Inspiration

Pentingnya Optimisme Indonesia Jaya, Damai Dan Rukun; Bukan Pesimisme Indonesia Bubar

Sahabat Peradaban Kasih UC We-Media yang terkasih, terus terang, saya kaget dan sedih, saat membaca berita bahwa katanya, Indonesia kita tercinta ini akan bubar pada tahun 2030. Ya ampun. Bagaimana orang bisa memiliki pikiran yang seburuk itu dan sepesimis itu tentang bangsanya sendiri? Menurut Anda bagaimana?

Referensi pihak ketiga

Bagiku, pernyataan dan pikiran ini sungguh keterlaluan dan tidak masuk akal. Menurutku, itu sangat tidak masuk akal, bukan hanya karena akalku tak bisa masuk ke dalam akalnya, melainkan sungguh-sungguh tidak masuk akal dalam pemikiran yang sehat sebagai manusia biasa sekalipun. Mestinya, kita berpikir dan berjuang demi Indonesia jaya, bukan untuk Indonesia bubar!

Seorang yang berakal sehat paling sederhana pun, tak akan pernah berpikir bahwa bangsa yang sudah dibangun oleh para pendiri bangsa dengan curahan darah dan nyawa ini akan bubar begitu saja; kecuali dirusak oleh orang-orang yang tidak bertanggung jawab. Justru yang dirindukan adalah bagaimana kita bisa menjaga keutuhan bangsa ini sebagai bentuk sense of belonging kita terhadap bangsa kita tercinta Indonesia, atas dasar Pancasila, dalam kerangka Bhinneka Tunggal Ika dan Negara Kesatuan Republik Indonesia, atas landasan Undang-Undang Dasar 1945.

Referensi pihak ketiga

Untuk menjaga bangsa ini, marilah kita sadari bahwa perdamaian dan kerukunan tak hanya merupakan suatu kerinduan, melainkan harus menjadi kenyataan. Sejak mempersiapkan penyelenggaraan Pameran Lukisan bertema “Perdamaian Palestina, Kerukunan Kita” (21-25/3/2018), saya memiliki keyakinan ini. Inilah keyakinan itu: Perdamaian dan kerukunan itu tak hanya sekadar kerinduan, melainkan suatu keharusan yang dihayati dalam kenyataan. Apa maksudnya?

Terus terang, saya sering diganggu dan digelisahkan oleh tekad dan hasrat untuk mewujudkan perdamaian dan kerukunan bukan sekadar sebuah kerinduan, melainkan menjadi suatu keharusan yang diwujudnyatakan. Kegelisahan itu mewujud dalam tiga pertanyaan yang mengaduk-ngaduk lubuk jiwaku.

Referensi pihak ketiga

Bagaimana saya bisa menjadi saksi bahwa perdamaian dan kerukunan tak hanya suatu kerinduan melainkan sungguh menjadi kenyataan yang seharusnya ada dalam kehidupan bersama? Apa yang harus saya lakukan, upayakan, katakan, dan wartakan agar setiap orang berani mewujudkan kerinduan akan perdamaian dan kerukunan menjadi kenyataan? Cara apa yang bisa dipilih untuk merajut perdamaian dan kerukunan di tengah keberagaman yang merupakan hakikat realitas hidup kita?

Ketiga pertanyaan itu bisa dilanjutkan menjadi litani, dan Anda bisa menambahkan sendiri, apa pun yang bernada dasar harmoni untuk menggemakan melodi perdamaian dan kerukunan. Menurut Anda, apa saja pertanyaan yang memacu kita untuk berani mewujudnyatakan perdamaian dan kerukunan dalam kehidupan kita?

Referensi pihak ketiga

Silahkan menambahkan di kolom komentar, siapa tahu, para Sahabat peradaban kasih UC We-Media lain bisa menambahkan dan sekaligus menjawabnya pula? Dengan demikian, komentar-komentar yang muncul pun merupakan komentar-komentar yang dilandasi oleh kedewasaan iman, apa pun agama dan kepercayaan kita.

Alangkah indahnya hidup ini, bila kerinduan akan perdamaian dan kerukunan mendapatkan jawaban yang nyata dalam kehidupan bersama, juga melalui Anda. Dengan demikian, tidak dapat tidak bahwa kita menjadi saksi perdamaian dan kerukunan. Minimal, kerinduan itu kita katakan melalui ungkapan yang positif.

Referensi pihak ketiga

Maka, mari kita lawan pesimisme bahwa Indonesia akan bubar pada tahun 2030 dengan suatu pengharapan untuk selalu mewujudkan perdamaian dan kerukunan yang menjadi kerinduan orang-orang waras di negeri ini. Mari menjadi pribadi-pribadi yang waras dan berani mewujudkan perdamaian dan kerukunan dalam kehidupan kita sehari-hari.

Semoga Anda pun setuju dengan permenungan saya ini, yang juga sudah ditopang oleh berbagai macam upaya dan gerakan untuk selalu mewujudkan perdamaian dan kerukunan di mana pun kita berada. Salam peradaban kasih bagi kita. Terima kasih. Tuhan memberkati.***

Johar Wurlirang, 24/3/2018

Sumber: refleksi pribadi.

Sumber
https://idstory.ucnews.ucweb.com/story/1034153057716037?uc_param_str=dnvebifrmintcpwidsudsvnwpflameefutch&url_from=wmconstomerwebsite&stat_entry=personal&comment_stat=1

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.