Inspiration

Mereguk Kepedihan Demi Kebahagiaan, Mungkinkah?

Sahabat Peradaban Kasih UC News yang terkasih. Dua puluh tahun lalu, saya pernah merasa gagal total. Semuanya serba gelap. Segalanya serba suram. Hidup serasa mati dan terkubur hidup-hidup. Nafas menjadi sesak. Dalam dada berkecamuk gelisah dan resah. Saya merasa menjadi orang terburuk di dunia. Dalam pengalaman itu, aku belajar mereguk kepedihan demi kebahagiaan hingga saat ini. Kok bisa? Mungkinkah?

Referensi pihak ketiga

Selain berserah kepada Allah, saat itu saya menjumpai seseorang yang paling saya percaya, yang selalu melayani dalam kasih dan kerendahan hati. Saya berlutut di hadapannya, menangis; kepala saya terkulai di pangkuannya. Beliau hanya membelai kepalaku dengan cinta.

Referensi pihak ketiga

Saat itulah, saya membayangkan Yesus yang wafat dan dimakamkan. Luar biasa, mata saya terbuka dan mengalami kehadiran-Nya yang memeluk kegagalan dan kepedihan dengan cinta, bahkan membiarkan diri-Nya dihina, diolok-olok, dan disalibkan, mati dan dimakamkan.

Saat itu, bergemalah dalam batinku sabda kehidupan-Nya: Biji gandum harus mati agar bisa menghasilkan buah. Lalu saya ingat akan realitas bahwa buah anggur harus membusuk agar bisa berfermentasi dan menghasilkan anggur yang sedap. Di situlah secercah harapan membuncah. Saya pun diteguhkan dalam mereguk kepedihan, yang hingga saat ini berbuah kebahagiaan.

Referensi pihak ketiga

Saya beruntung dan bersyukur boleh mengalami peristiwa rohani itu. Hingga sekarang pengalaman itu menginspirasiku, tak hanya dalam rangka mereguk kepedihan demi kebahagiaan, tetapi juga untuk memahami makna Hari Sabtu Suci menjelang Paskah. Sesudah wafat, Yesus dimakamkan dalam keadaan remuk redam. Namun Ia dibangkitkan dari maut.

Ketika segalanya tampak habis, hancur, remuk redam bahkan membusuk; ternyata akan segera hadir warna kehidupan baru yang membuat kita dikuatkan dan diteguhkan menatap masa depan yang lebih cerah dan penuh berkah! Sebaliknya, peristiwa Yesus ini juga selalu menginspirasiku dalam mereguk kepedihan demi kebahagiaan.

Salam peradaban kasih. Terima kasih. Tuhan memberkati.***

Johar Wurlirang, Sabtu Suci 2018.

Sumber: refleksi pribadi.

Sumber
https://idstory.ucnews.ucweb.com/story/2173924836987912?uc_param_str=dnvebifrmintcpwidsudsvnwpflameefutch&url_from=wmconstomerwebsite&stat_entry=personal&comment_stat=1

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.