Inspiration

Menakjubkan! Mereka Mengalami Stigmata Luka Derita Namun Bahagia

Sahabat Peradaban Kasih UC News yang terkasih. Dalam dialog tentang spiritualitas mistik Katolik dengan mahasiswi-mahasiswa Unwahas Semarang (Kamis, 5/5/2018), ada pertanyaan sulit yang diajukan oleh Mas Ibnu dan Mbak Evi, keduanya asal Purbalingga. Mas Ibnu bertanya tentang arti penghayatan spiritualitas dalam persatuan dengan Tuhan. Apa risikonya dan tandanya. Pertanyaan ini terkait pula dengan pertanyaan Evi tentang stigmata dan mukjizat inkoruptibilitas. Apa jawabanku?

Referensi pihak ketiga

Inilah jawabanku. Namun, artikel ini berisi jawaban atas pertanyaan Mas Ibnu dan pertanyaan Mbak Evi tentang sitgmata. Narasai tentang inkoruptibilitas akan saya narasikan tersendiri. Dalam spiritualitas mistik Katolik, persatuan dengan Tuhan merupakan pengalaman personal. Persatuan dengan Tuhan itu sampai-sampai membuat yang bersangkutan menerima anugerah stigmata. Apa itu stigmata?

Stigmata adalah anugerah tanda berupa luka-luka sengsara Yesus saat disalibkan. Luka-luka itu biasanya terjadi di tangan, kaki, lambung, kepala atau bahkan bilur-bilur di tubuh yang bersangkutan. Tanda luka-luka Yesus yang tersalib itu muncul secara tiba-tiba pada tubuh yang bersangkutan. Tanda itu bahkan bisa dilihat dengan mata, entah bersifa sementara maupun permanen.

Referensi pihak ketiga

Terhadap stigmata itu, Gereja Katolik pertama-tama berusaha memastikan bahwa luka-luka tersebut bukan berasal dari sebab-sebab alamiah (kpdrati). Harus dicari bukti adikodrati guna membuktikan bahwa stigmata tersebut sungguh merupakan suatu tanda dari Tuhan. Gereja juga memastikan bahwa tanda itu bukan rekayasa hanya demi kegemparan atau popularitas. Karenanya, biasanya, sang penerima stigmata justru bersembunyi dan merahasiakannya, hingga pada saat yang tepat terungkap secara bertanggungjawab. Stigmata yang benar harus dibuktikan secara medik, ilmiah dan akurat, bukan hanya dibuat-buat. Stigmata tidak pernah diminta, namun anugerah yang diterima dengan rendah hati.

Contoh sosok orang suci yang mendapatkan stigmata misalnya, St Fransiskus dari Assisi (1181-1226); St Katarina dari Sienna (1347-1380), dan St Padre Pio. Baik St. Katarina maupun Padre Pio bahkan sudah menerima tanda itu sejak masih kanak-kanak. Mereka semua mengalami persatuan dengan Tuhan dalam cara yang unik, hingga mereka harus mengalami yang paling dihindari manusia, yakni luka-luka dan penderitaan. Namun, luka-luka dan penderitaan itu tidak membuat mereka celaka, justru mereka mengalami kebahagiaan. Kebahagiaan itu tak hanya untuk diri mereka sendiri, melainkan juga demi kesejahteraan, kebahagiaan dan keselamatan sesama dan semesta.

Referensi pihak ketiga

Demikian, narasi jawaban yang saya berikan kepada Mas Ibnu dan Mbak Evi tentang persatuan dengan Tuhan dan stigmata yang terjadi. Bagiku, dua pertanyaan itu sudah sangat menakjubkan. Lebih menakjubkan lagi bahwa ada para mistikus Katolik yang menerima anugerah stigmata, dengan luka dan derita, namun mereka tetap bahagia!

Semoga bermanfaat. Salam peradaban kasih. Terima kasih. Tuhan memberkati.***

JohArt Wurlirang, 6/4/2018.

Sumber: refleksi pribadi atas pertanyaan Mas Ibnu dan Mbak Evi, peserta silaturahmi tentang spiritualitas mistik Katolik di Pastoran JohArt Wurlirang (Kamis, 5/4/2018). Acuan tentang stigmata diperkaya oleh inspirasi yesaya.indocell.net.

Sumber
https://idstory.ucnews.ucweb.com/story/4042050144425095?uc_param_str=dnvebifrmintcpwidsudsvnwpflameefutch&url_from=wmconstomerwebsite&stat_entry=personal&comment_stat=1

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.