Inspiration

Dahsyatnya Menyatukan Saudara Gaib, Apa Maknanya? Bacalah Dengan Mata Batin!

Sahabat Peradaban Kasih yang terkasih. Artikel saya dari inspirasi dan motivasi kearifan lokal budaya Jawa yang berjudul “Betapa Indahnya! Ternyata, Sejak Lahir Hingga Mati, Sedulur Sejati Selalu Bersama Kita” (lihat tz.ucweb.com/7_2yKG0) mendapat tanggapan yang menarik. Salah satunya dari pemilik akun “suketemas” (2018/07/10 08:58:37) yang menyatakan bahwa artikel tersebut kurang mendalam. Artikel ini merupakan tanggapan positif atas masukan dari Saudara “Suketemas”. Seperti apa? Kita simak yuk.

Referensi pihak ketiga

Inti dari kearifan lokal sedulur (kadang) papat lima pancer adalah bahwa setiap pribadi sejak dalam kandungan, lahir dan hidup di dunia, serta saat kematiannya; manusia itu tidak sendirian. Tak ada manusia yang melulu individual personal melainkan selalu berdimensi sosial interpersonal. Bahkan, dalam konsepsi kosmologi Jawa, sedulur papat lima pancer itu terkait pula dengan semesta alam dan seisinya. Termasuk di dalamanya empat arah mata amgin yang juga menjadi lambang personal kehidupan manusia. Tentang hal ini, lihat artikel saya tz.ucweb.com/7_2zYCL dan tz.ucweb.com/7_2BkJU.

Pada kesempatan ini, saya ingin mendalami kearifan itu dari sisi persaudaraan yang penuh simbol (gaib). Simbol itu bisa dalam bentuk warna, arah mata angin dan juga nafsu kemanusiaan. Yang pertama dan kedua bisa dibaca dalam artikel-artikel yang link-nya saya sebut dalam tulisan ini. Pada kesempatan ini, akan saya tampilka simbol dari dunia pewayangan.

Referensi pihak ketiga

Dalam dunia pewayangan, kadang papat lima pancer merujuk pada Dasamuka, Kumbakarna, Sarpakenaka dan Wibisana. Dalam kosmologi Jawa, keempat tokoh itu merupakan personifikasi empat nafsu manusia yakni amarah, aluamah, sufiah, dan mutmainah. Dorongan nafsu itu membentuk karakter manusia baik jasmaniah maupun rohaniah. Semua itu harus dikuasai, dipahami, dan dikendalikan dalam praktik ritua demi kesempurnaan hidup manusia. Dalam proses keheningan olah batin, disadari bahwa kadang papat lima pancer itu selalu bersama manusia.

Kesatuan empat unsur itu secara seimbang akan membuahkan harmoni dalam kehidupan. Persatuan yang seimbang antara empat hal itu membawa manusia pada kedewasaan dan kesempurnaan hidup. Itulah sebabnya, keseimbangan dan keselarasan selalu menjadi pilihan dan diupayakan secara maksimal. Bila tidak, maka manusia berada dalam bahaya. Bahaya bisa menjadi petaka dan musibah yang menimpa siapa saja.

Referensi pihak ketiga

Itulah sebabnya, menyatukan saudara gaib dalam keseimbangan yang harmonis itu dahsyat. Bila tidak, manusia bisa mengalami kehancuran yang menyengsarakan. Demikian, uraian reflektif ini semoga bermanfaat. Salam peradaban kasih. Terima kasih. Tuhan memberkati kita semua.***

Muntilan, 10/7/2018

Sumber: refleksi pribadi terinspirasi Mistik Kejawen (2018:53-55)

Sumber https://idstory.ucnews.ucweb.com/story/4142052444152269?uc_param_str=dnvebifrmintcpwidsudsvnwpflameefutch&url_from=wmconstomerwebsite&stat_entry=personal&comment_stat=1

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.