Inspiration

Iman Dan Kasih Dibuktikan Dalam Perbuatan, Bagaimana Caranya?

Sahabat Peradaban Kasih UC We-Media yang terkasih, dalam Misa Pembaruan Janji Imamat dan Pemberkatan Minyak Suci untuk Katekumen, Orang Sakit dan Krisma di Gereja Katedral Semarang (27/3/2018), Mgr. Dr. Robertus Rubiyatmoko, Uskup Agung Semarang, menegaskan bahwa iman dan kasih itu dibuktikan dalam perbuatan. Sebagai salah satu imam yang turut dalam perayaan tersebut, tentu saja, saya sangat setuju dengan penegasan itu. Bagaimana dengan Anda? Mengapa?

Referensi pihak ketiga

Iman dan kasih dibuktikan dalam perbuatan. Inilah tuntutan yang tak bisa ditawar. Sebetulnya, nasihat ini sudah disampaikan oleh Santo Yakobus dalam surat yang ditulisnya kepada jemaat pada zamannya dan masih berlaku pula bagi umat Kristiani pada saat ini. Inilah yang ditulis oleh Santo Yakobus.

“Apakah gunanya, saudara-saudaraku, jika seorang mengatakan, bahwa ia mempunyai iman, padahal ia tidak mempunyai perbuatan? Dapatkah iman itu menyelamatkan dia? Jika seorang saudara atau saudari tidak mempunyai pakaian dan kekurangan makanan sehari-hari, dan seorang dari antara kamu berkata: Selamat jalan, kenakanlah kain panas dan makanlah sampai kenyang, tetapi ia tidak memberikan kepadanya apa yang perlu bagi tubuhnya, apakah gunanya itu? Demikian juga halnya dengan iman: Jika iman itu tidak disertai perbuatan, maka iman itu pada hakekatnya adalah mati. Tetapi mungkin ada orang berkata: Padamu ada iman dan padaku ada perbuatan, aku akan menjawab dia: Tunjukkanlah kepadaku imanmu itu tanpa perbuatan, dan aku akan menunjukkan kepadamu imanku dari perbuatan-perbuatanku. Engkau percaya, bahwa hanya ada satu Allah saja? Itu baik! Tetapi setan-setanpun juga percaya akan hal itu dan mereka gemetar. Hai manusia yang bebal, maukah engkau mengakui sekarang, bahwa iman tanpa perbuatan adalah iman yang kosong? Kamu lihat, bahwa iman bekerjasama dengan perbuatan-perbuatan dan oleh perbuatan-perbuatan itu iman menjadi sempurna. Jadi kamu lihat, bahwa manusia dibenarkan karena perbuatan-perbuatannya dan bukan hanya karena iman. Sebab seperti tubuh tanpa roh adalah mati, demikian jugalah iman tanpa perbuatan-perbuatan adalah mati.” (Yakobus 2:14-20,22,24,26)

Bagaimana iman dan kasih diwujudkan? Tentang iman yang diwujudkan dalam perbuatan, yang ditulis oleh Santo Yakobus sangat jelas. Bahkan iman tanpa perbuatan itu mati dan kosong.

Referensi pihak ketiga

Lalu bagaimana kasih diwujudkan? Untuk menjawab pertanyaan ini, kita meminjam sabda yang disampaikan Yesus kepada para murid-Nya. Kasih diwujudkan justru saat kita mampu mengasihi musuh. Beginilah sabda yang disampaikan Yesus.

“Kamu telah mendengar firman: Kasihilah sesamamu manusia dan bencilah musuhmu. Tetapi Aku berkata kepadamu: Kasihilah musuhmu dan berdoalah bagi mereka yang menganiaya kamu. Karena dengan demikianlah kamu menjadi anak-anak Bapamu yang di sorga, yang menerbitkan matahari bagi orang yang jahat dan orang yang baik dan menurunkan hujan bagi orang yang benar dan orang yang tidak benar. Apabila kamu mengasihi orang yang mengasihi kamu, apakah upahmu? … Dan apabila kamu hanya memberi salam kepada saudara-saudaramu saja, apakah lebihnya dari pada perbuatan orang lain? Bukankah orang yang tidak mengenal Allahpun berbuat demikian? Karena itu haruslah kamu sempurna, sama seperti Bapamu yang di sorga adalah sempurna.” (Mateus 5:43-48)

Berdasarkan kutipan-kutipan itu, Mgr. Robertus berkata: Kasihilah musuhmu dan berdoalah bagi yang menganiaya kamu. Gampang apa sulit? (Umat menjawab serempak: Suliiit..) Memang, tidak mudah, namun harus dilakukan. Kalau kita sudah mampu mengasihi orang yang memusuhi saya dan mendoakan dia, ini adalah bukti bahwa kita beriman dan memiliki kasih. Iman dan kasih diwujudkan dalam perbuatan baik kepada siapa saja, bahkan kepada orang yang membenci, memusuhi dan menganiaya kita.

Apakah kita mempunyai iman yang nyata dan dibuktikan dengan mengasihi musuh? Kita harus terus-menerus mengasihi tanpa henti. Konsiten mengasihi dengan totalitas dan ketulusan. Kita harus konsekuen dan konsisten mengasihi mulai dalam keluarga, masyarakat, komunitas dari waktu ke waktu. Meski dibenci, dimusuhi, ditolak, tetap konsekuen dan konsisten mengasihi dan mendoakan mereka. 

Referensi pihak ketiga

Yesus tidak hanya mengajarkan agar kita mengasihi musuh. Ia sendiri sudah memberi contoh kepada kita. Bahkan, Yesus mendoakan orang-orang yang menyalibkanNya dengan berkata, “Ya Allah ampunilah mereka, sebab mereka tidak tahu apa yang mereka lakukan!”

Mendengarkan homili tersebut, saya pun merenungkannya seperti ini. Sesungguhnya, kita pun, apa pun agama dan kepercayaan kita, juga diajak untuk mewujudkan iman dan kasih dalam perbuatan. Sanggupkah kita melakukannya? Mari kita saling mendoakan agar kita mampu melakukannya dalam kehidupan kita. Dengan demikian, peradaban kasih pun kian terwujud dalam kehidupan kita bersama.

Terima kasih. Salam peradaban kasih. Tuhan memberkati.***

Johar Wurlirang, 27/3/2018

Sumber: refleksi pribadi berdasarkan homili Mgr. Dr. Robertus Rubiyatmoko dan bacaan-bacaan yang diwartakan dalam Misa Pembaruan Janji Imamat dan Pemberkatan Minyak Sakramen di Gereja Katedral Semarang (27/3/2018, pukul 17.00 – 19.00 WIB).

Sumber
https://idstory.ucnews.ucweb.com/story/2846648434471052?uc_param_str=dnvebifrmintcpwidsudsvnwpflameefutch&url_from=wmconstomerwebsite&stat_entry=personal&comment_stat=1

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.