Inspiration

Mengampuni Tanpa Batas, Mengapa?

Sahabat Peradaban Kasih UC We-Media yang terkasih, kita menyadari, dalam kehidupan kita sehari-hari, betapa sulit bagi kita untuk mengampuni. Namun, kita dituntut suatu panggilan Ilahi agar mampu mengampuni tanpa batas. Mengapa? Inilah jawabannya.

Pemilik hak cipta: Aloys Budi Purnomo Pr

Pertama, sumber segala pengampunan adalah Allah sendiri yang Maha Rahim, Maha Pengasih, Penyayang dan Pengampun. Pengampunan-Nya selalu tersedia bagi kita tanpa batas.

Kedua, sesudah mengalami kasih kerahiman Allah yang Maha Rahim, Pengasih, Penyayang dan Pengampun, tidak bisa tidak, kita pun harus mengampuni sesama kita tanpa batas pula. Kita dipanggil untuk mengampuni tanpa batas, tujuh puluh kali tujuh kali.

Ketiga, bagaimana kita bisa mengampuni tanpa batas? Caranya, percayalah betapa Allah tak pernah lelah mengampuni kita. Mungkin, justru kitalah yang sering lelah untuk datang kepada-Nya dan memohon pengampunan-Nya. Karenanya, mari kita tidak pernah lelah untuk datang kepada-Nya memohon pengampunan-Nya, sebab Allah tak pernah lelah mengampuni kita. Saat kita tidak lelah memohon pengampunan, kita pun tak akan lelah untuk mengampuni tanpa batas.

Keempat, dengan terus mengalami kasih dan pengampunan-Nya, maka kita pun disembuhkan dari segala kelemahan dan dosa kita. Dan jangan lupa, saat kita mampu mengampuni tanpa batas, maka kita pun disembuhkan oleh pengampunan yang kita berikan kepada orang yang bersalah kepada kita, yang menyakiti dan melukai hati kita. Mengampuni tanpa batas itu penting, sebab mengampuni juga menyembuhkan diri kita sendiri.

Akhirnya, karena pengampunan itu bersumber dari Allah sendiri, maka, saat kita mampu mengampuni tanpa batas, sesungguhnya kita berada dalam persatuan yang mesra dengan Sang Sumber Pengampunan itu sendiri. Kita berada bersama Dia. Pada saat itulah, kebahagiaan, kegembiraan dan sukacita memahkotai kehidupan kita.

Karenanya, tunggu apa lagi. Mari kita saling mengampuni satu terhadap yang lain. Pengampunan itu berasal dari Allah. Saat kita mengampuni kita berada dalam persatuan mesra dengan-Nya. Saat itu pula, kita disembuhkan, dibahagiakan, dan mengalami sukacita dan kegembiraan.

Demikian, semoga bermanfaat. Salam peradaban kasih bagi kita semua. Terima kasih. Tuhan memberkati.***

Johar Wurlirang Semarang, 5/3/2018

Sumber: refleksi pribadi berdasarkan Mateus 18:21-33.

Sumber
http://idstory.ucnews.ucweb.com/story/2242370755364140?uc_param_str=dnvebifrmintcpwidsudsvnwpflameefutch&url_from=wmconstomerwebsite&stat_entry=personal&comment_stat=1&stat_app=app_profile&entrance=personal

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.