Inspiration

Indahnya Tapa Ngrame, Menghayati Keheningan Dalam Keramaian, Seperti Apa?

Sahabat Peradaban Kasih yang terkasih. Refleksi ini berisi kisah indah tapa ngrame, salah satu lelaku daan tirakat dalam kearifan lokal budaya Jawa. Dengan tapa ngrame, siapa saja diajak pula menggapai kesempurnaan hidup baik di dunia maupun di akhirat. Seperti apakah? Mari kita simak.

Referensi pihak ketiga

Dalam perjumpaan dengan Gus Lukman, Pengasuh Pondok Pesantren Salafiyah Az-Zuhri di Ponpes beliau di Ketileng Semarang (Minggu malam, 1/7/2018), beliau menyebut tentang tapa ngrame. Sesungguhnya, ini pun bagian dari kearifan lokal falsafah Jawa yang sangat mendalam arti dan maknanya. Pembicaraan tentang tapa ngrame bersama Gus Lukman muncul saat ada pertanyaan, mengapa Ponpes Salafiyah Az-Zuhri berada di tengah perumahan? Jawabannya di luar dugaan. Ternyata ada falsafah Jawa yang mendasarinya dan dipadukan dengan spiritualitas Islami rahmatan lil alamin. Falsafah itu adalah tapa ngrame.

Referensi pihak ketiga – Bersama Gus Lukman (bersorjan putih) di tengah, saya di samping kiri beliau – Dok foto 1 Juli 2017

Dalam permenunganku lebih lanjut, berkembang liar gagasan ini. Istilah tapa ngrame sendiri secara sepintas dan spontan – meminjam ilmu logika – sudah contradictio in terminis (= dua istilah yang bertolak belakang). Tapa berarti menyepi, berada di tempat yang sepi, sunyi dan hening. Maka, istilah ini berlawanan dengan kata ngrame, yang berasal dari kata rame yakni keramaian hiruk pikuk kehidupan harian. Namun ternyata, dua hal yang saling bertolak belakang itu bisa dipadukan menjadi satu falsafah yang memiliki kedalaman makna rohani yang dahsyat dan indah.

Merangkum berbagai ulasan dari berbagai sumber yang bertebaran di banyak laman, saya merumuskan tapa ngrame sebagai berikut. Tapa ngrame adalah tindakan spiritual berpuasa dan bertapa di tengah aktivitas harian yang berjalan seperti biasa. Dalam situasi itu, siapa saja yang sedang tapa ngrame tidak perlu pergi meninggalkan dunia dan segala kesibukannya, namun hati, jiwa, budi dan kehidupan tetap terjaga dalam keheningan yang suci, yang terarah kepada Tuhan Yang Maha Esa. Tapa ngrame memerlukan kesadaran tertinggi untuk tidak terjebak dalam kemunafikan dan basa-basi, melainkan tetap hadir dalam kasih yang membawa damai sejahtera bagi siapa saja di sekitarnya. Dalam segala aktivitas dan rutinitas harian itu, setiap orang yang menjalani tapa ngrame tetap mampu melihat dan mengalami perjumpaan dan persatuan dengan Tuhan yang hadir dalam setiap peristiwa, dalam sesama dan semesta. Nah kekuatan itulah yang mendasari tapa ngrame.

Pemilik hak cipta: Aloys Budi Purnomo Pr – bersama Mas Hendi – Walkot Semarang dan Gus Lukman di Ketileng (Minggu, 1 Juli 2018)

Dalam tradisi Katolik misalnya, ada pertapa-pertapa yang hidup dalam biara terpencil dan jauh dari keramaian masyarakat warga. Mereka menjalani aktivitas terpisah dari kehidupan harian biasa. Itulah pertapa-pertapa tradisional dan konvensional. Namun, ada juga tarekat-tarekat atau kongregasi yang memadukan antara keheningan dan karya harian. Tetapi, ada pula yang menjalani tapa ngrame. Nah, para imam diosesan atau sering disebut romo projo (saya termasuk di dalamnya, sebagai romo projo Keuskupan Agung Semarang), boleh dibilang termasuk tipe yang menghayati tapa ngrame. Melayani umat dan masyarakat dan hidup di tengah umat dan masyarakat, namun tetap dalam jati diri imamat. Dalam setiap aktivitas itulah, kasih Tuhan dihadirkan dan diwartakan, pelayanan kepada umat dan masyarakat diutamakan melalui tugas-tugas harian (sehari-hari) apa pun tugas pelayanan yang dipercayakan kepada yang bersangkutan.

Itulah indahnya tapa ngrame sebagaimana terjadi dan dihayati oleh Gus Lukman dan para Kakang-Mbakyu Santri Lawas maupun Santri Anyar yang menjadi bagian dari Ponpes Salafiyah Az-Zuhri di Ketileng, Semarang. Maka, kepada Gus Lukman, dalam pembicaraan tentang tapa ngrame itu, saya pun langsung menyatakan bahwa hati kita sama. Kami para romo projo dalam tradisi Gereja Katolik pun, dalam arti tertentu, belajar dan terus-menerus belajar dalam praksis sehari-hari untuk menjalani tapa ngrame tersebut. Dan itu, dilakukan seumur hidup, hingga kematian menjemput.

Referensi pihak ketiga

Demikian refleksi tentang indahnya tapa ngrame, menghayati keheningan dalam keramaian dunia untuk melayani Tuhan, sesama dan semesta. Semoga bermanfaat. Terima kasih. Salam peradaban kasih. Tuhan memberkati kita semua.***

Kampus Ungu Unika Soegijapranata, 3/7/2018

Sumber: refleksi pribadi terinspirasi pembicaraan dengan Gus Lukman di Ponpes Salafiyah Az-Zuhri, Ketileng, Semarang (Minggu, 1/7/2018)

Sumber
https://idstory.ucnews.ucweb.com/story/385931610878691?uc_param_str=dnvebifrmintcpwidsudsvnwpflameefutch&url_from=wmconstomerwebsite&stat_entry=personal&comment_stat=1

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.