Inspiration

Saat Sambil Menyelam Minum Air, Apa Yang Anda Rasakan?

Sahabat Peradaban Kasih UC We-Media yang terkasih, tentu kita hafal dengan peribahasa ini: Sambil menyelam minum air. Bahkan, kita semua tahu arti peribahasa ini, yakni melakukan dua, tiga pekerjaan sekaligus pada suatu waktu yang bersamaan. Saya mengalaminya pada Kamis (15/3/2018). Nah, saat Anda harus sambil menyelam minum air, apa yang Anda rasakan? Berikut sharing pengalamanku.

Referensi pihak ketiga

Pagi pukul 06.30 WIB, saya menerima Pak Agus, Babinsa Kelurahan Bendan Dhuwur di Pastoran Johar Wurlirang. Kami berbicara tentang persiapan Pameran Lukisan yang akan diselenggarakan di Pastoran Johar Wurlirang, tempat saya tinggal. Pak Agus pun siap memantau dan membantu dari sisi keamaan (tentu, saya usulkan, bekerja sama dan berkoordinasi dengan bagian security Universitas Katolik Soegijapranata Semarang).

Sesudah itu, saya melanjutkan perjalanan ke kantor Majalah INSPIRASI, Lentera yang Membebaskan untuk menjemput Mas Lukas Awi Tristanto. Kami akan pergi ke beberapa tempat untuk berjumpa dengan para sahabat terkait dengan Pameran Lukisan dan Srawung Persaudaraan Sejati. Siapakah para sahabat itu? Nanti akan muncul pada bagian selanjutnya, maka, silahkan meneruskan membaca tulisan ini hehehe. [Oh ya, sambil menunggu di kantor, saya masih menyempatkan menulis satu artikel yang sudah diterbitkan di UC We-Media tadi siang, yang berjudul “Kiranya Dia Disambut Sang Cahaya Abadi Di Planet Lain Bernama Surga” 2018/03/15 14:44 lihat tz.ucweb.com/3_3KVqR]

Kepada Bapak Rektor Universitas Katolik Soegijapranata Semarang dan Mas Ignatius Dadut Setiadi, saya mengabarkan dan memohon ijin bahwa hari ini saya tidak ke kampus karena harus menuntaskan satu hal, yakni persiapan penyelenggaraan Pameran Lukisan. Tanggal 21-25 Maret 2018 mendatang, bersama rekan-rekan seniman pelukis, saya menyelenggarakan Pameran Lukisan bertema Perdamaian Palestina, Kerukunan Kita di pastoran: Dari pastoran untuk Perdamaian Palestina dan Kerukunan Kita.

Kebetulan hari iKamis, (15/3/2018), H.Y. Rukma Setiabudi, Ketua DPRD Jateng berkenan menerima kami (saya dan Tim Komisi Hubungan Antaragama dan Kepercayaan Keuskupan Agung Semarang) sebagai panitia penyelenggara pameran tersebut. Sekali berjumpa dengan beliau, kami juga sekalian menyampaikan rencana penyelenggaraan Srawung Persaudaraan Sejati Orang Muda Lintas Agama se-Keuskupan Agung Semarang yang sudah dimulai pada bulan Maret ini dan akan memuncak pada tanggal 26-28 Oktober 2018 mendatang.

Bersama H.Y. Rukma Setiabudi – Pemilik hak cipta: Aloys Budi Purnomo Pr

Kami diterima dengan baik, ramah dan bersahabat. Bahkan, Pak Rukma – demikian panggilan akrab beliau – berjanji akan hadir di salah satu hari penyelenggaraan tersebut. Sebetulnya kami bermaksud mengundang beliau untuk hadir pada saat pembukaan. Namun ternyata, pada hari yang sama, beliau sudah ada janjian dengan pihak lain yang tidak bisa dibatalkan. Karena itu, kemungkinan, beliau akan meminta Mas Dion, putranya, yang kebetulan juga menjadi anggota DPRD di Purworejo. Semoga Mas Dion tidak berhalangan.

Sesudah usai pembicaraan dengan Pak Rukma di ruangan beliau, kami melanjutkan perjalanan untuk berjumpa dengan pemilik MG Setos Semarang, yang akan menjadi tempat penyelenggaraan Puncak Srawung Persaudaraan Sejati Orang Muda Lintas Agama yang akan dilaksanakan 26-28 Oktober mendatang. Syukur kepada Allah, meski kami tidak janjian sebelumnya, kami bisa berjumpa beliau dan kami pun diterima dengan baik dan ramah, bahkan mendapat hidangan santap siang. Puji Tuhan. Pembicaraan terkait dengan Srawung pun tak mengabaikan rencana pelaksanaan Pameran Lukisan. Pak Setyawan yang baik hati, yang saat itu sedang bersantap siang bersama keluarga (istri, anak, menantu dan cucu – sesuatu yang langka terjadi sebagai kebiasaan harian di zaman now), dengan penuh keramahan menerima kami pula. Segala sesuatunya berjalan di luar dugaan kami, namun sesuatu yang sangat menggembirakan.

