Inspiration

Mengagumkan! Jenazah Tidak Membusuk, Kontroversi Antara Iman Katolik dan Ilmu Pengetahuan?

Sahabat Peradaban Kasih UC News yang terkasih. Saya tidak pernah menduga bahwa artikelku yang berjudul “Merinding! Sudah Mati Dan Dikubur Bertahun-Tahun, Namun Jenazahnya Tidak Busuk” (2018/04/06 19:29, kategori Inspirational) itu akan mendapatkan respon terbanyak selama saya aktif menulis di platform UC News, sejak 1 September 2017. Inilah artikel yang paling banyak mendapatkan respon, entah positif entah negatif. Semua saya terima dan tanggapi dengan penuh syukur dan cinta kasih.

Pemilik hak cipta: Aloys Budi Purnomo Pr

Sebagaimana sudah saya sebutkan di dalamnya, artikel itu sebetulnya merupakan narasi jawabanku atas pertanyaan Mbak Evi, salah satu peserta dalam silaturahmi mereka kepadaku (Kamis, 5/4/2018). Artikel itu hanya salah satu dari enam artikel lain yang merupakan jawabanku atas pertanyaan rekan-rekanku dari Unwahas Semarang yang datang bersama dosen pendamping, Dr. Tedi Kholiludin. Pada sesi tanya jawab, muncullah pertanyaan tentang inkoruptibilitas. Jawabanku saya narasikan menjadi artikel tersebut. Pro dan kontra atas artikel itu muncul. Itulah yang sekarang mendorongku untuk menulis artikel ini.

Referensi pihak ketiga

Sejauh saya belajar filsafat teologi, saya mengalami sikap Gereja Katolik sebagai berikut dalam kaitannya antara iman dan ilmu. Tanpa mengurangi rasa hormat terhadap ilmu pengetahuan, dalam sejarah Gereja Katolik memang kadang terjadi benturan kontroversial antara iman dan ilmu. Namun, Gereja Katolik terus belajar memandang positif terhadap ilmu pengetahuan sehingga ungkapan Fides Quaerens Intelectum (iman menuntut pertanggungjawaban akal budi) yang diajarkan oleh St. Agustinus (354–430) dan Anselmus Canterbury (1033-1109) menjadi metode studi teologi pula. Atas dasar prinsip ini, tentu saja, saya tidak pernah menerima segala sesuatu sebagai taken for granted, juga terkait dengan hal-hal yang dahsyat tentang ungkapan iman Katolik. Termasuk di dalamnya yang disebut mukjizat inkoruptibilitas atau ketidakhancuran tubuh/jenazah yang sudah dikubur bahkan selama puluhan tahun.

Referensi pihak ketiga

Itulah sebabnya, saat saya menjawab pertanyaan Mbak Evi tentang inkoruptibilitas, saya mendasarkan diri pada pengalaman, sekaligus kecermatan Gereja Katolik untuk menyatakan, apakah tanda-tanda itu bertanggungjawab dan bisa diterima sebagai mukjizat atau sekadar rekayasa manusia semata. Sejauh saya tahu dan mengalami, selama ini Gereja Katolik selalu berhati-hati dan tidak murahan menyatakan sesuatu sebagai mukjizat, apalagi terkait dengan inkoruptibilitas. Itulah, membuatku semakin dipenuhi rasa kagum, yang membuat diri saya sendiri merinding ketika berbagi pengalaman tentang melihat tanda-tanda inkoruptibilitas sebagai mukjizat.

Pemilik hak cipta: Aloys Budi Purnomo Pr St. Bernadette, hasil jepretanku sendiri dengan ponselku saat berziarah ke Nevers. Sesudah puluhan tahun dikubur dalam tanah, jenazahnya tidak hancur, maka kini disemayamkan di Nevers, Perancis.

Bagi saya, ketidakhancuran tubuh sosok pribadi tertentu tetap merupakan suatu misteri yang mengagumkan. Saat menjawab pertanyaan Mbak Evi, saya menyebutkan tiga sosok pribadi, yang mengagumkan saya. Salah satunya yang paling mengagumkan bagi saya adalah jenazah St. Bernadette. Oke, saya tidak menutup mata pada realitas bahwa ada jenazah banyak orang yang tidak hancur sesudah kematiannya. Itu bisa terjadi di mana saja. Namun, dalam konteks iman Katolik, tidak serta-merta semua tanda itu diimani sebagai mukjizat. Gereja Katolik juga menyadari bahwa tidak semua inkoruptibilitas adalah tanda kekudusan, apalagi sebagai mukjizat. Namun, kita tidak bisa menutup mata bahwa ada inkoruptibilitas yang memang sungguh-sungguh merupakan mukjizat sesudah diuji berbasis ilmu dan medik forensik.

Mukjizat inkoruptibilitas dilandaskan pada iman dengan membaca dan merenungkan keseluruhan konteks kehidupan yang bersangkutan beserta tanda-tanda yang menyertainya. Saya percaya, sebagaimana dirumuskan sahabatku, Yunan Helmi, dalam lagu “Damai dalam Cinta”, bahwa bahkan “daun yang jatuh pun adalah kehendak-Nya!” Maka, kalau Tuhan menghendaki bahwa jenazah pribadi tertentu tidak membusuk dan hancur sesudah dikubur di tanah, siapa berani menyangkalnya bahwa itu merupakan mujizat-Nya? Justru akal sehat dan ilmu pengetahuan bisa membedakan dengan mudah mana mumi mana mujizat, mana patung lilin mana mujizat, ketika melihat realitas itu dalam konteks keseluruhan hidup yang bersangkutan.

Referensi pihak ketiga

Di situlah, iman dan ilmu bisa diperdamaikan bukan dalam rangka rekayasa koruptif melainkan untuk menopang kebenaran yang dianugerahkan Tuhan kepada manusia terkait inkoruptibilitas. Ada hal-hal yang bisa dipertanggungjawabkan secara ilmiah; namun lebih banyak hal yang hanya bisa diterima dalam ketaatan iman, apa pun agama kita. Dan yang terpenting adalah, tetap dalam sikap saling menghormati urusan agama masing-masing. Tidak perlu lantas kita saling menghina dan menghojat atas pengalaman iman dalam agama tertentu. Sikap saling menghina dan menghojat justru menjadi penanda ketidakdewasaan (infantil) yang bersangkutan dalam menghayati imannya, apa pun agama kita.

Hal yang sama juga berlaku terkait dengan fakta bahwa ada orang-orang tertentu yang jenazahnya tidak membusuk/hancur (inkoruptibilitas), dan Gereja Katolik mengakuinya sebagai mukjizat. Pengakuan Gereja Katolik tidak taken for granted, melainkan melalui proses yang panjang dan uji medik dan ilmiah terkait. Justru itulah yang bagiku sungguh semakin mengagumkan! Iman diuji dengan ilmu, namun iman tetap menjadi dasar dalam segala pengembangan ilmu pengetahuan, termasuk dalam peristiwa mencermati fenomena jenazah yang tidak membusuk meski sudah dimakamkan, bahkan puluhan tahun di dalam tanah!

Demikian, semoga bermanfaat. Salam rukun, salam peradaban kasih. Terima kasih. Tuhan memberkati.***

Kampus Ungu Unika, 10/4/2018

Sumber: refleksi pribadi

Sumber
http://idstory.ucnews.ucweb.com/story/112779886461623?uc_param_str=dnvebifrmintcpwidsudsvnwpflameefutch&url_from=wmconstomerwebsite&stat_entry=personal&comment_stat=1&stat_app=app_profile&entrance=personal

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.