Inspiration

Ilmu Kejawen Itu Soal Rasa, Bukan Hanya Pikiran Saja

Sahabat Peradaban Kasih yang terkasih. Inspirasi kearifan lokal ini dahsyat saat diresapkan di kedalaman jiwa dan raga. Dalam khasanah falsafah Jawa dibedakan antara ngelmu dan ilmu. Tak usah penasaran tentang apa bedanya antara ngelmu dan ilmu. Kita simak yuk.

Referensi pihak ketiga

Ngelmu itu bukan sekadar ilmu sebab dijalankan dengan rasa-pangrasa (rasa perasaan). Sedangkan ilmu itu dicari dan diperoleh dengan akal pikiran. Itu beda sederhana antara ngelmu dan ilmu. Nah sekarang mari kita dalami lebih mendasar apa itu ngelmu.

Dalam falsafah Jawa, ngelmu tak harus diterima dengan akal yang bersifat rasional. Ngelmu didapat dan diwariskan melalui olah mental (batin) yang bersifat spiritual. So, ngelmu itu dilandasi hal-hal yang bersifat intuitif. Lalau bagaimana cara mencapainya?

Referensi pihak ketiga

Pertama, ngelmu biasanya diperoleh melalui laku batin, olah rasa dan spiritual (rohani). Itulah sebabnya ada ungkapan Ngelmu iku kelakone kanthi laku. Dalam falsafah Jawa, ngelmu itu semacam jarwodhosok atau kerata basa (seperti suatu singkatan penuh makna). Maka, ngelmu diartikan sebagai angel olehe ketemu (sulit untuk menemukannya). Itulah sebabnya ngelmu dicapai dengan cara matiraga, askese, berpuasa bahkan bertapa.

Kedua, ngelmu itu bukan melulu aktivitas otak pikiran tetapi dinamika batin yang berusaha mencari dan menemukan sangkan paraning dumadi. Tujuannya adalah demi menggapai kasampurnaning dumadi yang berakhir pada celak coloking Hyang Widi (kesatuan rohani dengan Tuhan). Itulah yang disebut manunggaling kawula lan Gusti. Persatuan manusia dengan Tuhan.

Ketiga, karena itulah ngelmu itu wingit karena menyangkut hal-hal yang bersifat sakral, suci dan penuh misteri. Untuk sampai pada kedalaman itu, maka ngelmu harus dijalani dengan heneng (penuh konsentrasi), hening (pikiran bening) dan heling (jiwa yang selalu ingat akan Tuhan).

Referensi pihak ketiga

Nah, dalam ketiga hal itulah makna ngelmu dapat dimengerti. Ngelmu berbeda dengan ilmu yang bisa dipelajari dengan pikiran, dibuktikan dengan argumen, dan dipertanggungjawabkan secara rasional. Ngelmu memang memiliki pula ciri-ciri rasional, namun lebih dari segalanya ngelmu itu merupakan rahmat dan anugerah Tuhan. Maka harus dirasakan, dicecap, ditegaskan dan dijalankan dalam kehidupan. Itulah yang disebut ngelmu necep, neges, lan ngemban dhawuhing Pangeran.

Demikian, semoga bermanfaat. Terima kasih. Salam peradaban kasih. Tuhan memberkati kita semua.***

Yogya, 29/6/2018

Sumber: refleksi pribadi terinspirasi Mistik Kejawen, Sinkretisme, Simbolisme dan Sufisme dalam Budaya Spiritual Jawa (Suwardi Endraswara, 2018)

Sumber
https://idstory.ucnews.ucweb.com/story/4176870051084280?uc_param_str=dnvebifrmintcpwidsudsvnwpflameefutch&url_from=wmconstomerwebsite&stat_entry=personal&comment_stat=1

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.