Inspiration

Tetap Teguh Dalam Iman, Harapan Dan Terutama Kasih Demi Persatuan dan Pelayanan Terbaik

Sahabat Peradaban Kasih UC We-Media yang terkasih, pertama-tama ingin saya garis bawahi bahwa tulisan ini adalah sharing pengalaman atas peristiwa yang terjadi dalam diri saya pribadi. Kubagikan melalui tulisan ini semoga menginspirasi kita pula untuk tetap teguh dalam iman, harapan dan terutama kasih demi persatuan dan pelayanan terbaik, apa pun agama dan kepercayaan kita. Seperti apakah?

Pemilik hak cipta: Aloys Budi Purnomo Pr

Sesudah pada tanggal 10 Maret 2018 lalu saya diminta memberi Kuliah Umum di Universitas Kristen Satyawacana (UKSW) Salatiga; pada hari Kamis (22 Maret 2018) yang lalu, saya kembali diminta berbagi pengalaman iman, harapan dan kasih di komunitas UKSW. Namun yang ini sangat berbeda dan membuatku sungguh amat bersyukur dan terharu-biru.

Pemilik hak cipta: Aloys Budi Purnomo Pr

Pada tanggal 19 Maret lalu, hampir tengah malam, Pendeta Samuel Adi Perdana, S.Si, Sekretaris Pembina Yayasan Perguruan Tinggi Kristen Satya Wacana menghubungi saya melalui pesan singkat di ponsel. Saya kutipkan pesan yang beliau tulis, sebab yang saya kutip ini bukan sesuatu yang bersifat rahasia.

“Romo Budi…, saya Pdt. Samuel, Sekretaris Pembina Yayasan YPTKSW (UKSW). Salam kenal Romo. Jika Romo ada kesempatan, kami memerlukan tausiah Romo dalam acara gathering Organ Yayasan Perguruan Tinggi Kristen Satya Wacana dengan Rektor dan Anggota Senat di Salatiga. Waktunya Kamis, 22 Maret 2018 di UKSW. … Oh ya, saya dapat nomor Romo dari Pdt. Surya Samudra GKI Taman Majapahit Semarang. Terima kasih sebelumnya…”

Itulah kutipan pesan permohonan dari Pdt. Samuel kepada saya. Nah, itulah yang membuat saya merasa terharu-biru sejak awal. Saya hanya bertanya kepada diri saya sendiri dan kepada Tuhan. Apa yang harus saya lakukan? Pada akhirnya, sesudah mendasarkan diri pada doa, saya pun menjawab pesan permohonan Pdt. Samuel tersebut dengan menulis seperti ini.

“Baik Pak Samuel. Saya catat. Andaikan materi dasar sama dengan yang saya berikan saat saya memberi Kuliah Umum di UKSW beberapa waktu lalu dengan beberapa adaptasi tidak apa-apa ya?”

Saya berdoa dan memberikan jawaban seperti itu, sebab praktis saya hanya mempunyai waktu dua hari saja untuk mempersiapkan bahan permenungan sesuai dengan permohonan Pdt. Samuel. Syukur kepada Allah, Pdt. Samuel berkenan dan menyatakan tidak apa-apa. Puji Tuhan.

Pemilik hak cipta: Aloys Budi Purnomo Pr

Namun demikian, tetap tidak mudah bagi saya untuk mempersiapkan bahan yang harus kusampaikan di hadapan forum yang bagiku sangat terhormat dan mulia, yakni Organ Yayasan Perguruan Tinggi Kristen Satya Wacana dengan Pimpinan Universitas Kristen Satya Wacana. Ternyata, dalam pertemuan rekolektif itu hadir pula Ketua Pembina dan Ketua Yayasan dengan segenap jajaran tim mereka yang begitu hebat dari berbagai daerah se-Indonesia. Mereka terutama adalah para Pendeta dari Sinode Gereja masing-masing se-Indonesia. UKSW berada dalam naungan 18 Sinode Gereja-Gereja Kristen se-Indonesia. Hmmmm…, ini semakin membuatku terharu-biru. Dahsyat!

