Inspiration

Kalau Bisa Memilih Kebenaran Yang Dari Tuhan, Mengapa Harus Memilih Yang Dari Setan?

Sahabat Peradaban Kasih yang terkasih. Ada tiga inspirasi kearifan lokal falsafah Jawa yang serentak menarik untuk direnungkan. Intinya, kedua kearifan lokal itu mengajak kita untuk percaya kepada kebenaran Tuhan. Kalau bisa memilih kebenaran yang dari Tuhan, mengapa harus memilih yang dari setan? Seperti apa? Mari kita simak bersama.

Referensi pihak ketiga

Pertamabener kang asale saka Pangeran iku lamun ora darbe sipat angkara murka lan seneng gawe sangsaring liyan. Artinya, kebenaran yang berasal dari Tuhan itu tidak bersifat jahat dan apalagi suka membuat sesama sengsara.

Kedua, bener saka kang lagi kuwasa iku uga ana rong warna, yakuwi kang cocok karo benering Pangeran lan kang ora cocok karo benering Pangeran. Artinya,benar menurut penguasa juga memiliki dua macam jenis yakni cocok dengan kebenaran menurut Tuhan dan tidak cocok dengan kebenaran Tuhan.

Ketiga, yen cocok karo benering Pangeran iku ateges bathara ngejawantah, nanging yen ora cocok karo benering Pangeran iku ateges titisaning brahala. Artinya, kebenaran yang sesuai dengan kebenaran menurut Tuhan, itu berarti Tuhan yang mewujud, namun bila tidak sesuai dengan kebenaran menurut Tuhan, berarti penjelmaan angkara.

Referensi pihak ketiga

Apa maknanya? Setiap kebenaran yang itu berasal dari Tuhan. Bahkan kebenaran yang berasal dari Tuhan itu bisa pula tersampaikan oleh pemimpin kita. Namun hati-hati, ternyata, bisa saja pemimpin itu keliru sehingga kebenarannya bukan dari Tuhan tetapi berasal dari setan.

Nah, apa tolok ukurnya? Kebenaran dari Tuhan pasti hadir dalam kasih, keadilan, kejujuran, dan kesejahteraan. Buahnya adalah kerukunan, damai dan kebahagiaan dalam keberagaman. Ia juga tak ditandai oleh sikap mengadili dan menghakimi apalagi menyalah-nyalahkan.

Sedangkan yang berasal dari setan pasti bukan kebenaran melainkan kesalahan yang penuh kebohongan dan bahkan kesesatan. Biasanya itu ditandai sikap angakara murka alias serakah dan penuh kolusi, korupsi dan nepotisme. Buahnya adalah perpecahan, permusuhan, dan disharmoni. Ia ditandai oleh sikap yang selalu merasa diri benar sendiri dan mudah mengadili serta menghakimi serta nyinyir menyalah-nyalahkan pihak lain hanya untuk menutupi buruknya sendiri.

Referensi pihak ketiga

Nah, mari kita belajar memilih kebenaran yang berasal dari Tuhan melalui pemimpin yang mengutamakan keadilan, kejujuran, dan kesejahteraan yang menghadirkan kerukunan, damai dan keselarasan. Salam peradaban kasih. Terima kasih. Tuhan memberkati kita semua.***

JoharT Wurlirang, 24/6/2018

Sumber: refleksi pribadi

Sumber https://idstory.ucnews.ucweb.com/story/377704094322196?uc_param_str=dnvebifrmintcpwidsudsvnwpflameefutch&url_from=wmconstomerwebsite&stat_entry=personal&comment_stat=1

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.