Inspiration

Biarkanlah hidup kita diambil, diberkati, dipecah-pecah dan dibagikan

Sahabat Peradaban Kasih UC News yang terkasih, ijinkan daku berbagi refleksi pengalaman rohani tentang makna “diambil, diberkati, dipecah-pecah dan dibagikan”. Semoga menginspirasi kita dalam menghayati hidup ini dalam kebersamaan dengan siapa saja dan di mana saja. Seperti apakah itu?

Referensi pihak ketiga

Biarkanlah hidup kita “diambil, diberkati, dipecah-pecah dan dibagikan” untuk kebaikan semakin banyak orang. Rumusan “diambil, diberkati, dipecah-pecah dan dibagikan” bila dibahasakan secara positif menjadi seperti ini: biarkanlah Tuhan mengambil, memberkati, memecah-mecahkannya lalu membagikannya untuk kebaikan hidup bersama.

Tentunya, rumusan itu lebih bermakna simbolik rohani, meski juga terjadi di dalam kenyataan insani. Di samping bermakna surgawi, frasa itu juga bermakna duniawi. Tidak dipisahkan antara yang insani dan rohani, yang duniawi dan surgawi; dalam arti bahwa yang insani dijadikan rohani, yang duniawi diarahkan kepada yang surgawi. Ada yang disebut ekstrapolasi ilahi di dalamnya.

Referensi pihak ketiga

Mari kita ambil contoh ini. Dua ribu tahun yang lalu, Yesus mengambil roti, mengucap berkat dan syukur atas roti itu, memecah-mecahkannya dan kemudian membagi-bagikannya kepada para murid-Nya. Saat mengambil, memberkati, memecah-mecah dan membagikan roti itu, Yesus berkata, “Terimalah dan makanlah. Inilah Tubuh-Ku, yang diserahkan bagimu.”

Hal yang sama dilakukan saat Yesus mengambil piala berisi anggur. Ia mengucap syukur, lalu memberikan piala itu kepada murid-murid-Nya seraya berkata, “Terimalah dan minumlah. Inilah piala darah-Ku. Darah perjanjian baru dan kekal, yang ditumpahkan bagimu dan bagi semua orang demi pengampunan dosa. Lakukanlah ini untuk mengenangkan daku.”

Dengan menggunakan hal-hal yang bersifat insani dan duniawi itu, yakni roti dan anggur, Yesus menyatakan suatu realitas rohani dan surgawi atas kehidupan-Nya sendiri. Ia diambil dan dipilih, diberkati, dibunuh (dipecah-pecah) dan diberikan sebagai tanda keselamatan dan kesejahteraan. Maka, roti dan anggur itu hingga saat ini menjadi tanda dan sarana mengenangkan perjalanan hidup-Nya yang menderita, sengsara, wafat dan bangkit demi keselamatan umat manusia dan semesta alam.

Referensi pihak ketiga

Itulah sebabnya, setiap kali Umat Katolik merayakan Perjamuan Ekaristi, Umat Katolik mengenang dan menghadirkan karya penebusan itu dengan harapan agar hidupnya pun diambil, diberkati, dipecah-pecah dalam segala pengorbanan dan bermanfaat (=dibagikan) dalam kehidupan bersama. Itulah yang dikenang secara istimewa pada hari Kamis Putih di seluruh dunia, yakni kenangan akan Perjamuan Malam Terakhir, yang terus-menerus dilakukan hingga akhir zaman.

Bagi kita semua, apa pun agamanya, setiap pilihan kita untuk melakukan kebaikan, akan menjadi tanda syukur dan berkat. Kita mengalami banyak perjuangan dan pengorbanan laksana roti yang dipecah. Namun kemudian dibagikan dan bermanfaat bagi kehidupan bersama. Di sana pula terletak makna – salah satunya – peradaban kasih yang hendak kita wujudkan melalui hidup yang damai, rukun dan bersaudara.

Demikian, semoga bermanfaat dan menjadi berkat. Terima kasih. Salam peradaban kasih. Tuhan memberkati.***

Johar Wurlirang, Kamis Putih 2018.

Sumber: refleksi pribadi.

Sumber
https://idstory.ucnews.ucweb.com/story/1238683058102965?uc_param_str=dnvebifrmintcpwidsudsvnwpflameefutch&url_from=wmconstomerwebsite&stat_entry=personal&comment_stat=1

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.