Inspiration

Imamat Itu Laksana Tangga!

Sahabat Peradaban Kasih UC We-Media yang terkasih, setiap tahun menjelang Hari Jumat Agung, kami para pastor dalam tradisi Gereja Katolik menyelenggarakan rekoleksi untuk persiapan pembaruan janji imamat kami. Sedikitnya sekitar 270 pastor se-Keuskupan Agung Semarang menjalani rekoleksi di Griya Asisi Bandungan bersama Bapak Julius Kardinal Darmaatmadja SJ dan Bapak Uskup Agung Semarang (Senin-Selasa 26-27/3/2018).

Referensi pihak ketiga

Rekoleksi kali ini menggunakan bahan dari buku Mgr. Fulton J. Sheen (1895-1979), yang berjudul Imam Bukan Miliknya Sendiri. Saya terkesan dengan bagian dari buku itu yang diberi sub judul “Imam Bagaikan Tangga Yakub”! Terinspirasi dari sub judul itu, saya merenungkan dan menulis refleksi ini dengan judul “Imamat Itu Laksana Tangga!” Apa maksudnya?

Pertama, saya kutipkan yang ditulis oleh Mgr. Fulton J. Sheen. Beliau menulis sebagai berikut.

“Setiap imam mengetahui bahwa dirinya, melalui pilihan ilahi, menjadi perantara antara Allah dan manusia, membawa Allah kepada manusia dan manusia kepada Allah.” (halaman 35).

Dalam tradisi Katolik, setiap imam/pastor mengacu pada kehidupan Yesus Kristus sebagai Sang Imam Agung. Santo Thomas Aquinas menyebut Yesus Kristus sebagai fons totius sacerdotii (bahasa Latin: sumber semua imam).

Referensi pihak ketiga

Berdasarkan refleksi Santo Thomas Aquinas itu, Mgr. Fulton mengatakan bahwa sebagai pelayan-pelayan Yesus Kristus, kekuatan para imam bergantung kepada-Nya laksana sinar cahaya bergantung kepada Matahari. Namun demikian, para imam juga tetap terikat untuk memberikan pelayanan kepada sesamanya.

Sebagai pelayan Allah dan sebagai pelayan sesama, seorang imam laksana tangga. Tangga itu hendak menggambarkan secara sederhana tanda imamat Yesus Kristus sendiri yang menjadi acuan imamat para pastor.

Referensi pihak ketiga

Yesus Kristus, melalui sengsara, wafat dan kebangkitan-Nya telah menghubungkan bumi dan surga. Tangga itu didirikan di atas bumi sebagai salib. Tangga itu menjulang mencapai surga melalui kebangkitan dan kenaikanNya ke surga. Para imam bertugas membawa kurban-kurban dan doa-doa dari bumi ke surga, dan membawa berkat dari surga ke bumi.

Begitulah, spiritualitas imamat digali dan dihayati laksana tangga. Dan dengan tangga itu, diharapkan setiap imam, dengan segala kelemahan dan keterbatasannya sebagai manusia, dipanggil dan diutus untuk membawa persembahan yang harum bagi Allah Yang Maha Kuasa, Maha Kasih dan Maha Rahim.

Referensi pihak ketiga

Saya bersyukur boleh mengikuti rekoleksi ini, yang diinspirasi oleh Romo Subali Pr dan Romo Agustinus Suryo Nugroho Pr sebagai narasumber. Semoga rahmat imamat yang dianugerahkan kepada kami dapat kami hayati sebagai tangga yang menghubungkan bumi dan surga, surga dan bumi melalui doa dan kurban persembahan kami.

Saya yang baru dua puluh dua tahun menjalani dan menghayati rahmat imamat ini, terus berdoa agar tetap dianugerahi kerendahan hati dan kesetiaan menjalankan panggilan dan tugas perutusan ini. Semoga boleh menggapai kehidupan sacerdos in aeternum (imam dalam keabadian) dalam spirit victima in aeternum (Kurban keabadian) demi keselamatan hidup bersama yang ditandai oleh perdamaian, kerukunan dan persaudaraan sejati dengan siapa saja.

Semoga karenanya pula, peradaban kasih bagi masyarakat yang sejahtera, bermartabat dan beriman, apa pun agama dan kepercayaan kita, dapat kian diwujudkan. Terima kasih. Semoga sharing ini bermanfaat. Tuhan memberkati.***

Griya Asisi Bandungan, 26/3/2018

Sumber: refleksi pribadi berdasarkan Fulton J. Sheen, Imam Bukan Miliknya Sendiri (1963)

Sumber
https://idstory.ucnews.ucweb.com/story/996316807997726?uc_param_str=dnvebifrmintcpwidsudsvnwpflameefutch&url_from=wmconstomerwebsite&stat_entry=personal&comment_stat=1

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.