Inspiration

Hebat! Alih-Alih Diajari Membenci, Mereka Diajak Untuk Saling Mengasihi Dan Hidup Rukun

Pemilik hak cipta: Aloys Budi Purnomo Pr

Sahabat Peradaban Kasih UC We-Media yang terkasih, semoga kabar baik selalu menyertai Anda, sebab kabar baik adalah berkat. Ijinkan melalui tulisan ini, saya berbagi pengalaman saat mendapat kepercayaan untuk menyambut dan menerima rombongan siswi-siswa SMP Negeri 1 Bawen, Kabupaten Semarang di Gereja Katedral Semarang (Rabu, 14/3/2018). Loh, kok bisa? Iya, begini ceritanya. Semoga menginspirasi kita dalam saling mengasihi dan membangun hidup rukun.

Beberapa waktu lalu, Habib Mustofa Ali, sahabatku, memintaku untuk membantu menerima dan mendampingi rombongan siswi-siswa Kelas VII SMP Negeri 1 Bawen, Kabupaten Semarang yang akan berkunjung ke Gereja Katedral Semarang. Kunjungan itu merupakan rangkaian dari wisata kebangsaan yang mereka lakukan. Tujuan dari wisata ini adalah untuk membangun kerukunan dalam semangat kebangsaan. Maka, alih-alih diajari saling membenci, mereka diajak untuk saling mengasihi dan hidup rukun. Cara sederhana untuk memulainya adalah dengan kunjungan ke rumah ibadah agama-agama dalam wisata kebangsaan dan religi. Menurutku, hal ini tak hanya bagus, melainkan juga hebat!

Pemilik hak cipta: Aloys Budi Purnomo Pr

Wisata kebangsaan itu dirangkai dalam wisata religi, dengan mengajak para peserta untuk mengunjungi sejumlah tempat ibadah agama-agama. Karena itu, mereka berkunjung ke Sam Pho Khong Semarang, Gereja Katedral Semarang, Masjid Agung Jawa Tengah, dan Vihara Buddhagaya Watugong. Saya mendapat tugas menyambut mereka di Gereja Katedral Semarang.

Sesudah berjumpa dengan para Pastor di Katedral yakni Romo AG Luhur Prihadi Pr, Romo A. Hantoro Pr dan Romo Heri Pr, saya menerima rombongan yang sudah berada di dalam Gereja Katedral. Jumlah mereka – menurut yang tertulis di dalam surat – sebanyak 302 orang yang berangkat dengan enam bus besar. Saya pun menerima mereka dengan sukacita.

Sesudah memberikan salam dan ucapan selamat datang kepada mereka, saya pun mulai menerangkan sebagai berikut. Pertama, Gereja Katedral Semarang pada tahun 2018 ini berusia 90 tahun dengan nama Santa Perawan Maria Ratu Rosario Suci. Gereja inil disebut Gereja Katedral sejak Mgr. Albertus Seogijapranata ditahbiskan menjadi Uskup pada tanggal 6 November 1940. Seorang Uskup akan menjadi bagian erat dari Gereja Katedral, maka biasanya, tinggalnya juga di dekat Gereja Katedral. Sekarang ini, Uskup Agung Semarang adalah Mgr. Robertus Rubiyatmoko. Beliau adalah Uskup ke-6 Keuskupan Agung Semarang.

Pemilik hak cipta: Aloys Budi Purnomo Pr

Kedua, meskipun Gereja Katedral adalah Gerejanya Uskup, dan di dalam Gereja Katedral terdapat Tahta Uskup, namun, Gereja Katedral sebagai Paroki dipimpin dan dilayani oleh Para Pastor yang bertugas di Katedral. Saat ini, yang menjadi Pastor Paroki Katedral Semarang adalah Romo AG Luhur Prihadi Pr, dan dibantu oleh Para Vikaris (Wakil) Pastor Paroki, yakni Romo A. Hantara Pr, Romo Heri Pr, dan Romo V. Yudho Pr. Saya sendiri, pernah bertugas di Katedral Semarang pada tahun 2004-2007 sebagai Vikaris Paroki. Romo Yudho kadang-kadang tidur di pastoran saya di Pastoran Unika Soegijapranata, karena Romo Yudho juga bertugas sebagai Ketua Komisi Kerasulan Mahasiswa di Semarang.

Ketiga, saya mulai menerangkan hal-hal yang ada di dalam gereja. Ada mimbar untuk mewartakan sabda, ada altar untuk perayaan Ekaristi, ada kursi imam yang disebut sedilia. Semua pernak-pernik yang ada di dalam gereja saya terangkan satu per satu termasuk lonceng kecil (klinthing) dan bantal tempat berlutut. Termasuk ada semacam mangkok tempat air suci yang fungsinya kurang lebih sama seperti kalau umat Islam hendak sholat, maka membersihkan diri dengan air saat wudhu.

Keempat, saya terangkan pula arti Tahta Uskup yang hanya ada di Gereja Katedral serta logo, lambang dan motto Uskup Agung Semarang. Setiap Uskup memiliki logo, lambang dan motto sendiri-sendiri. Mgr. Robertus Rubiyatmoko memilih motto: Mencari dan Menyelamatkan (dalam bahasa Latin: Quaerere et Salvum Facere).