Pada hari Kamis (22/3/2018), pukul empat sore, saya sudah dijemput oleh utusan Dewan Pembina UKSW. Saya berangkat bersama Mas Tomo, yang menjemput saya. Sesampai di lokasi, saya berdoa sejenak, semoga Tuhan sendiri yang memakai saya dan berbicara melalui saya demi karya-Nya yang agung untuk putri-putra-Nya, khususnya civitas akademika UKSW dengan segenap jajaran Dewan Pembina serta Yayasannya. Dari unsur akademik hadir lengkap mulai dari Bapak Rektor UKSW, Neil Semuel Rupidana, S.E., MSc, Ph.D dan segenap jajaran Plt para Pembantu Rektor I – V dan para Dekan, dan Wakil Dekan. Mereka semua hadir dalam gathering dengan iman, harapan dan kasih demi persatuan dan pelayanan yang terbaik bersama dengan Dewan Pembina Yayasan Perguruan Tinggi Kristen Satya Wacana.

Pemilik hak cipta: Aloys Budi Purnomo Pr

Pada kesempatan itu, sesudah santap malam, saat saya dipersilahkan oleh Pdt. Bambang untuk menyampaikan bahan yang saya persiapkan, saya hanya mengatakan bahwa ini adalah sebuah sharing iman, harapan dan kasih. Karena berupa sharing, maka berangkat dari pengalaman nyata. Saya berharap bahwa pengalaman yang saya bagikan sebagai sesama umat manusia dan beriman kepada Tuhan Yang Maha Esa ini bermanfaat. Bila tidak bermanfaat juga tidak apa-apa. Minimal, saya bersyukur boleh berjumpa dan berkenalan dengan pribadi-pribadi yang istimewa di rumah bersama UKSW.

Saya juga mengatakan ini. Seandainya hal-hal yang saya sampaikan nanti bukan atau tidak ada yang baru sama sekali bagi para hadirin yang mulia, syukur kepada Allah. Itu berarti, Roh Allah bekerja, sehingga ternyata, pengalaman, pandangan, dan gagasan kita sama. Roh Allah bekerja dan mempertemukan kita melalui pengalaman yang sama meski kita baru saling berjumpa untuk pertama kalinya saat ini di tempat ini. Ternyata karya Allah sama di mana pun kita berada. Puji Tuhan. Dengan demikian, kita boleh tetap teguh dalam iman, harapan dan kasih demi persatuan dan pelayanan yang terbaik. Itu juga yang selama ini saya rindukan, upayakan, dan perjuangkan. Ternyata hal yang sama menjadi kerinduan, upaya dan perjuangan kita semua di mana kita berada.

Pemilik hak cipta: Aloys Budi Purnomo Pr

Saya juga mengatakan hal ini. Seandainya, pengalaman, gagasan, dan paradigma yang saya sampaikan ternyata ada hal yang baru dan bermanfaat. Itu juga puji Tuhan. Artinya, Roh Allah bekerja di antara kita. Namun semua yang baru dan baik itu bukan dari saya, melainkan melulu karya Roh Allah dalam kehidupan bersama. Semoga hal ini pun membuat kita tetap teguh dalam iman, harapan, dan kasih demi persatuan dan pelayanan yang terbaik di antara kita.

Sesudah itu, saya memberi arti teguh dalam iman, harapan, dan kasih demi persatuan dan pelayanan yang terbaik dengan menunjukkan “oleh-oleh” yang saya bawa dari Semarang untuk para hadirin terhormat yang datang dari berbagai tempat di penjuru Nusantara itu. “Oleh-oleh” itu adalah baby-saxophone saya, yang memang sengaja saya letakkan di atas meja dalam keadaan berserakan, satu lepas dari yang lain. Saya katakan kepada sidang yang mulia, bahwa dalam disposisi saksofon seperti itu, dia tidak akan pernah berfungsi dengan baik. Saksofon itu tercerai-berai dan tidak berfungsi sebagaimana seharusnya, apalagi memberikan keindahan dan sentuhan yang membangun kehidupan. Ia hanyalah benda yang tercerai-berai tanpa makna.

