Inspiration

Hebatnya Pitutur Luhur Ini, Berserah Hanya Kepada Tuhan, Lakukanlah!

Sahabat Peradaban Kasih yang terkasih. Pitutur luhur kearifan lokal falsafah Jawa ini luar biasa hebat! Hanya dua kata saja, namun maknanya sangat mendalam dan luar biasa. Asrah jiwa. Awas, jangan keliru, bukan “pasrah” tetapi “asrah”. Memang, kata “asrah” serupa dengan pasrah-sumarah yakni berserah hanya kepada Allah semata.

Referensi pihak ketiga

Kata “asrah” itu dalam permenunganku seperti sebuah kerata basa (singkatan) dari aku pasrah-berserah. Asrah jiwa itu murni penyerahan, tanpa menuntut balasan atau imbalan apa pun. Seringkali, manusia ditandai sifat mau berkorban dengan harapan mendapatkan balasan setimpal dari Tuhan daripada memberikan pengorbanan yang tanpa pamrih. Akibatnya, dalam hidup beragama pun, kita cenderung tergoda untuk mengutamakan praktek lahiriah tanpa ditopang oleh sikap “asrah jiwa”.

Menurutku, konsep “asrah jiwa” hendak mengajarkan kepada siapa saja bahwa motivasi atau inspirasi batin itu jauh lebih penting daripada tindakan-tindakan lahiriah belaka. Artinya, ketika motivasi atau inspirasi batin itu murni dan bersih, maka setiap ungkapan hidup beragama yang lahiriah tidak dilakukan dalam keterpaksaan atau hanya demi formalitas rutin melainkan menjadi suatu kebutuhan akan persatuan dengan Tuhan. Dalam konsep ini, setiap kebaikan yang lahir dari penyerahan jiwa raga kepada Tuhan adalah buah dari kesatuan dengan Tuhan (jumbuh, manunggaling kawula-Gusti) yang dihayati setiap saat di mana pun, terutama saat ini-di sini (hic et nunc).

Referensi pihak ketiga

Itulah yang dalam spiritualitas Kristiani disebut dengan totalitas keterpusatan batin yang berserah kepada Tuhan dan pengalaman intim bersama Tuhan. Yang terpenting adalah kebutuhan yang lahir dari rasa dahaga akan hadirat Tuhan untuk mengolah kasih Tuhan melalui setiap karya yang bersumber dari persatuan denganNya. Maka, ekspresinya bukan dengan mengejar pahala masa depan atau jaminan agar masuk surga; melainkan keindahan pelayanan yang bersumber dari praktik tinggal di dalam kasihNya. Bila kita tinggal di dalam kasihNya, tanpa kita memintanya pun, pengalaman itu akan selalu membuahkan rahmat dan berkat yang terbaik dalam kehidupan bersama. Itu pasti!

Nah, kalau demikian halnya, percaya saja dan lakukanlah! Buang setiap ketakutan untuk berserah diri jiwa raga kepadaNya. Yang terpenting adalah menyadari bahwa setiap karya kebaikan yang kita lakukan dan persembahkan kepada Tuhan dan sesama diinspirasi oleh Tuhan sendiri yang tinggal dalam diri kita dan diri kita di dalam Tuhan. Tuhan yang tinggal dalam diri kita menjadi sumber inspirasi dan motivasi semua tindakan baik kita. Kita hanya bisa menerima, menyetujui dan mengimani serta mengamininya. Maka, asrah jiwa adalah titik awal kehidupan rohani sejati setiap orang, apa pun agama dan kepercayaannya, bukan demi pahala surga, melainkan demi kian mengasihi Tuhan dan sesama. Soal pahala surga, biarlah itu menjadi urusan Tuhan! Yang penting kita setia melakukan kebaikan sehari-hari dengan terus berserah kepadaNya sesuai ajaran agama dan kepercayaan kita masing-masing serta dalam sikap saling menghormati satu terhadap yang lain. Okay?

Referensi pihak ketiga

Selamat menikmatinya! Salam peradaban kasih. Terima kasih. Tuhan memberkati kita semua.***

JoharT Wurlirang, 5/7/2018

Sumber: refleksi pribadi terinspirasi Pitutur Luhur Budaya Jawa (2017:41) dan Intimacy with God (2001:23-34).

Sumber
https://idstory.ucnews.ucweb.com/story/4153028466995372?uc_param_str=dnvebifrmintcpwidsudsvnwpflameefutch&url_from=wmconstomerwebsite&stat_entry=personal&comment_stat=1

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.