Inspiration

Dahsyatnya Damai Sejahtera Dari Tuhan, Itulah Mahkota Kemuliaan Manusia

Sahabat Peradaban Kasih yang terkasih. Kemuliaan hidup manusia itu antara lain ditandai oleh hati yang tentram dan damai. Nah, itulah yang juga diajarkan dalam kearifan lokal faslafah Jawa. Bagaimana rumusan dan pemaknaannya. Kita simak yuk.

Referensi pihak ketiga

Rumusannya begini. Kamulyaning urip dumunung ana ing tentreming ati. Secara harafiah, rumusan itu dalam bahasa Indonesia begini. Kemuliaan hidup berada di dalam hati yang tentram. Tentram itu tak hanya tenang tetapi ayem dan damai. Maka biasanya dua kata itu dirangkai menjadi satu frasa: ayem tentrem. Hidup yang ayem tentrem itulah hidup yang mulia.

Dalam bahasa Indonesia dan dalam konteks spiritualitas teologis, ayem tentrem sama dengan damai sejahtera. Damai sejahtera tidak berarti tidak ada persoalaN bahkan konflik. Justru damai sejahtera sejati itu tetap bertahan kendati ada persoalan dan bahkan konflik. Damai sejahtera ini tidak diukur oleh harta benda dunia atau kekuasaan pangkat dan jabatan melainkan oleh sukacita dan kebahagiaan yang berasal dari Tuhan.

Damai sejahtera yang berasal dari Tuhan tidak sama dengan damai yang diberikan dunia. Damai dari dunia itu bersifat sementara. Sedangkan damai sejahtera dari Tuhan kekal abadi tak terhapuskan oleh perkara manusiawi dan persoalan duniawi. Itulah sebabnya, dahsyatnya damai sejahtera dari Tuhan akan menjadi mahkota kemuliaan manusia bahkan menuju kehidupan di keabadian. Dahsyat bukan?

Referensi pihak ketiga

Lalu bagaimana cara merasakan dan mendapatkannya? Terutama damai sejahtera itu anugerah Tuhan. Kita bisa merasakannya melalui peristiwa hidup sehari-hari. Contohnya, ketika kamu tetap semangat meski hidup ini berat, itulah tahap awal damai sejahtera dimulai. Selanjutnya, dalam keadaan diri sendiri terasa berat, namun kita masih bisa menjadi berkat bagi sesama, itulah damai sejahtera yang mulai nyata. Tandanya adalah kemurahan hati kepada sesama bahkan di saat kita sendiri sedang membutuhkannya.

Contoh lain. Saat kamu bisa tetap tersenyum ketika orang lain menghina dan menyakitimu. Itulah tahap awal damai sejahtera. Damai sejahtera kian berakar dan menjadi sumber sukacita, saat kamu bisa mengasihi orang yang memfitnah kamu; mendoakan orang yang menganiaya kamu bahkan memohonkan berkat bagi orang yang sedang menyakiti hatimu. Keren, saat itulah damai sejahtera dianugerahkan Tuhan padamu. Dahsyat, damai sejahtera itu telah memahkotai hidupmu!

Referensi pihak ketiga

Jangan lupa, dalam semuanya itu, kuncinya adalah hati yang terus terarah kepada Tuhan. Tuhan tak akan pernah mengabaikan setiap hati manusia yang terarah padaNya bahkan di kala hati itu remuk redam dan hancur, damai sejahtera Tuhan akan memahkotai hidup kita.

Demikian, semoga bermanfaat. Salam peradaban kasih. Terima kasih. Tuhan memberkati kita semua.***

JoharT Wurlirang, 2/7/2018

Sumber: refleksi pribadi terinspirasi Pitutur Luhur Budaya Jawa (2017:174-175).

Sumber
https://idstory.ucnews.ucweb.com/story/80560866393007?uc_param_str=dnvebifrmintcpwidsudsvnwpflameefutch&url_from=wmconstomerwebsite&stat_entry=personal&comment_stat=1

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.