Inspiration

Inilah Pentingnya Spiritualitas Mendengarkan

Sahabat Peradaban Kasih UC We-Media yang terkasih, coba sejenak, sambil membaca artikel ini, mari kita perhatikan anggota tubuh kita ini, yakni telinga dan mulut (bibir) kita. Ternyata, kita diberi dua telinga dan satu mulut (bibir). Mengapa Tuhan menciptakan kita dengan dua telinga, sementara kita hanya diberi satu mulut (bibir)? Apa ya kira-kira maksudnya? Menurut saya, inilah jawabannya.

Pemilik hak cipta: Aloys Budi Purnomo Pr

Menurut saya, kita diberi dua telinga dan hanya satu mulut (bibir) saja, karena kita diajak untuk menghayati betapa pentingnya mendengarkan bagi kita. Inilah yang saya sebut sebagai spiritualitas mendengarkan.

Saya sangat terkesan dengan pernyataan yang disampaikan oleh Romo Henri J.M. Nouwen. Dalam salah satu permenungan hariannya dalam bukunya yang berjudul Bread for the Journey: A Daybook of Wisdom dan Faith, ia menulis tentang makna mendengarkan. Berikut ini kutipannya:

“Mendengarkan adalah sebentuk keramahan rohani.”

Saya mencoba mencerna kutipan itu secermat mungkin. Persoalannya adalah ini. Saya menyadari, betapa sulitnya untuk mendengarkan orang lain. Ya, saya akui dengan jujur, bahwa mendengarkan merupakan suatu hal yang paling sulit bagi saya., mungkin juga bagi Anda. Itulah sebabnya, Tuhan memberikan kepada kita dua telinga dan hanya satu mulut (bibir) saja.

Lebih mudah bagi kita berbicara dari pada mendengarkan. Lebih sulit bagi kita mendengarkan dari pada berbicara. Di sinilah, menurut saya, penjelasan yang diberikan oleh Romo Henri J.M. Nouwen sangat bagus, dan itulah yang kemudian saya sebut sebagai spiritualitas mendengarkan.

“Agar kita bisa mendengarkan, dari kita dituntut suatu keyakinan batin bahwa kita tidak perlu lagi membuktikan kemampuan diri kita dengan berbicara, berargumentasi, atau dengan membuat pernyataan. Orang-orang yang mampu mendengarkan mempunyai kematangan batin sedemikian rupa sehingga mereka tidak lagi membutuhkan pengakuan akan kehadiran mereka.”

Menurut saya, itulah sesungguhnya yang dimaksud dengan spiritualitas mendengarkan dan arti penting spiritualitas itu bagi kita. Saat kita mendengarkan, kita mendengarkan dengan hati dan cinta. Kita mendengarkan dengan penuh perhatian kepada orang lain yang sedang berbicara kepada kita. Bahkan, lebih bagus lagi bila kita mendengarkan orang lain yang sedang berbicara dengan kita sambil menatap wajahnya dan sambil tersenyum penuh kasih. Pada saat itulah, kita sedang menghayati spiritualitas mendengarkan.

Coba mari kita bersikap jujur dengan diri kita. Apa yang kita lakukan ketika orang lain sedang berbicara kepada dan dengan kita? Seringkali, saat orang lain sedang berbicara dengan kita, diam-diam kita sudah sibuk dengan pikiran kita untuk menjawab dan menanggapi lawan bicara kita, bukan?

Pemilik hak cipta: Aloys Budi Purnomo Pr

Saat kita sibuk dengan pikiran kita sambil menunggu kesempatan untuk menjawab dan atau menanggapi lawan bicara kita, persis pada saat itulah, kita sedang kehilangan kesempatan untuk menghayati pentingnya spiritualitas mendengarkan bagi kita. Itulah sebabnya, mendengarkan itu membutuhkan kasih dan perhatian seutuhnya kepada siapa pun yang sedang berbicara di hadapan kita.

Buah dari spiritualitas mendengarkan adalah orang lain yang sedang berbicara dengan kita merasa diperhatikan, diterima sepenuhnya dan seutuhnya. Bahkan, sebenarnya, kerap kali, tanpa kita menanggapi apalagi mendebat dan berargumentasi dengannya, ia sudah merasa diteguhkan oleh kata-katanya sendiri yang diucapkan kepada kita.

Pemilik hak cipta: Aloys Budi Purnomo Pr

Itulah pentingnya spiritualitas mendengarkan bagi kita dalam kehidupan bersama. Itulah pula maksud Tuhan Sang Pencipta menganugerahkan dua telinga dan hanya satu mulut (bibir) kepada kita.

Berikut saya sampaikan catatan reflektif atas gambar yang saya sertakan. Kalau Anda perhatikan tiga gambar yang saya olah dan sertakan, ketiganya memiliki maksud sesuai judul artikel ini. Gambar pertama merupakan simbol betapa tak mudah untuk mendengarkan kendati kita bertelinga dua bermulut satu (maka mulut dan bibir menonjol dengan warna merah). Gambar kedua, menunjukkan proses keseimbangan antara mendengarkan dan berbicara, namun bicara sesedikit mungkin, maka warna telinga dan mulut sama. Gambar ketiga, mulut tak lagi tampak, hanya telinga yang ada, sepasang telinga, untuk menggambarkan pentingnya spiritualitas mendengarkan bagi kita.

Demikian, semoga bermanfaat. Meski sulit, mari kita belajar menghayatinya. Salam peradaban kasih. Terima kasih. Tuhan memberkati.***

Johar Wurlirang, 12/3/2018.

Sumber: refleksi pribadi berdasarkan permenungan “Mendengarkan adalah bentuk keramahan rohani” dalam buku Henri J.M. Nouwen, Bread for the Journey: A Daybook of Wisdom dan Faith.

Sumber
https://idstory.ucnews.ucweb.com/story/1178115102977804?uc_param_str=dnvebifrmintcpwidsudsvnwpflameefutch&url_from=wmconstomerwebsite&stat_entry=personal&comment_stat=1

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.