Inspiration

Inspirasi Kehidupan Bersama Dengan Banyak Wajah Namun Dalam Keterbukaan Bukan Ketertutupan

Sahabat Peradaban Kasih UC We-Media yang terkasih, umat manusia yang tersebar di seluruh bumi ini, hadir dan memperkaya kehidupan bersama dengan banyak wajah. Itulah yang kita sebut keberagaman. Keberagaman bisa dalam bentuk budaya, bahasa, agama, ilmu pengetahuan, suku dan komunitas. Kita tidak bisa mengklaim diri kita, kelompok kita, ilmu kita, dan agama kita paling benar lantas menutup diri terhadap kehadiran yang lain.

Referensi pihak ketiga

“Oh, kita beda dengan mereka! Kita ini unik dan murni dalam pengembangan keilmuan kita. Jadi yang kalian buat atau yang mereka buat, ndak cocok dengan ilmu yang kita dalami!” Itu salah satu ungkapan yang saya dengar sebagai bagian dari refleksi Pameran Lukisan: Perdamaian Palestina, Kerukunan Kita (21-23/3/2018) yang lalu, dari rekan terdekat, tempat lokasi pameran lukisan, kreasi seni dan budaya digelar selama lima hari.

Pemilik hak cipta: Aloys Budi Purnomo Pr

Sementara itu, dari banyak kawan baru saya yang lain, yang hadir dan menikmati pameran lukisan, saya mendapatkan paradigma unik dan menarik yang dilandasi semangat keterbukaan, bukan ketertutupan, inklusivisitas bukan eksklusivitas. Kawan-kawan baru itu datang dari tempat yang lumayan jauh dari lokasi penyelenggaraan pameran. Beberapa komentar mereka bisa saya rangkum sebagai berikut.

Pemilik hak cipta: Aloys Budi Purnomo Pr

“Hmmm, begini, kalau kami justru ingin banyak belajar dari realitas yang ada. Maka kami datang ke sini. Pameran ini menjadi sebentuk kreativitas yang unik sejauh kami baca di koran baik cetak maupun online. Maka, kami tergerak untuk melihat dari dekat, seperti apa persisnya. Kok bisa, pameran lukisan disinergikan dengan kreasi seni, budaya, pembacaan puisi, musik, audio-visual, tarian, bahkan instalasi perdamaian dengan media sketsa. Esensi dasar ilmu kita sama. Konsep dasarnya adalah seni komunikasi dan kreativitas, entah berbasis art, entah berbasis multimedia, entah berbasis apa pun, DKV itu hakikatnya satu ilmu dengan banyak wajah yang menyentuh aspek kemanusiaan (humanitate). Ilmu yang didalami di DKV itu mengajak kita untuk mempelajari konsep komunikasi dan ungkapan kreatif, teknik dan media dengan memanfaatkan elemen-elemen visual ataupun rupa untuk menyampaikan pesan untuk tujuan tertentu, yakni mengolah dan menyampaikan informasi ataupun persuasi yaitu mempengaruhi perilaku kehidupan manusia. Entah bersifat komersial entah bersifa spiritual edukatif, basisnya sama yakni manusia dan kemanusiaan. Maka, tidak boleh terjebak dalam dimensi komersial melulu, melainkan keterbukaan untuk melayani kehidupan yang juga ditandai oleh banyak wajah.”

Pemilik hak cipta: Aloys Budi Purnomo Pr

Begitulah kata beberapa orang dari komunitas DKV Udinus, yang jauh dari lokasi pameran, namun berbondong-bondong dan secara bergelombang datang menyaksikan pameran tersebut, bahkan termasuk dosennya (Pak Andang datang bersama istrinya) pun datang menikmati karya-karya yang dipamerkan. Saya yang semula belum dan tidak mengenal mereka pun, berkat perjumpaan itu menjadi saling kenal dan saya pun banyak belajar dari perjumpaan tersebut. Saya terhenyak menyimak setiap ungkapan yang mereka sampaikan dan itu membuka mata hati saya. Dalam hati aku hanya bilang, jawaban-jawaban itu penuh spirit Soegijapranata banget! DKV itu – dalam bahasa saya – talenta pro patria et humanitate banget! Tentu termasuk semua ilmu yang lain harus berbasis dan berspiritkan talenta pro patria et humanitate, sehingga tak bisa disekap oleh eksklusivisme atau sikap tertutup terhadap perbedaan.

Pemilik hak cipta: Aloys Budi Purnomo Pr

Kalimat-kalimat berikut kian membuat saya terhenyak.