Pemilik hak cipta: Aloys Budi Purnomo Pr

Namun, bila komponen-komponen saksofon itu saya sambung, saya persatukan, saya hubungkan satu dengan lainnya sesuai dengan bagiannya masing-masing, muncullah keutuhan yang akan bermanfaat. Apalagi, dengan dihembusi nafas…. akan mengalunlah nada yang indah. Nafas…., dalam bahasa Indonesia sama dengan dalam bahasa Ibrani, yang berarti roh… dan Roh itu adalah Roh Allah sendiri yang memberi kehidupan sebagaimana diwartakan dalam Kitab Kejadian. Roh itu menguatkan dan menghidupkan. Roh itu membuat kita tetap teguh dalam iman, harapan, dan kasih demi persatuan dan pelayanan yang terbaik.

[Lalu, saya pun mulai memainkan saksofon itu dengan lagu Amazing Grace seperti biasanya, yang menjadi lagu utama dalam kehidupan saya, sebab hidup adalah rahmat yang mengagumkan, apalagi saat kuhayati bahwa tiada rahmat yang mengagumkan bagiku selain Yesus Kristus.]

Pemilik hak cipta: Aloys Budi Purnomo Pr

Sesudah itu, saya mulai mengatakan, bahwa Roh yang dihembuskan Allah dan memberi hidup itu, adalah Roh yang sama telah menjadi kekuatan Yesus Kristus, SangAmazing Grace itu. Maka Yesus bersabda, “Roh Tuhan ada pada-Ku, oleh sebab Ia telah mengurapi Aku, untuk menyampaikan kabar baik kepada orang-orang miskin, dan Ia telah mengutus Aku untuk memberitakan pembebasan kepada orang-orang tawanan, dan penglihatan bagi orang-orang buta, untuk membebaskan orang-orang yang tertindas, untuk memberitakan tahun rahmat Tuhan telah datang” (Lukas 4:18-19).

Namun kita membaca bahwa kutipan Lukas tersebut dalam konteks Sinoptik (Markus dan Mateus), sangatlah khas. Lukas menempatkan teks itu pada bagian awal, dan memberi judul perikop itu, “Yesus ditolak di Nazaret”. Artinya apa? Sejak awal, baru mau mulai, ternyata Yesus ditolak dan seakan-akan gagal sejak awal. Namun, kegagalan itu tidak membuat hancur. Penolakan itu tidak membuat habis. Yesus tetap teguh dalam iman, harapan dan kasih kepada Allah yang disebut-Nya Bapa, dan tetap berjuang untuk persatuan dan pelayanan bagi umat manusia; bahkan dengan kasih dan pengorbanan-Nya!

Roh yang sama menggerakkan Yesus untuk berdoa kepada Bapa-Nya. Seperti dicatat dalam Injil Yohanes 17:20-21 Yesus berdoa, “Ya Bapa, Aku berdoa, tetapi juga untuk orang-orang, yang percaya kepadaKu oleh pemberitaan mereka supaya mereka semua menjadi satu, sama seperti Engkau, ya Bapa, di dalam Aku dan Aku di dalam Engkau, agar mereka juga di dalam Kita, supaya dunia percaya, bahwa Engkaulah yang telah mengutus Aku.”

Bersarakan pengalaman membaca teks-teks tersebut, saya pun menegaskan pentignya untuk tetap teguh dalam iman, harapan dan terutama kasih demi persatuan dan pelayanan yang terbaik. Itulah dasar kita untuk melayani. Dunia kita saat ini sedang menjerit membutuhkan pemimpin yang melayani, bukan yang menindas; pemimpin yang menyembuhkan, bukan yang melukai; pemimpin yang menghidupi-menghidupkan bukan yang membinasakan. Siapa pun harus menjadi pemimpin yang mengulurkan tangan, merengkuh, merangkul dalam kehangatan kasih yang meneduhkan.

