Inspiration

Mengharukan! Ketika Kasih Muncul Di Tengah Sakit Dan Derita, Bukti Bahwa Tuhan Selalu Baik

Sahabat Peradaban Kasih UC News terkasih. Mengharukan! Ketika kasih muncul di tengah sakit dan derita yang membuncahkan senyuman di tengah-tengah air mata. Ini membuktikan bahwa Tuhan selalu baik kepada kita. Ini bukan kayalan, melainkan kenyataan. Kenyataan ini sangat mengharu-biru hatiku, sekaligus menginspirasi dan memotivasi daku untuk tetap bersemangat dalam pelayanan. Seperti apa dan bagaimana kisahnya?

Referensi pihak ketiga – Sumber: Doa-Sabda.org

Di hari kedua saya ngantor sesudah enam hari absen karena sakit, ada pengalaman unik lain. Sehari sebelumnya, saya tidak bisa masuk ruangan karena ruanganku terkunci hehe. Di hari kedua ini (Kamis, 19/4/2018) saya tidak mendapat tempat untuk parkir kendaraan di tempat seperti biasanya. Saya pun parkir di halaman Kapel Unika Seogijapranata lalu berjalan kaki ke ruanganku. Itu berarti saya berjalan kaki hampir satu kilometer bila dibentangkan, dengan jalan menanjak, bahkan naik ke lantai empat hehe.

Yang menarik dan inspiratif adalah, beberapa petugas security menyapa dan menyertaiku dalam perjalanan itu. Saya sendiri memandang positif peristiwa itu sebagai kesempatan berolahraga jalan kaki dan pasti itu menyehatkan. Memang, terasa berbeda berjalan kaki dalam suasana seperti itu dalam keadaan pemulihan kesehatan. Dalam pengalaman ini, hatiku dipenuhi rasa haru, sebab kurasakan kasih yang muncul di tengah sakit dan derita fisik hehe. Siangnya, saya berjalan lagi dengan jarak yang persis sama, hanya posisinya berjalan turun dari ruangan menuju Kapel untuk mempersembahkan Ekaristi siang. Nah, sesudah perayaan Ekaristi, kurasakan keharuan lagi, sebab kualami kasih yang muncul di tengah sakit dan derita fisikku. Prof Dr Agnes Widanti memberikan kasih dan perhatian khusus padaku, padahal beliau sendiri juga dalam kondisi yang tidak sehat. Luar biasa! Sesudah itu, Reinardus, seorang mahasiswa, juga berbaik hati mengantarku dengan kendaraan yang sudah kuparkir di situ menuju ruanganku.

Referensi pihak ketiga – Sumber: WarungSaTeKaMu.org<a data-cthref=”/url?sa=i&rct=j&q=&esrc=s&source=images&cd=&cad=rja&uact=8&ved=2ahUKEwjN5oef4MbaAhVCRo8KHRDNAgkQjB16BAgAEAQ&url=http%3A%2F%2Fwww.warungsatekamu.org%2F2016%2F06%2Fair-mata-dan-tawa%2F&psig=AOvVaw1oRH6w3plkEIYI0Ieyz5Hg&ust=1524241504111624″ data-ved=”2ahUKEwjN5oef4MbaAhVCRo8KHRDNAgkQjB16BAgAEAQ” href=”https://www.google.com/url?sa=i&rct=j&q=&esrc=s&source=images&cd=&cad=rja&uact=8&ved=2ahUKEwjN5oef4MbaAhVCRo8KHRDNAgkQjB16BAgAEAQ&url=http%3A%2F%2Fwww.warungsatekamu.org%2F2016%2F06%2Fair-mata-dan-tawa%2F&psig=AOvVaw1oRH6w3plkEIYI0Ieyz5Hg&ust=1524241504111624″ tabindex=”0″ class=”o5rIVb irc_hol i3724 irc_lth” rel=”noopener” data-noload=”” target=”_blank”></a>

Sesampai di Rektorat, sesudah naik dari lantai dua ke lantai tiga, saya menikmati santap siang bersama Pak Rektor (Prof Ridwan) dan Wakil Rektor I, II dan IV (Bu Sisil, Bu There dan Mas Beni). Saya makan siang serba cepat sekadar untuk minum obat, lalu mendahului mereka, oleh sebab pukul 13.00 saya harus mengikuti pertemuan khusus bersama Bu Cicih, Pak Bagus, dan Pak Roto di ruang lain. Pertemuan itu bersifat tertutup dan saya dalam disposisi sebagai pihak yang harus lebih banyak mendengarkan dengan sesekali memberi tanggapan etis seturut prinsip Katolik. Bu Cicih yang memimpin pertemuan itu setiap kali berkata, “Romo masih kuat? Wajahnya masih pucat loh! Kalau Romo mau istirahat ndak apa-apa!” Namun, atas nama ketaatan dan pelayanan, saya tetap bertahan turut serta dalam pertemuan tersebut hingga selesai pada pukul 17.05.

Nah, di sinilah saya kembali melihat percikan kasih yang muncul di tengah sakit dan derita yang mengharukan daku. Pak Bagus (yang pernah menjadi Rektor Unika juga) diam-diam memesan dua gelas kopi panas kepada Mas Inang. Mengharukan, ternyata dua gelas kopi panas itu beliau pesan khusus untukku dan untuk Pak Roto, sementara beliau sendiri tidak menikmatinya. Luar biasa istimewa! Segelas kopi itu cukup membuatku bisa bertahan duduk mendengarkan dari pukul 13.00 hingga pukul 17.05; meski setiap setengah jam, saya harus terhuyung-huyung ke kamar mandi karena urusan ginjal yang sempat dihadiri dua batu sebesar 3mm di UVJ kiri dan 2.5mm di UVJ kanan yang membuat diriku kolik hingga tiga kali dalam empat hari beberapa waktu yang lalu.

Referensi pihak ketiga

Akhirnya, kasih muncul di tengah sakit dan derita dan itu merupakan bukti bahwa Tuhan baik kepada kita setiap saat ditandai pula oleh kehadiran rombongan para ibu dari Ungaran. Hujan, malam-malam, mereka bertiga hadir membawa senyuman dan perhatian (Bu Didik, Bu Edo dan Bu Bond). Itulah peristiwa-peristiwa sederhana yang mengalirkan kasih dan menyatakan kebaikan Tuhan bagiku.

Dalam semuanya itu, kurasakan keharuan mengalami kasih yang muncul di tengah sakit dan derita. Percikan-percikan kasih itu sudah cukup menghadirkan senyuman dari tengah-tengah air mata bahagia. Kasih dan kebaikan mereka memotivasi dan menginspirasiku untuk tetap bersemangat dalam pelayanan dan perutusan ini. Semoga Anda pun terinspirasi dan termotivasi sama sepertiku untuk selalu berbuat baik, sekecil apa pun kepada siapa pun di sekitar hidup Anda! Kasih dan kebaikan Anda akan menghadirkan senyuman di tengah-tengah air mata siapa saja yang mengalaminya.

Demikian. Mohon maaf, artikel ini agak panjang. Terima kasih Anda setia membacanya. Salam peradaban kasih. Tuhan memberkati.***

JohArt Wurlirang, 19/4/2018.

Sumber: refleksi pribadi.

Sumber
https://idstory.ucnews.ucweb.com/story/2454325031163221?uc_param_str=dnvebifrmintcpwidsudsvnwpflameefutch&url_from=wmconstomerwebsite&stat_entry=personal&comment_stat=1

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.