Pemilik hak cipta: Aloys Budi Purnomo Pr

Kelima, kepada adik-adik saya terangkan pula bahwa dengan masuk ke dalam gedung gereja, tidak secara otomatis menjadi pemeluk agama Katolik. Untuk menjadi anggota Gereja Katolik, seseorang harus mengikuti pelajaran agama selama sedikitnya satu tahun, dan harus mengikuti tes baik lisan maupun tertulis, bahkan belum tentu lulus juga. Itulah prosedur menjadi anggota Gereja Katolik, sulit! Minimal butuh waktu satu tahun untuk persiapan baru kemudian bisa dibaptis menjadi orang Katolik. Maka, dengan masuk ke gedung gereja, tidak membuat seseorang otomatis menjadi Katolik; sama seperti saya sebagai Ketua Komisi Hubungan Antaragama dan Kepercayaan Keuskupan Agung Semarang tidak otomatis menjadi orang Islam dengan masuk ke dalam Masjid, atau menjadi Hindu saat masuk ke Pura Girinata, dan seterusnya. Tetapi, setiap kali kita masuk ke dalam rumah ibadah apa pun agamanya, saya yakin, Tuhan pasti memberkati kita, sebab tempat ibadah disucikan Tuhan berkat doa-doa umatnya.

Keenam, saya memberi kesempatan untuk bertanya kepada adik-adik. Ada dua pertanyaan dari dua penanya. Pertama, Sabina bertanya tentang sikap Gereja Katolik terhadap kerukunan dan bagaimana mengupayakan kerukunan. Kedua, Zhak bertanya tentang arti salib dan tulisan INRI. Pertanyaan mereka bagus-bangus.

Inilah jawaban saya. Gereja Katolik mengajarkan, seperti ajaran Yesus, agar umat mengasihi semua orang, bahkan orang yang memusuhi dan membenci. Ajaran ini sebetulnya ada juga dalam setiap agama. Karena itu, kerukunan merupakan cita-cita bukan hanya Gereja Katolik tetapi semua orang. Secara khusus, Gereja Katolik mengajarkan, bahwa Gereja Katolik tidak menolak apa pun yang baik, benar dan suci yang terdapat dalam semua agama dan budaya. Gereja Katolik mendorong para putri-putranya agar selalu membangun hidup rukun, berdialog dan bekerjasama dengan semua agama lain untuk mewujudkan kesejahteraan, keadilan dan kebaikan.

Pemilik hak cipta: Aloys Budi Purnomo Pr

Itu jawaban saya kepada Sabina. Kepada Zhaki, saya jelaskan bahwa salib yang dipasang di Gereja Katolik dan di rumah orang-orang Katolik biasanya dan selalu ada tubuh Yesus. Di atas tubuh itu tertulis INRI. INRI adalah singkatan dari Iesus Nazarenus Rex Iudaeorum dari bahasa Latin yang berarti Yesus Orang Nazareth Raja Orang Yahudi. Tulisan itu sebetulnya bernada ejekan dari Ponsius Pilatus yang menjadi Gubernur saat Yesus disalibkan. Orang-orang Yahudi menolak tulisan itu, tetapi Pilatus tetap memaksakan agar yang tertulis tetap tertulis. Meski nada dan suasana tidak mengenakkan, tulisan itu tetap dipasang untuk mengenang ajaran kasih yang dihayati oleh Yesus hingga wafat di kayu salib.

Itulah hal-hal yang terjadi saat saya menerima, menyambut dan menyertai adik-adik dari SMP Negeri I Bawen yang berkunjung ke Gereja Katedral dalam rangka Wisata Kebangsaan dan Religi. Bagiku, kunjungan itu menjadi bagian dari edukasi melek agama lain dan menumbuhkan semangat kerukunan dan kebangsaan. Pertemuan ditutup dengan menyanyikan lagu Indonesia Raya bersama-sama.

Saya bahagia menerima mereka. Kepada mereka pun saya garis bawahi tujuan dari wisata kebangsaan dan religi ini yakni agar hidup rukun, bukan saling membeci dan mencaci seperti yang disampaikan oleh Parjan yang memberi pengantar dan penutup sebelum dan sesudah saya menerangkan hal-hal yang perlu diterangkan terkait dengan Gereja Katedral Semarang.

Demikian, semoga bermanfaat. Bagaimana pendapat dan komentar Anda atas peristiwa ini? Silahkan boleh menuliskannya di kolom komentar. Dengan senang hati, saya akan membaca dan membalasnya juga. Terima kasih. Tuhan memberkati.***

Johar Wurlirang, 15/3/2018

Sumber: refleksi pribadi atas kesempatan menerima, menyambut dan mendampingi rombongan Siswii-Siswa Kelas VII SMP Negeri 1 Bawen di Gereja Katedral Semarang (Rabu, 14/3/2015).

Sumber
https://idstory.ucnews.ucweb.com/story/2338864069369965?uc_param_str=dnvebifrmintcpwidsudsvnwpflameefutch&url_from=wmconstomerwebsite&stat_entry=personal&comment_stat=1

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.