menjawab Husni Muhammad untuk mengucapkan terima kasih atas kiriman yang bagus itu. Kang Husni pun mengatakan, “Syair Abu Nawas ini bagus untuk dimainkan dengan saksofonnya Romo…. apalagi dikolaborasikan dengan teman-teman Ansor atau NU….”

Orisinil sumber dari youtube En Wandi (23 September 2016) dengan keterangan Al I’tirf/Al I’tirof – Syair Doa Abu Nawas (Sebuah Pengakuan) – Bahasa Arab – Rumi – Melayu. Free to downlaod & Share

Bagi saya, justru yang paling pokok adalah mencecap makna setiap kata yang menjadi syair doa dalam lagu itu. Lagu itu penuh dengan suasana toba dan permohonan pengampunan kepada Tuhan. Isi itulah yang menginspirasi saya untuk menghayati semangat dan sikap tobat selama Masa Prapaskah ini.

Sebagai orang yang beragama Katolik dan sekaligus dipanggil menjadi seorang pastor (romo/imam), saya merasakan betapa kalimat-kalimat doa itu sungguh luar biasa inspiratif. Sesudah mendengarkan dan menyimak youtube itu, saya pun tergerak untuk mencari tahu, persis kalimat-kalimat tersebut dalam bahasa Indonesia.

Saya menemukan di laman ini Canufa (canufa26.blogspot.co.id/2016/11/syair-doa-abu-nawas-al-itiraf-sebuah.html). Saya sangat terbantu dalam memahmi makna doa itu. Beginilah Can Ufaz menampilkan syair doa itu selengkapnya dalam bahasa Indonesia (selain juga dalam bahasa Arab), namun saya hanya mengutip yang tertulis dalam bahasa Indonesia saja.

“Wahai Tuhanku! Aku bukanlah ahli surga, tapi aku tidak kuat dalam neraka. Jahim. Maka berilah aku taubat (ampunan) dan ampunilah dosaku, sesungguhnya Engkau Maha Pengampun dosa yang besar. Dosaku bagaikan bilangan pasir, maka berilah aku taubat wahai Tuhanku yang memiliki keagungan. Umurku ini setiap hari berkurang, sedang dosaku selalu bertambah, bagaimana aku menanggungnya. Wahai, Tuhanku! HambaMu yang berbuat dosa telah datang kepadaMu dengan mengakui segala dosa, dan telah memohon kepadaMu. Maka jika Engkau mengampuni, maka Engkaulah yang berhak mengampuni. Jika Engkau menolak, kepada siapakah lagi aku mengharap selain kepada Engkau.” (Can Ufas, 9 November 2016).

Menurutku, syair doa tobat dan permohonan ampun itu sangat indah dan bagus, apalagi dipadukan dengan alunan melodi dan musik yang ada. Sangat inspiratif dan indah. Doa itu mengingatkan daku akan doa tobat yang selalu kuucapkan seturut ajaran Gereja Katolik.

“Allah yang Maha Rahim, aku menyesal atas segala dosaku. Maka, patutlah aku Engkau hukum sebab aku telah menghina Engkau, yang maha murah dan maha baik bagiku. Aku menyesal atas segala dosaku, dan berjanji dengan pertolongan rahmat-Mu, hendak memperbaiki hidupku dan tidak akan berbuat dosa. Ya Allah, ampunilah aku orang yang berdosa ini.”

Baik syair doa Abu Nawas maupun doa tobat itu memiliki makna dan isi yang serupa. Di dalamnya, kita orang yang rapuh, lemah, ringkih dan berdosa ini, tidak bisa tidak selain hanya berharap kepada Allah dan mengandalkan kerahiman-Nya. Doa tobat dan permohonan pengampunan itu, pasti mendatangkan rahmat dan kerahiman bagi kita yang mau dengan rendah hati memperolehnya, apa pun agama kita, dengan cara apa pun kita melakukannya, sesuai dengan aga kita masing-masing.

Bahwa Syair Doa Abu Nawas itu menginspirasi daku. Itu adalah berkah. Itu selaras dengan ajaran Gereja Katolik yang mengatakan bahwa Gereja Katolik tidak menolak apa pun yang baik, benar dan suci, yang terdapat dalam setiap agama dan budaya. Semua itu membawa kita sampai pada Sang Jalan, Kebenaran dan Kehidupan. Itulah yang diajarkan dalam Nostra Aetate 2 dan Lumen Gentium 16, yang selalu menjadi landasan bagi saya dalam mengembangkan pelayanan sebagai Ketua Komisi HAK KAS selama ini. 

Demikian, bagaimana dengan Anda? Ssemoga bermanfaat. Salam peradaban kasih bagi kita semua. Terima kasih. Tuhan memberkati.***

Kampus Ungu Semarang, 8/3/2018

Sumber: refleksi pribadi berdasarkan yuoutube En Wandi dan blog Can Ufaz Syair Doa Abu Nawas seperti sudah saya sebut dalam artikel.

Sumber
https://idstory.ucnews.ucweb.com/story/2515409374669147?uc_param_str=dnvebifrmintcpwidsudsvnwpflameefutch&url_from=wmconstomerwebsite&stat_entry=personal&comment_stat=1

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.