Inspiration

Percayalah! Tuhan Mengubah Ratapan Menjadi Tarian Belajar Dari Yohanes XXIII

Sahabat Peradaban Kasih UC News yang terkasih. Apa pun agama Anda, percayalah bahwa Tuhan maha kuasa untuk mengubah setiap ratapan menjadi tarian. Apa maksudnya? Ini bukan soal rasa-perasaan, melainkan peristiwa yang mengubah sejarah!

Referensi pihak ketiga

Ini adalah buah permenunganku pada Pesta Kerahiman Ilahi yang dirayakan Gereja Katolik pada Hari Minggu Paskah II. Tahun 2018, Pesta Kerahiman Ilahi dirayakan Umat Katolik di seluruh dunia pada tanggal 8 April.

Pesta ini membawaku pada sosok pribadi yang sangat penting dalam tradisi Gereja Katolik. Beliau adalah Yohanes XXIII. Nama aslinya Angelo Giuseppe Roncalli. Ia lahir di kota kecil bernama Sotto il Monte. Saya bersyukur, pada musim panas 2002, saya mendapat anugerah bisa berkunjung ke sana. Rumah dan semua yang terkait dengan hidupnya menjadi tempat ziarah yang mengagumkan.

Referensi pihak ketiga

Salah satu sisi unik dari hidupnya bisa saya rumuskan bahwa Tuhan mampu mengubah ratapan menjadi tarian. Itu terjadi saat Roncali terpilih menjadi Paus pada usia 77 tahun dengan memilih nama Yohanes XXIII. Semua orang seakan meratap atas terpilihnya Roncalli menjadi Paus dalam usia yang sudah tua. Sudah tua, bisa buat apa? Begitulah ratapan yang mengalir dari mata Gereja. Dalam konteks bangsa ini, Paus Yohanes XXIII pernah menganugerahkan pengharapan kepada Presiden Soekarno (14/5/1959).

Dalam konteks sejarah Gereja, Paus Yohanes XXIII menjadi perpanjangan karya Tuhan yang mengubah ratapan menjadi tarian. Itu terjadi saat Yohanes XXIII menyerukan, mengundang dan menyelenggarakan Konsili Vatikan II (KV II), empat tahun sesudah terpilih menjadi Paus (28 Oktober 1958). Yohanes XXIII membuka KV II pada tanggal 11 Oktober 1962 di Basilika Santo Petrus. Beliau pun dikenal sebagai Paus yang baik hati (Papa Buono). Beliau wafat, pada tanggal 3 Juni 1963. Dua bulan sebelum wafat, beliau menerbitkan dokumen yang sangat terkenal, Pacem in Terris (Damai di Bumi).

Referensi pihak ketiga

Konsili Vatikan II dan Pacem in Terris menjadi laksana tarian sesudah ratapan. Yohanes XXIII membuka mata Gereja untuk segala pembaruan hidup. Hidup dalam semangat inklusif, terbuka dan aggionarmento (terus membarui diri) merupakan tarian masa depan yang terus dihadirkan sesudah ratapan masa lalu.

Semoga kita pun, apa pun agama dan kepercayaan kita, boleh menjadi tanda kasih Tuhan yang mengubah ratapan menjadi tarian, bukan sebaliknya! Kita bisa mengubah ratapan menjadi tarian melalui setiap tindakan sederhana kita yang mendatangkan kebaikan demi kebaikan dalam kehidupan bersama. Salam peradaban kasih. Terima kasih. Tuhan memberkati.***

JohArt Wurlirang, 8/4/2018.

Sumber: refleksi pribadi terinspirasi Spiritualitas Kerahiman Ilahi (Antonius Hari Kustono Pr, Yogyakarta: 2015).

Sumber
https://idstory.ucnews.ucweb.com/story/4294354699974348?uc_param_str=dnvebifrmintcpwidsudsvnwpflameefutch&url_from=wmconstomerwebsite&stat_entry=personal&comment_stat=1

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.