Inspiration

Indahnya Kejungkel Dan Kepingkel, Inilah Model Pemimpin Yang Dekat Dengan Umat

Sahabat Peradaban Kasih UC We-Media yang terkasih, pagi menjelang siang, di Hari Selasa (13/3/2018), tiba-tiba saya teringat akan pengalaman ini. Pengalaman itu kusebut pengalaman Kejungkel (Kerasulan Kunjungan Keluarga) dan Kepingkel (Kerasulan Pendampingan Keluarga). Sungguh indah mengenangnya.

Pemilik hak cipta: Aloys Budi Purnomo Pr

Kok bisa tiba-tiba teringat akan pengalaman indahnya Kejungkel dan Kepingkel? Ya, kenangan akan indahanya Kejungkel dan Kepingkel tiba-tiba memembayang di wajahku, ketika saya melihat video yang berisi Paus Fransiskus yang menurutku juga melakukan hal yang sama.

Hari Senin (12/3/2018), saat saya pulang dari Paroki St. Mikael Semarang Indah bersama Mas Ignasius Dadut Setiadi, saua mendapat kiriman dari seorang sahabat, Editha, sebuah video. Seperti sudah kusebut tadi, video itu berisi Paus Fransiskus yang mengunjungi beberapa keluarga di Ostia, di pinggiran kota Roma. Video itu sebetulnya merupakan rekaman atas kunjungan Paus Fransiskus di Paroki Ostia, Roma tahun 2017 yang lalu. Video itu sudah diunggah di youtube Tv2000it pada tanggal 19 Mei 2017.

Karena yang melakukan seorang Paus, peristiwa itu lalu menjadi berita heboh. Apalagi disertai dengan para pengawal, diabadikan para kameramen baik foto maupun video. Tentu, itu sangat bagus. Dan itulah yang membuka anganku sampai pada kenangan indahnya Kejungkel dan Kepingkel yang pernah kujalankan sejak tahun 1998, dua puluh tahun yang lalu.

Orisinil – Video ini kuunggah sendiri berdasarkan video yang dikirimkan padaku melalui kontak japri di nomor saya.

Indahnya Kejungkel dan Kepingkel itu kualami sejak tahun 1998 hingga 2017 yang lalu ketika saya bertugas melayani umat di paroki, mulai dari Paroki St. Maria Fatima Magelang (1998-1999), Paroki St. Pius X Karanganyar (1999-2000) lalu Paroki St. Maria Ratu Rosario Randusari Katedral Semarang (2004-2007), Paroki Hati Kudus Yesus Tanah Mas (2007-20012), Paroki St. Fransiskus Kebon Dalem (20012-2015), dan Paroki Kristus Raja Semesta Alam Ungaran (2015-2017). Antara tahun 2000-2004 saya tidak melakukan Kejungkel dan Kepingkel Parokial sebab saat itu saya bertugas sebagai Staf dan Rektor Seminari Tinggi St. Paulus Sinaksak, Pematangsiantar, Sumatera Utara.

Oh ya, apa itu Kejungkel dan Kepingkel? Penasaran ya… Kejungkel itu singkatan dari Kerasulan Kunjungan Keluarga. Sedangkan Kepingkel merupakan kependekan dari Kerasulan Pendampingan Keluarga. Kepingkel dilakukan melalui Kejungkel dan dilanjutkan sesudah Kejungkel bila memang dibutuhkan sesuai dengan situasi dan kondisi keluarga yang bersangkutan. Itulah yang kumaksud dengan Kejungkel dan Kepingkel.

Pemilik hak cipta: Aloys Budi Purnomo Pr – Dokumentasi Kejungkel dan Kepingkel di Lingkungan Bartolomeus Ungaran

Seringkali, saat menjalankan Kejungkel dan Kepingkel itu, saya harus menyediakan waktu yang longgar. Biasanya, ini terjadi dari sore hingga malam hari. Memang tidak bisa menjangkau banyak umat dalam sekali Kejungkel. Itulah sebabnya, perlu penjadwalan sepanjang tahun dan terus dilakukan setiap tahun. Dengan begitu, semakin banyak umat dan keluarga-keluarga yang tersapa.

