Inspiration

Resep Melawan Hoax, Berhenti Bergosip, Gigitlah Lidahmu, Berani Mencoba?

Sahabat Peradaban Kasih UC News yang terkasih. Belakangan ini di mana-mana dilakukan deklarasi melawan hoax. Dari orang muda, mahasiswa, tokoh masyarakat hingga tokoh agama, menyerukan deklarasi anti hoax (sebagaimana dilansir news.detik.com/berita, Minggu 25 Maret 2018, 12:30 WIB). Menurutku, ini gerakan yang bagus dan patut didukung. Pertanyaannya, bagaimana kita sendiri secara pribadi bisa melawan hoax? Apa resepnya?

Sumber: Metrobatam.com

Pertama, mari kita sadari bahwa sumber dan penyebar hoax (berita bohong) itu sesungguhnya menabur perpecahan dan perselisihan. Itu adalah penyakit yang bisa menyerang siapa saja. Maka, jangan sampai kita terpagut penyakit itu!

Kedua, hoax itu setara dengan gosip. Ah, saya jadi teringat homili Paus Fransiskus (4/9/2015 di Vatikan), bahwa orang yang gemar bergosip itu sama seperti teroris yang melempar bom. Penyebar hoax/gosip bahkan lebih buruk dari seorang pelaku bom bunuh diri sebab penggosip itu melebar hoax/gosip lalu lari bersembunyi dan melulu menjadi orang lain sebagai korban. Janganlah kita terperangkap menjadi pelakunya.

Sumber: Arah.com

Ketiga, hoax/gosip terucap dengan lidah, tertulis dan terkirim dengan jemari, bahkan dengan medsos dan teknologi. Maka, untuk mengatasi godaan menyebar gosip, pertama-tama, gigitlah lidahmu! Begitu kata Paus Fransiskus (idem). Penyebar hoax/penggosip melempar bom lalu melarikan diri dan menghancurkan dengan lidahnya. Kutambahkan di sini, kendalikanlah jemarimu dan perangkat gadget serta teknologimu agar tidak menjadi sumber hoax/gosip.

Keempat, setiap saat, bisa saja kita tergoda mengatakan sesuatu yang menabur hoax/gosip sumber perselisihan dan perpecahan, atau untuk mengatakan hal-hal buruk tentang orang lain. Alih-alih menyebarkan hoax/gosip, kita dipanggil untuk menjadi penabur perdamaian dan kerukunan. Itu bisa dimulai dari diri sendiri, keluarga, dan masyarakat.

Sumber: WordPress.com

Itulah cara kita bisa menangkal hoax/gosip secara personal. Itu juga resep yang bisa kita gunakan. Beranikah kita mencobanya? Semoga dengan itu, peradaban kasih kian terwujud di antara kita. Terima kasih. Tuhan memberkati.***

Kampus Ungu Unika Soegijapranata, 4/4/2018.

Sumber: refleksi pribadi berdasarkan homili Paus Fransiskus dalam Misa di Kapel Santa Marta Vatikan, tanggal 4 September 2015. (zenit.org).

Sumber
https://idstory.ucnews.ucweb.com/story/3085473823811689?uc_param_str=dnvebifrmintcpwidsudsvnwpflameefutch&url_from=wmconstomerwebsite&stat_entry=personal&comment_stat=1

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.