Sesudah itu, sekalian jalan, saya membetulkan perangkat gajet saya yang rusak, karena stilus yang terpasang tidak sesuai tempatnya dan kemudian putus. Ternyata, Mas Awi juga membutuhkan baterai untuk ponselnya, yang mereknya sama dengan milik saya. Ya sudah, sekalian kami membelinya, meski kami harus pergi ke dua tempat yang berbeda untuk kepentingan tersebut.

Di tempat kami membeli stilus dan baterai itulah, kami berjumpa dengan keluarga Ary Nugroho, umat Tanah Mas Semarang. Saat itulah, tanpa sengaja, beliau menyebut jadwal pelayanan sakramen tobat. Nah, saya pun terselamatkan, sebab ternyata, pada pukul 17.30, saya harus membantu rekan saya, Romo L. Prasetya Pr dalam rangka pelayanan tersebut. Padahal saat kami berjumpa dengan Pak Ary, saat itu sudah pukul 16.30 WIB.

Seketika, kami segera pulang, sebab urusan kami sudah selesai. Sesudah saya mengantar Mas Awi dan Bu Lena ke kantor Majalah INSPIRASI, Lentera yang Membebaskan, saya pun melanjutkan perjalanan menuju ke Tanah Mas. Saat mengantar Mas Awi, saya sekalian mengambil undangan Pameran Lukisan untuk Ketua RT dan RW setempat, tempat Pameran Lukisan akan diselenggarakan.

Sesampai di Tanah Mas, sesudah menyeruput secangkir kopi buatan Mas Bambang (koster Tanah Mas), saya pun segera bersiap untuk pelayanan Sakramen Tobat bersama Romo Pras, Romo Subi, dan Romo Tirta. Begitu saya masuk di ruangan, beruntun umat silih berganti, hingga pukul 21.00 menurut jam yang saya kenakan. Tugas selesai. Saya selesai paling akhir. Bahkan saat saya sudah keluar dari ruangan, masih ada satu keluarga empat orang (suami-istri dan dua anaknya yang datang terlambat. Saya layani mereka dengan gembira dan sukacita. Sesudah itu, Romo Pras mengajak saya makan malam. Puji Tuhan!

Sesudah makan malam, saya kembali ke Pastoran Johar Wurlirang. Lengkap sudah. Sekitar pukul 21.45 saya tiba di Pastoran Johar Wurlirang. Loyo? Tentu saja, secara fisik loyo…, sebab sejak pagi pukul 06.30 hingga hingga malam pukul 21.45 WIB, secara non-stop saya menikmati peribahasa sambil menyelam minum air tadi. Namun, hati bahagia, oleh sebab dalam sekali perjalanan banyak hal bisa dikerjakan dan diselesaikan dengan buah yang menggembirakan.

Dan sesampai di kamar, saya menuliskan refleksi ini yang kuberi judul: Saat Sambil Menyelam Minum Air, Apa Yang Anda Rasakan? Lalu kubagikan tulisan ini kepada Anda.

Referensi pihak ketiga

Mungkin, pada suatu saat Anda pun mengalami hal yang sama: Sambil menyelam minum air. Silahkan menikmatinya dengan bahagia, maka, meski sambil menyelam minum air, Anda tidak akan tersedak atau perut menjadi kembung. Mengapa? Karena sambil menyelam minum air adalah peribahasa hahaha. Kita bisa mengerjakan banyak hal dalam sekali rangkaian namun pekerjaan itu tetap berbuah baik dan menggembirakan. Anak muda zaman now bilang: cemungutz!!

Saya bersyukur boleh menikmati peribahasa sambil menyelam minum air. Bagaimana dengan Anda bila harus menikmati hal yang sama? Mengeluh? Bersyukur? Cemungutz? Atau….? Silahkan, berbagi kisah serupa melalui kolom komentar, bila memang berkenan untuk saling memperkaya pengalaman di antara kita dan dengan demikian, kita pun saling meneguhkan satu terhadap yang lain, bukan hanya dalam hal-hal yang luar biasa, melainkan juga dalam pengalaman yang biasa-biasa saja, seperti yang kualami sepanjang hari ini.

Demikian, semoga bermanfaat. Salah peradaban kasih. Terima kasih. Tuhan memberkati.***

Johar Wurlirang, 15/3/2018.

Sumber: refleksi pengalaman pribadi.

Sumber
https://idstory.ucnews.ucweb.com/story/1301084483414957?uc_param_str=dnvebifrmintcpwidsudsvnwpflameefutch&url_from=wmconstomerwebsite&stat_entry=personal&comment_stat=1

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.