Inspiration

Inspirasi Indahnya Persaudaraan Dalam Keberagaman, Laksana Buah Anggur Yang Diperas

Sahabat Peradaban Kasih UC We-Media yang terkasih, kadang kita menjadi sedih, sangat sedih, menyaksikan adanya konflik, perpecahan, perang, dan tindakan-tindakan intoleran dalam bentuk apa pun. Itu membuat kita tak lagi percaya bahwa bisa dibangun suatu persaudaraan dan kebersamaan yang damai. Benarkah demikian?

Referensi pihak ketiga

Saya tidak percaya dengan pesimisme itu. Memang, kita mengalami bahwa hidup ini seakan-akan seperti gelas yang berisi adonan kekerasan, konflik, perpecahan, dan tindakan-tindakan yang memecah belah. Namun, mari kita lihat inspirasi indahnya persaudaraan dalam keberagaman yang manis dan lezat dalam kehidupan kita.

Referensi pihak ketiga

Indahnya persaudaraan dalam keberagaman perlu terus-menerus dihadirkan, dijaga, dan dirawat bahkan diperkembangkan dari hari ke hari. Ia laksana buah anggur yang diperas dan akan menghasilkan minuman yang lezat dan manis, tanpa harus menjadi minuman keras yang memabukkan, tapi laksana juice yang segar.

Referensi pihak ketiga

Kata-kata yang disampaikan oleh Romo Henri J.M Nouwen dalam Bread of the Journey, A Daybreak of the Wisdom and Faith (New York: 1996), tiba-tiba menggema dalam hati saya, ketika saya merenungkan tentang inspirasi kebangkitan persaudaraan yang laksana buah anggur yang diperas.

“Kita membutuhkan sahabat yang mengingatkan kita bahwa buah anggur yang diperas dapat menghasilkan anggur yang lezat. Mungkin amat berat bagi kita unutk percaya bahwa dari kesusahan dapat muncul kegembiraan. Namun, kalau kita mulai melangkah sesuai dengan nasihat yang diberikan oleh sahabat kita, juga kalau kita belum bisa merasakan kebenaran nasihat itu, kegembiraan yang hilang dapat ditemukan kembali dan kita dapat menanggung kesusahan kita.”

Nasihat Romo Henri J.M Nouwen itu dalam arti tertentu, dapat kita terapkan dalam konteks damba, harapan, dan kerinduan akan indahnya semangat persaudaraan, perdamaian dan kerukunan dalam kehidupan kita. Minimal, nasihat itu meneguhkan saya dalam kerinduan akan indahnya persaudaraan, persahabatan, kerukunan dan perdamaian dalam kehidupan kita bersama. Bagaimana dengan Anda? Apakah juga menemukan pengalaman yang serupa seperti yang saya temukan?

Referensi pihak ketiga

Dalam bingkai nasihat itu, saya belajar melihat bahwa hal-hal yang tidak sesuai dengan harapan kita, yakni konflik, kekerasan, tindakan-tindakan intoleran, kebencian, dan perpecahan, membuat kita mengalami seperti buah anggur yang sedang digilas, diremuk dan diperas. Namun, dari proses itu, akan tercipta dan terhidangkan sebuah minuman yang lezat, bahkan – sekali lagi – tanpa harus dengan campuran-campuran alkohol yang memabukkan.

Hidup yang berat, kadang ditandai kekerasan, konflik, ketegangan, kekecewaan itu bisa kita bayangkan laksana buah anggur yang sedang digilas, diremuk dan diperas untuk menjadi juice anggur yang lezat dan manis. Ditambah dengan sedikit es batu – bagi yang cocok – membuat suasana segar dan sejuk kian dapat dirasakan kelezatannya. Es batu itu adalah senyuman, sapaan, salam, yang saling dibagikan, sehingga persaudaraan dibangun dan dibangkitkan serta dihadirkan dalam kehidupan bersama.

Referensi pihak ketiga

Gambaran persaudaraan laksana anggur hanyalah salah satu saja. Kita bisa menggambarkannya laksana kopi pula, Kopi yang diremuk, digilas dan diperas, lalu diseduh dengan air panas, akan menjadi minuman yang menghangatkan bahkan menyehatkan dalam takaran tertentu. Kita juga bisa menggambarkannya laksana bahan-bahan bangunan yang saling menopang menjadi rumah bersama yang menebarkan kasih sayang persaudaraan.

Dengan gambaran apa saja, kita bisa menghadirkan kerinduan akan indahnya dan bangkitnya persaudaraan dalam kebersamaan. Yang jelas, tak seorang pun ingin hidup dalam kesedihan, kekecewaan, dan kebencian yang terus-menerus. Justru kesadaran terdalam setiap insan akan persaudaraan itulah yang harus terus-menerus digali, dikembangkan dan diwujudkan dalam kehidupan bersama.

Referensi pihak ketiga

Demikian, salam peradaban kasih bagi kita semua. Semoga bermanfaat. Kalau memang bermanfaat, terima kasih Anda berkenan membagikan artikel ini kepada sahabat-sahabat Anda. Komentar dan tanggapan Anda dalam rangka membangkitkan semangat persaudaraan di antara kita, tentu akan sangat berharga, bukan hanya bagi saya, melainkan bagi siapa saja. Tuhan memberkati.***

Johar Wurlirang, 28/3/2018

Sumber: refleksi pribadi, diteguhkan oleh refleksi Henri J.M. Nouwen dalam bukunya yang berjudul Bread of the Journey, A Daybreak of the Wisdom and Faith (New York: 1996).

Sumber
https://idstory.ucnews.ucweb.com/story/1327127206236195?uc_param_str=dnvebifrmintcpwidsudsvnwpflameefutch&url_from=wmconstomerwebsite&stat_entry=personal&comment_stat=1

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.