Inspiration

Benar! Menjadi Jembatan Itu Tidak Nyaman, Lalu Harus Bagaimana?

Sahabat Peradaban Kasih UC News yang terkasih. Seorang sahabat memberikan reaksi dan pertanyaan inspiratif bagiku atas artikelku yang berjudul “Pesan Inspiratif Untuk Merangkul Kehidupan, Menjembatani Yang Berjauhan” (2018/04/04 10:37). Melalui “japri” dia bertanya: Romo, menjadi jembatan itu tidak nyaman loh, bagaimana menurut Romo?” Pertanyaan itu menginspirasiku untuk menulis artikel ini sebagai jawaban. Mungkin, pertanyaan serupa muncul pula dalam diri Anda. Inilah jawabanku.

Referensi pihak ketiga

Benar, menjadi jembatan itu tidak nyaman. Inilah ketidaknyamanannya. Seperti jembatan secara harafiah, jembatan itu dilewati. DIlewati atau dilalui berarti juga diinjak-injak, bahkan digilas kendaraan yang lewat. Bahkan, maaf, kadang-kadang diludahi juga.

Hal yang sama juga berlaku saat kita secara rohani maupun sosial-religius menjembatani yang berjauhan agar menjadi dekat; atau juga menjembatani yang bermusuhan agar berdamai. Tidak nyaman!

Referensi pihak ketiga

Ketidaknyamanan itu tak hanya berlaku secara fisik, melainkan juga secara mental dan spiritual. Tentu, pada awalnya ada rasa tidak enak. Bisa jadi, salah satu atau kedua belah pihak yang kita hubungkan dan pertemukan memiliki prasangka-prasangka buruk tertentu kepada kita. Muncul kecurigaan-kecurigaan tertentu, jangan-jangan kita memihak salah satu dan melawan pihak lain.

Dalam situasi seperti itu, sejauh saya mengalami selama ini, kunci yang harus kita pegang adalah kasih, kemerdekaan dan pemahaman. Kepada pihak-pihak yang kita jembatani, kita mengutamakan tiga sikap itu: kasih, kemerdekaan dan pemahaman. Rasa-perasaan tidak nyaman yang menimpa diri kita, mesti kita tanggung dalam kasih, kemerdekaan dan pemahaman. Kita tidak boleh larut dan turut terperosok ke dalam emosi-emosi sesaat yang bisa jadi meledak dan tersemprot kepada kita. Jangan pernah menganggap salah satu atau keduanya menjadi musuh kita, melainkan justru menjadi sahabat-sahabat yang dipersatukan dalam kasih, kemerdekaan dan pemahaman satu terhadap yang lain.

Referensi pihak ketiga

Di atas segalanya, biarlah Roh Kasih Tuhan sendiri hadir dan menyembuhkan semua pihak, bahkan diri kita yang pada saat tertentu merasa tidak nyaman. Karena itu, tetap dibutuhkan kerendahan hati dan mengampuni bila terjadi salah paham.

Itulah beberapa hal yang bisa kuberikan sebagai jawaba. Sekali lagi, benar, bahwa menjadi jembatan itu tidak nyaman. Namun jangan takut untuk mengalaminya. Dari pengalamanku, kita akan mengalami sukacita luar biasa saat bisa membangun perdamaian, pengampunan dan kerukunan, saat kita bisa dan rela menjadi jembatan seperti itu.

Demikian, semoga bermanfaat. Salam peradaban kasih. Terima kasih. Tuhan memberkati.***

JohArt Wurlirang, 4/4/2018.

Sumber: refleksi pribadi.

Sumber
https://idstory.ucnews.ucweb.com/story/2343246149858661?uc_param_str=dnvebifrmintcpwidsudsvnwpflameefutch&url_from=wmconstomerwebsite&stat_entry=personal&comment_stat=1

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.