Saya melakukan Kejungkel dan Kepingkel sebagai upaya sederhana melakukan perjumpaan dengan umat dan menyapa umat, terutama mereka yang sakit, lansia (lanjut usia), atau sedang menghadapi masalah-masalah keluarga. Meminjam istilah Paus Fransiskus dalam Evangelii Gaudium, itulah yang disebut pastoral seorang “gembala yang berbau domba” sebagai suati metafora.

Pastoral Kejungkel dan Kepingkel kulakukan bukan sekadar sebagai suatu sampingan kalau sempat, melainkan kujalankan secara teratur. Untuk itu, bahkan setiap awal tahun, jadwal Kejungkel dan Kepingkel itu sudah kubagikan kepada pihak-pihak terkait (misalnya Dewan Harian Paroki, Para Pengurus Wilayah dan Lingkungan). Maka, jadwal Kejungkel dan Kepingkel di lingkungan tertentu sudah terjadwal sejak awal di agenda tahunan yang saya persiapkan.

Pemilik hak cipta: Aloys Budi Purnomo Pr Dokumentasi Kejungkel dan Kepingkel yang saya lakukan di Ungaran

Jadwal itu penting, sebab dalam Kejungkel dan Kepingkel, saya juga mengajak dan melihat minimal Ketua Lingkungan atau yang mewakilinya, sehingga saya bisa sampai di rumah keluarga yang akan dikunjungi dengan lancar. Dengan cara itu, saya belajar mengenal Umat dari dekat. Di sinilah letak indahnya Kejungkel dan Kepingkel.

Indahnya Kejungkel dan Kepingkel juga kualami setiap kali berjumpa dengan anggota keluarga, lalu kami bisa berbagi kisah dan cerita pengalaman. Yang sakit diodakan. Yang lemah dikuatkan. Yang ragu-ragu dalam menghayati kehidupan dimantabkan. Yang sedang bertikai diperdamaikan. Dan yang sudah bergembira dan bersyukur diteguhkan. Kejungkel dan Kepingkel biasanya kututup dengan doa dan berkat.

Saya berterima kasih mendapatkan video itu. Maka, video itu lalu kuunggah saja ke youtube akun saya sebagai tanda sukacita dan semangat berbagi, agar semakin banyak orang melihat indahnya Kejungkel dan Kepingkel yang dilakukan oleh Paus Fransiskus. Ini bukan promosi, melainkan mengembangkan semangat berbagi bahwa dunia kita saat ini memang sedang membutuhkan sosok pemimpin yang mau melayani dan dekat dengan umat dan masyarakat.

Saat ini, kita sedang mengalami defisit pemimpin yang peduli kepada masyarakat. Artinya, memang sudah ada di antara pemimpin kita yang menghayati kedekatan dengan masyarakat dan mau melayani, namun jumlahnya hanya sedikit. Maka, yang dilakukan Paus Fransiskus bisa menjadi model kepemimpinan yang dekat dengan masyarakat.

Referensi pihak ketiga Blusukan Presiden Joko Widodo, Sumber: Okezone News; news.okezone.com 20/10/2017

Saya bersyukur di Indonesia, kita memiliki pemimpin dengan pola yang serupa. Lihatlah kepemimpinan Joko Widodo yang suka “blusukan”. Model pemimpin yang suka “blusukan” dekat masyarakat, bukan dalam rangka pencitraan, melainkan dalam rangka memberdayakan masyarakat. Inilah yang sebetulnya juga merupakan bagian dari keteladanan. Memimpin tak hanya dalam perkataan, melainkan juga dalam keteladanan yang nyata. Dan untuk semua itu memang dibutuhkan kerendahan hati.

Demikian, terima kasih Anda berkenan membaca sharing ini. Semoga bermanfaat. Salam peradaban kasih. Tuhan memberkati.***

Kampus Ungu Semarang, 13/3/2018

Sumber: refleksi pribadi

Sumber
https://idstory.ucnews.ucweb.com/story/4412874295321246?uc_param_str=dnvebifrmintcpwidsudsvnwpflameefutch&url_from=wmconstomerwebsite&stat_entry=personal&comment_stat=1

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.