Pemilik hak cipta: Aloys Budi Purnomo Pr

Namun untuk itu, kita semua harus melakukan “the spiritual cebok“, yakni membersihkan diri dari setiap kotoran rohani, membebaskan diri dari rasa benci, dendam, amarah, dan kesumat; dan menggantinya dengan iman, harapan, dan kasih demi persatuan dan pelayanan yang terbaik.

Itulah hal-hal yang saya sampaikan di hadapan sidang yang mulia dan terhormat Dewan Pembina, Yayasan, dan Senator serta Pimpinan Universitas UKSW dalam momen gathering rekoleksi dan sharing. Sekali lagi, momen itu sungguh membuat diriku terharu-biru, apalagi saat medengarkan sharing dan tanggapan dari mereka. Dengan rasa haru, terima kasih, bersyukur, dan penuh pengharapan, para Ibu dan Bapak berbagi harapan melalui sharing itu. Satu hal yang saya tangkap: mereka pun siap untuk tetap teguh dalam iman, harapan dan kasih demi persatuan dan pelayanan yang terbaik di UKSW, untuk UKSW, dan bersama UKSW untuk umat dan masyarakat.

Karena rasa haru itulah, maka di akhir gathering itu, saat memberikan closing statement: saya mengatakan: bersatulah dalam kegentingan, merdekalah dalam keraguan, dan di atas segalanya, utamakanlah cinta kasih dalam segala hal. Dengan itu diharapkan, peradaban kasih pun dapat diwujudkan. Saya menutup gathering dengan memperkenalkan “Salam tertawa”. Ayo kita tertawa, jangan bermuka muram durja. Kita harus menjadi putri-putra Bapa yang bahagia demi sukacita Injil. Salam tertawa….. hahahahaha. Salam tertawa…. hahaha. Saam tertawa… hahaha..

Sesudah itu, Pak Pendeta Bambang yang memandu jalannya sesi saya itu mengajak kami semua untuk sekali lagi menyanyikan lagu Amazing Grace bersama-sama. Saya kian terharu-biru menyanyikan kembali lagu itu bersama para hamba Tuhan yang penuh semangat dalam pelayanan dan pengabdian kepada umat dan masyarakat melalui dunia pendidikan itu.

Selesai acara, saya pun diantar pulang ke Semarang oleh Mas Tomo. Sesampai di Semarang, saya buka dan baca ada pesan dari salah seorang Ibu, yang menjadi anggota sidang terhormat dalam gathering tersebut. Inilah pesan beliau yang kian membuatku terharu.

“Terima kasih sekali Romo Aloys atas percikan pencerahan dan arahan dalam refleksi yang sangat menyentuh. Matur nuwun. Berkah Dalem. … Kapan nanti saya ingin mengudang Romo memberikan pencerahan di Fak Biologi ya. Bagus banget ketika semua disadarkan (untuk tetap teguh dalam iman, harapan, dan kasih demi persatuan dan pelayanan yang terbaik). Romo bersedia ya?”

Atas ucapan terima kasih dan undangan itu, saya hanya mengatakan, bila memang Tuhan berkenan, terjadilah!

Demikian, semoga bermanfaat. Maaf, agak panjang. Namun begitulah semoga ada kedalaman mutu hidup rohani yang juga bermanfaat bagi kita untuk tetap teguh dalam iman, harapan dan kasih – apa pun agama dan kepercayaan kita – demi persatuan dan pelayanan yang terbaik. Terima kasih. Tuhan memberkati.***

Johar Wurlirang – UKSW Salatiga – Kampus Ungu Unika Semarang, 23/3/2018

Sumber: refleksi pribadi berdasarkan sharing pengalaman di UKSW (22/3/2018)

Sumber
https://idstory.ucnews.ucweb.com/story/1847949499672391?uc_param_str=dnvebifrmintcpwidsudsvnwpflameefutch&url_from=wmconstomerwebsite&stat_entry=personal&comment_stat=1

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.