Inspiration

Keren! Bila Bisa Memperkembangnya, Mengapa Harus Membunuhnya? Inspirasi Jurnalistik

Kalau kita bisa menjaganya, mengapa harus merusak dan menghancurkannya? Bila kita bisa memulai hal yang baik, mengapa harus menghentikannya? Itulah kesimpulan yang kurenungkan dari perjumpaan kami dalam rekoleksi di Pertapaan Rawaseneng, Temanggung (Sabtu-Minggu, 7-8/4/2018) yang lalu bersama rekan-rekan yang terlibat dalam karya kerasulan jurnalistik. Bagaimana ceritanya?

Referensi pihak ketiga

Kami bertujuh, pribadi-pribadi yang selama ini terlibat aktif dalam karya kerasulan jurnalistik INSPIRASI, Lentera yang Membebaskan, mengadakan rekoleksi di Pertapaan Rawaseneng, Temanggung. Karya kerasulan jurnalistik ini lahir dari tekad dan komitmen untuk mewartakan kebaikan, perdamaian, kerukunan, dan keutuhan ciptaan. Pertama kali kami memulainya adalah sekitar empat belas tahun yang lalu, tepatnya Agustus 2004 untuk kelahiran perdana karya kami di September 2004.

Dalam empat belas tahun, dinamika perjalanan bergerak naik turun, bertahan, berkembang, kadang pasang naik, kadang surut. Namun, komitmen tetap dijaga, sebab itulah yang utama. Karya kerasulan jurnalistik non-profit-oriented menjadi cita-cita yang terus bisa dijaga hingga empat belas tahun kemudian. Ada yang masuk, ada yang keluar. Ada yang datang, ada yang pergi. Yang tetap bertahan merupakan tanda kesetiaan dan ketekunan pada komitmen yang dibentangkan. Yang pergi pun masih tetap menjaga relasi dalam semangat kekeluargaan dan persaudaraan.

Referensi pihak ketiga

Setiap bulan, selalu lahir semacam anak jurnalisme yang diterbitkan secara konsisten. Bahkan, anak-anak jurnalisme itu tak hanya satu macam, melainkan berbagai macam, mulai dari bacaan, hingga nyanyian; mulai dari karya penerbitan hingga karya pergerakan kemanusiaan, kerukunan, dan keutuhan ciptaan. Ada saat-saat puncak, ada saat-saat lembah. Lebih sering sehat dan kuat, sesekali diserang sakit-penyakit dalam berbagai bentuknya, misalnya kejenuhan, kemalasan, dan keterlambatan.

Yang lebih krusial adalah ketika sedang sesekali menderita sakit. Ibarat manusia, INSPIRASI, Lentera yang Membebaskan tak hanya lahir sebagai anak, melainkan juga bertumbuh laksana ibu yang memberi kehidupan kepada siapa saja yang bersandar kepadanya; kendati bukan penjamin kesejahteraan. Dan di kala laksana ibu itu sedang sakit, tentu, jalan terbaik adalah mencari cara untuk mengobatinya dan menyembuhkannya; bukan justru lalu mencekik dan membunuhnya – oh betapa sadisnya bila itu terjadi! Itu perumpamaan yang bisa kubayangkan (sambil bercucuran air mata dukacita, semoga diubah menjadi air mata sukacita).

Referensi pihak ketiga

Laksana kehidupan yang harus dilindungi, dibela, dijaga, dan dihormati keberadaannya, tak seorang pun boleh dan berhak menghabisinya, juga kendati sakit dan tua renta; demikianlah komitmen dan kesetiaan pada karya kerasulan jurnalistik, apa pun bentuknya. Prinsip inilah yang selama ini kuhayati dan kuhidupi, juga dalam perkara-perkara mewartakan kebaikan, kerukunan, perdamaian dan keutuhan ciptaan. Selalu ada pengharapan di tengah tantangan dan kesulitan.

Terima kasih kepada rekan-rekanku yang laksana keluarga besar, telah saling menjaga, memperkembangkan, dan melindungi karya kerasulan jurnalistik ini; hingga masih tetap bertahan meski di tempa gelombang tantangan dan dahsyatnya inovasi disruptif yang seakan-akan menepikan segala hal yang berbau cetak, sebab segalanya tergoda untuk diukur secara online. Namun, kulihat dan kualami pula, sepakar-pakarnya para begawan inovasi disruptif yang berbasis serba online, toh, beliau-beliau masih juga menerbitkan karya-karya cetak yang bahkan menjadi best-seller. Ini sebuah pertanda bahwa yang bisa dipegang, diraba, dibawa, dan dibaca dalam bentuk cetakan toh akan tetap bertahan dan dibutuhkan di tengah gelombang arus zaman serba online di kehidupan kita. Selalu ada berjuta cahaya di tengah pekatnya kegelapan!

Referensi pihak ketiga

Demikian, sekadar catatan reflektif atas pengalaman rekoleksi di keheningan Pertapaan Rawaseneng (Sabatu-Minggu, 7-8/4/2018 yang lalu) terkait dengan karya kerasulan jurnalistik yang selama ini kami mulai dan layani dengan tekun dan setia. Semoga menjadi berkat dalam rangka mewujudkan peradaban kasih. Terima kasih. Tuhan memberkati.***

JohArt Wurlirang, 9/4/2018

Sumber: refleksi pribadi.

Sumber
https://idstory.ucnews.ucweb.com/story/3077556746771040?uc_param_str=dnvebifrmintcpwidsudsvnwpflameefutch&url_from=wmconstomerwebsite&stat_entry=personal&comment_stat=1

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.