Inspiration

Ternyata, Janji Itu Laksana Hutang Yang Harus Dilunasi, Masih Berani Berjanji?

Sahabat Peradaban Kasih yang terkasih. Janji itu laksana hutang. Harus dilunasi seberapa lama waktunya. Inilah yang diajarkan dari inspirasi kearifan lokal falsafah Jawa. 

Referensi pihak ketiga

Rumusannya memang bernada negatif. Seperti sebuah larangan. Aja cidra ing janji. Namun larangan itu bermakna positif yakni agar siapa pun berpegang teguh pada janji yang diucapkan. Janji tak boleh diingkari sebab janji yang ditepati merupakan kunci kepercayaan orang lain kepada kita.

Referensi pihak ketiga

Janji bisa bersifat personal, pribadi. Janji juga bisa bersifat sosial, menyangkut kepentingan bersama. Baik yang bersifat personal maupun sosial, janji memiliki nilai yang akan mencerminkan kepribadian seseorang yang mengucapkannya. Karenanya, berhati-hatilah dengan janji yang kau ucapkan. Sedapat-dapatnya, pegang dan wujudkan janji itu dengan teguh dan setia, apalagi saat terkait dengan kepentingan orang lain.

Referensi pihak ketiga

Syukurlah, apa pun agama dan kepercayaan kita, Tuhan selalu diimani sebagai yang selalu setia pada janjiNya. JanjiNya laksana fajar yang akan selalu bersinar tepat pada saat dan waktunya, bahkan kendati mendung seakan menghalanginya. Karenanya aja cidra ing janji pertama-tama pasti terjadi dari pihak Tuhan. Tinggallah manusia belajar setia berpegang pada janjinya dalam terang iman kepada Tuhan, apa pun agama dan kepercayaan kita.

Demikian, semoga bermanfaat. Terima kasih. Salam peradaban kasih. Tuhan memberkati kita semua.***

JoharT Wurlirang, 24/6/2018

Sumber: refleksi pribadi

Sumber https://idstory.ucnews.ucweb.com/story/4446976972387408?uc_param_str=dnvebifrmintcpwidsudsvnwpflameefutch&url_from=wmconstomerwebsite&stat_entry=personal&comment_stat=1

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.