Inspiration

Inspiratif! Meski Tak Mudah, Pengampunan Itu Menyembuhkan, Berani Mencoba?

Sahabat Peradaban Kasih UC News terkasih. Ketika kita merasa terluka oleh pihak lain, hampir tidak mungkin bahwa kita terbebas dari rasa-perasaan benci, marah, kecewa. Kita bahkan bisa jadi tergoda untuk melampiaskan rasa-perasaan itu dalam tindakan balas dendam. Tapi tungguh dulu. Alih-alih menyimpan dan melampiaskan dendam, ternyata, pengampunan itu justru menyembuhkan lahir maupun batin, meski hal itu tak mudah dilakukan, Lalu apa yang harus kita lakukan?

Referensi pihak ketiga

Pertama, menyadari bahwa fakta terluka dan kecenderungan untuk membalas itu sebenarnya lahir spontan, nyaris tanpa kendali batin kita yang terdalam. Bagi banyak orang, hal itu dianggap wajar, lumrah, manusiawi, masuk akal! Itu bersifat instinktif-insani.

Kedua, dibutuhkan kesadaran spiritual, terlebih iman – apa pun agama dan kepercayaan kita. Masak sih, kita ingin menjadi pribadi-pribadi yang lepas kendali melulu manusiawi, insani. Tidakkah kita akan lebih tunduk dan taat pada aspek iman yang kita hidupi?

Referensi pihak ketiga

Ketiga, untuk itu kita harus berani membuat semacam lompatan iman, harapan dan kasih. Mana yang mau kita pilih, berkat atau kutuk? Menjadi berkat atau menjadi – maaf – laknat? Mungkin bagi sementara orang, memilih berkat dan menjadi berkat merupakan hal yang tidak masuk akal. Eit, tunggu dulu. Ini bukan tidak masuk akal, melainkan barangkali akal kita yang belum bisa masuk ke dalam misteri ilahi tentang pengampunan, kerahiman, belas kasih dan kehidupan!

Keempat, sesakit-sakitnya luka yang tergores dalam hidup kita, tentu kita akan lebih memilih mengalami lompatan menuju kebaikan, kehidupan, dan kedamaian. Seberat-beratnya beban yang kita tanggung, pastilah kita bisa mengendalikan diri kita untuk memilih kebaikan daripada keburukan, kasih daripada dendam, pengampunan daripada amarah dan kesumat.

Referensi pihak ketiga

Akhirnya, ini yang biasanya menjadi pintu masuk menuju kebaikan. Ternyata, segala respon negatif kita terhadap pihak lain yang mendatangkan luka dalam diri kita, justru akan merusak kedalaman batin kita, bahkan hingga menggerogoti fisik kita. Dendam yang tersimpan tanpa pengampunan – dari pengalaman yang terjadi – akan berubah menjadi sakit-penyakit berat yakni kanker yang mematikan diri kita sendiri. Tetapi, pengampunan, kasih dan kerahiman, bahkan akan menjadi penyembuh atas kanker yang dialami oleh sementara orang, persis ketika segala daya upaya manusiawi tak mungkin lagi dilakukan!

Ini bukan asumsi, melainkan realitas yang sering kita dengar dan terjadi di sekitar kita. Karenanya, mari kita saling belajar untuk tidak menutup pintu bagi pengampunan terhadap siapa pun yang pernah dan telah menyakiti diri kita. Ini pun, menurut hematku, menjadi sebentuk perwujudan peradaban kasih dalam bentuk kesejahteraan yang bermartabat. Meski tidak mudah, mari kita coba wujudkan. Salam peradaban kasih. Terima kasih. Tuhan memberkati.***

JohArt Wurlirang, 19/4/2018

Sumber: refleksi dan opini pribadi terinspirasi oleh sejumlah sharing forum internum.

Sumber
https://idstory.ucnews.ucweb.com/story/4466609984573198?uc_param_str=dnvebifrmintcpwidsudsvnwpflameefutch&url_from=wmconstomerwebsite&stat_entry=personal&comment_stat=1

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.