Inspiration

Dahsyatnya Rasa-Perasaan Bila Menggapai Rasa Sejati, Ini Bukan Ilusi Tapi Anugerah Ilahi!

Sahabat Peradaban Kasih yang terkasih. Rasa-perasaan manusia itu ternyata penting untuk menggapai kedalaman hidup rohani. Pitutur luhur kearifan lokal falsafah Jawa memiliki ungkapan wong Jawa iku nggone rasa-pangrasa. Apa arti dan maknanya? Kita simak yuk.

Referensi pihak ketiga

Sebegitu pentingnya rasa-pangrasa (rasa-perasaan) dalam masyarakat Jawa hingga rasa menjadi kunci etika. Seseorang yang tidak tahu rasa lalu bertindak semau gue lo peduli ape disebut mati rasa-pangrasane. 

Ada banyak uraian tentang rasa perasaan. Saya tertarik untuk mendalami hal ini demi menggapai rasa sejati sejatining rasa menuju kedalaman hidup rohani. Para ahli mistik kejawen menyebutkan, minimal ada empat tingkatan rasa. 

Referensi pihak ketiga

Pertama, rasa pangrasa yang terjadi dalam taraf fisik inderawi. Contoh: rasa sakit, pedas, gatal, lapar, panas dan sejenisnya yang terkait dengan badan wadag raga kita.

Kedua, rasa rumangsa yang terkait dengan mental. Misalnya, rasa eling, waspada, cipta dan grahita. Rasa salah dan sesal termasuk di dalamnya. Rasa terhunung dengan intuisi jiwa (psikis).

Ketiga, rasa sejati, yakni rasa yang tumbuh dari kedalaman batin. Contohnya, rasa damai, rasa merdeka, rasa bahagia dan tanggap ing sasmita. Sumber kedamaian, kemerdekaan dan kebahagia tidak oleh sebab materi duniawi melainkan karena jejak-jejak misteri ilahi. Ada kepekaan menangkap tanda-tanda zaman.

Keempat, sejating rasa dalam kehidupan seutuhnya. Rasa sejati dan sejatining rasa saling menopang menuju sisi spiritual kehidupan manusia. Dalam tahap ini, manusia bisa mengalami kedalaman sejatining rasa dalam relasinya dengan Tuhan. Inilah sejatining rasa yang bersifat spiritual. Pada tahap ini, manusia diberi rahmat mengalami rahasia hidup dalam relasinya dengan Tuhan. Tanda-tanda zaman yang ditangkap dan dirasakan mendapatkan diskresi ke arah kebaikan tak hanya bagi diri sendiri melainkan demi kesejahteraan umum (bonum commune). Maka, saat rasa-perasaan menggapai rasa sejati, itu sungguh dahsyat. Ini bukan ilusi melainkan anugerah Ilahi. Tak ada kata lain kecuali bersyukur dan berserah saat kita menerima anugerah itu.

Referensi pihak ketiga

Demikianlah rangkuman reflektif tentang sejatining rasa yang mestinya dicapai oleh setiap manusia apa pun agama dan kepercayaannya. Dengan sejating rasa inilah peradaban kasih bagi masyarakat yang sejahtera, bermartabat dan beriman sesuai agama dan kepercayaannya. Semoga bermanfaat. Salam peradaban kasih. Terima kasih. Tuhan memberkati kita semua.***

JoharT Wurlirang, 7/7/2018

Sumber: refleksi pribadi terinspirasi Mistik Kejawen (2018:177-181)

Sumber
https://idstory.ucnews.ucweb.com/story/4348059873124136?uc_param_str=dnvebifrmintcpwidsudsvnwpflameefutch&url_from=wmconstomerwebsite&stat_entry=personal&comment_stat=1

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.