“Apalagi, pameran ini tidak murni pameran lukisan, tetapi juga mengembangkan kreasi seni budaya audio-visual yang ada dan mungkin seadanya dalam rangka perdamaian dan kerukunan. Yang menarik dari sini adalah cara panitia mengolah pesan tersebut secara efektif, informatif dan komunikatif. Itu berspiritkan DKV banget! Banyak hal-hal mendasar yang dipelajari di program studi DKV. Misalnya, mengembangkan bentuk bahasa visual (bermain gambar), mengolah pesan (bermain kata) keduanya untuk tujuan sosial maupun komersial. Kita bergerak dari individu atau kelompok yang ditujukan kepada kelompok lainnya. Visual itu selalu berwajah kreatif dan inovatif, sedangkan inti pesan harus komunikatif, efisien dan efektif saling mendukung agar tersampaikan dengan baik pada sasaran. Nah, pameran lukisan Perdamaian Palestina, Kerukunan Kita ini pas banget dengan konsep-konsep dasar DKV. Makanya, kami bisa belajar banyak dari peristiwa konkret, tak hanya di bangku kelas atau laboratorium. Apalagi, di sini, kami berjumpa dengan banyak wajah, tak hanya karya, melainkan pribadi-pribadi yang unik dengan ekspresi masing-masing yang unik pula…!”

Pemilik hak cipta: Aloys Budi Purnomo Pr

Jujur saja, saya tak hanya terhenyak melainkan terperangah dalam keterpesonaan mendengar ungkapan-ungkapan yang disampaikan oleh rekan-rekan saya yang baru, dari DKV Udinus, yang hadir berkunjung ke pameran lukisan yang kami selenggarakan itu. Dialog-dialog secara sporadis yang kami buat dalam bentuk pertanyaan: Mengapa mereka mau datang jauh-jauh untuk melihat pameran itu? Ternyata, jawabannya tak melulu karena disuruh dosen dalam rangka tugas, melainkan juga membuka mata saya tentang apa itu DKV dalam kaitannya dengan isnpirasi kehidupan dengan banyak wajah.

Pemilik hak cipta: Aloys Budi Purnomo Pr

Sisi lain refleksi yang menginspirasi bahwa kehidupan itu berwajah banyak yang harus ditopang oleh sikap saling terbuka terpicu oleh rombongan adik-adik dari SMK Antonius dan SMK Teresiana. Mereka pun hadir melihat pameran lukisan berkelompok-kelompok. Mereka berinteraksi melalui media lukisan, menikmati nyanyian dan tarian, menikmati penampilan teater TAHU dan pembacaan puisi serta kreativitas OMK Kevikepan Semarang.

Pemilik hak cipta: Aloys Budi Purnomo Pr

Inspirasi kehidupan beragam ditandai dengan banyak wajah juga berkembang di hati saya ketika menerima, berdiskusi, menari, menyanyi dan berinteraksi dengan rekan-rekan PMII (Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia) Abdurrahman Wahid dari Universitas Islam Negeri Walisongo Semarang. Mereka datang di malam minggu (hari keempat) dengan musik hadroh. Dan mereka datang lagi saat penutupan dalam diskusi yang digelar untuk mendalami tema perdamaian dan kerukunan.

Saya pun merenungkan bahwa konsep tentang seni dan budaya yang dikemas secara kreatif dan manusiawi sesungguhnya menjadi sangat penting untuk memahami berbagai perwujudan kehidupan bersama yang beragam. Seni dan budaya dalam media apa pun, selalu mencakup seluruh kepenuhan kehidupan umat manusia yang beragam dengan banyak wajah. Kodrat dan hakikat seni dan budaya itu saling terkait erat satu terhadap yang lain. Di dalamnya terdapat rahmat dan berkat. Seni dan budaya adalah anugerah Tuhan yang membudaya dalam kemanusiaan dengan segala kelemahan dan keterbatasannya demi bela rasa dan solidaritas yang menyelamatkan umat manusia.

Pemilik hak cipta: Aloys Budi Purnomo Pr

Maka, keberagaman seni dan budaya dalam banyak wajah, termasuk kemanusiaan, bukanlah ancaman bagi kesatuan, melainkan justru kekuatan untuk menopang kehidupan bersama yang damai dan rukun dalam keberagaman. Kehidupan seni dan budaya itu tidak monokultur melainkan multikultur, tidak tunggal melainkan plural. Namun, yang multikultur dan plural itu, disatukan dalam kemanusiaan yang saling terbuka dan dalam kerelaan untuk saling bekerja sama.

Begitulah, inspirasi kehidupan dalam banyak wajah yang bisa kita hayati dalam keterbukaan, bukan ketertutupan. Semoga sharing dan refleksi ini juga menginspirasi Anda sesuai dengan panggilan dan perutusan Anda di mana pun berada. Terima kasih. Tuhan memberkati. Salam peradaban kasih.

Pastoran Johar Wurlirang – Kampus Ungu, 26/3/2018

Sumber:refleksi pribadi berdasarkan dinamika pameran lukisan Perdamaian Palestina, Kerukunan Kita (21-23/3/2018) di Pastoran Johar Wurlirang Semarang.

Sumber
https://idstory.ucnews.ucweb.com/story/4000022978707471?uc_param_str=dnvebifrmintcpwidsudsvnwpflameefutch&url_from=wmconstomerwebsite&stat_entry=personal&comment_stat=1

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.