Inspiration

Pentingnya Keteguhan Iman Dalam Penderitaan Demi Terwujudnya Perdamaian

Sahabat Peradaban Kasih UC We-Media yang terkasih, seberapa kuat kita bisa bertahan dalam goncangan jiwa, menjaga keseimbangan hidup, dan tidak tenggelam dalam arus gelombang penderitaan yang kita hadapi? Inilah salah satu pertanyaan yang menggumpal di sudut hati saya saat saya menyadari bahwa hidup ini dikepung oleh berbagai persoalan, dihantam kesulitan, dan dihempaskan oleh penderitaan justru ketika kita ingin mewujudkan perdamaian. Lalu kita harus bagaimana?

Repro lukisan karya Agus Widodo dalam Pameran Lukisan: Perdamaian Palestina, Kerukunan Kita (21-25/6/2018) di Pastoran Johar Wurlirang Pemilik hak cipta: Aloys Budi Purnomo Pr

Inilah refleksi sederhanaku, semoga memberi inspirasi dan motivasi bagi Anda yang mau membacanya dengan cinta. Pagi ini, saya kembali memandang beberapa lukisan yang sudah terpasang lalu kutangkap isyarat yang menginspirasi dan memotivasi diri saya untuk tetap teguh dalam iman demi terwujudnya perdamaian.

Kita dikelilingi oleh berbagai peristiwa yang bisa membuat diri kita tercekam dalam diam. Tabrak lari, perampokan, penganiayaan, tindakan kriminal, konflik bahkan perang adalah fakta yang selalu hadir di depan mata dan menusuk telinga kita. Berita-berita tentangnya terhidang di atas piring kehidupan kita. Berita-berita tentangnya berdesing laksana peluru menembus teling kita. Mata membaca, telinga mendengar, seluruh hidup kita merasakan deru derita di sekitar kita.

Repro lukisan karya Otok Shendra dalam Pameran Lukisan Perdamaian Palestina, Kerukunan Kita (21-25/3/2018) di Pastoran Johar Wurlirang Semarang Pemilik hak cipta: Aloys Budi Purnomo Pr

Simaklah dan cermatilah kata-kata kita terhadap perbedaan yang sesungguhnya merupakan suatu takdir alam dan kehendak Allah. Apalagi kalau sudah menyangkut urusan keimanan dan keagamaan. Betapa mudah kita laksana jerami kering tersiram bensin terbakar api lalu membara mengobarkan dendam dan kebencian. Sekering itukah kehidupan rohani dan keagamaan kita tanpa kedalaman iman, apa pun agama dan kepercayaan kita? Sehingga dengan mudah kita terbakar emosi lalu kehilangan kendali dan membabi buta mencari cara membalas mata ganti mata, gigi ganti gigi, nyawa ganti nyawa?

Setiap kali mengalami penderitaan yang tak kunjung habis, hati kita dijejali oleh perasaan sesak laksana seseorang yang tidak bisa menangis lagi karena seakan tak ada lagi orang lain yang mau mengerti apalagi peduli dengan tangis kita. Apalagi bila kita mulai hendak melangkah dari titik pijak penderitaan menuju titik pijak baru berupa perdamaian, pengampunan dan kerukunan. Itu laksana teriakan di padang gurun. Namun kita harus tetap terus menium terompet dan mengalunkan nyanyian perdamaian, meskipun mungkin hanya sedikit orang yang menyambut dan mengikuti ajakan itu.

Repro lukisan karya Ireng Wawan dalam Pameran Lukisan Perdamaian Palestina, Kerukunan Kita di Pastoran Johar Wulrirang Semarang (21-25/3/2018). Pemilik hak cipta: Aloys Budi Purnomo Pr

Nah, persis di sinilah pentingnya keteguhan iman dalam penderitaan, kekerasan, kejahatan, dan kesulitan kita. Sikap putus asa hanya akan menjerumuskan kita terperosok lebih dalam lagi ke jurang kehampaan dan kesia-siaan. Maka, alih-alih kalah sebelum bertanding, kita harus tetap teguh dalam iman di tengah segala bentuk penderitaan.

Saya masih percaya bahwa perdamaian, kerukunan dan persaudaraan sejati merupakan karunia yang pasti kita terima melalui sikap tetap teguh dalam iman meski kita harus mengalami penderitaan, tantangan dan kesulitan. Tak perlu pula kita menjadi takut, cemas dan khawatir bahwa kita harus tinggal bersama dan berjumpa dengan orang-orang tertentu yang membenci perdamaian. Tak perlu pula kita menjadi heran apabila kita bersemangat menyerukan perdamaian, tetapi berhadapan dengan orang tertentu yang justru menghendaki perang!

Repro lukisan karya Totok Nuryanta dalam Pameran Lukisan: Perdamaian Palestina, Kerukunan Kita di Pastoran Johar Wurlirang Semarang (21-25/3/2018). Pemilik hak cipta: Aloys Budi Purnomo Pr

Kuncinya hanya satu: tetap teguh dalam iman, apa pun agama dan kepercayaan kita, meski kita harus mengalami penderitaan yang bahkan kadang serasa tak terganggungkan! Bukankah sesudah malam-malam yang gulita oleh kegelapan, akan selalu terbit fajar yang merekah menebarkan kehangatan? Bahkan juga di saat mendung menghadang, matahari sesungguhnya tetap bersinar untuk kita!

Bagaimana pendapat Anda? Silahkan merespon di kolom komentar UC-Media terkait artikel ini. Semoga bermanfaat. Salam peradaban kasih. Terima kasih. Tuhan memberkati.***

Kampus Ungu Semarang, 20/3/2018

Sumber: refleksi pribadi saat memandang lukisan-lukisan yang menjadi ilustrasi artikel ini.

Sumber
http://idstory.ucnews.ucweb.com/story/483156673181306?uc_param_str=dnvebifrmintcpwidsudsvnwpflameefutch&url_from=wmconstomerwebsite&stat_entry=personal&comment_stat=1&stat_app=app_profile&entrance=personal

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.