Inspiration

Jangan Bilang Sudah Total Melayani, Bila Belum Seperti Ini, Bagaimana?

Sahabat Peradaban Kasih yang terkasih. Pitutur luhur yang satu ini tertuju pada siapa yang miskin secara material. Namun ternyata, ungkapan yang senada juga menjadi refleksi spiritual yang mendalam tentang totalitas pelayanan dan karya demi kemanusiaan dan keselamatan. Seperti apa pitutur luhurnya? Bagaimana penalarannya? Kita simak yuk.

Referensi pihak ketiga

Kandhang langit, bantal ombak, kemul mega. Begitulah kearifan lokal pitutur Jawa itu dirumuskan. Secara harafiah, falsafah itu berarti berkandang langit, berbantal ombak, dan berselimutkan mega. Apa arti dan maknanya?

Secara material, falsafah itu merupakan deskripsi terhadap siapa saja yang tidak memiliki rumah sebagai tempat tinggal yang tetap. Jangankan rumah, bantal dan selimut pun ia tak punya. Ombak adalah bantalnya. Mega adalah selimutnya. Maka, deskripsi pitutur ini tertuju kepada mereka yang disebut gelandangan yang hidupnya berada di sembarang tempat. Itulah arti dan makna material pitutur luhur ini.

Referensi pihak ketiga

Tapi jangan salah. Ada makna spiritual pitutur luhur itu, yakni tentang pelayanan bagi dunia dengan tangan dan hati seutuhnya, totalitas. Ternyata, pitutur luhur ini serupa dengan sabda kehidupan yang disampaikan Nabi Isa AS (atau yang dalam tradisi Kristiani disebut Yesus). Suatu hari, Yesus pernah bersabda begini. “Serigala mempunyai liang dan burung mempunyai sarang, tetapi Anak Manusia tidak mempunyai tempat untuk meletakkan kepala-Nya.” (Mat 8:20). Nah, sabda ini dalam arti tertentu serupa dengan pitutur luhur kearifan lokal falsafah Jawa tadi, namun lebih bermakna spiritual ketimbang material. Mengapa?

Dengan sabda itu, hendak ditunjukkan kepada kita semangat pelayanan yang ditandai totalitas. Totalitas itu membuat yang bersangkutan tak sempat istirahat, apalagi tidur. Bahkan, makan pun kadang tidak sempat. Semua itu dilakukan dalam rangka melayani kemanusiaan dan terwujudnya keselamatan.

Referensi pihak ketiga

Karenanya, selain menjadi deskripsi tentang suasana material kemiskinan gelandangan, kiranya, pitutur luhur kandhang langit, bantal ombak, kemul mega secara rohani juga bisa dimaknai dalam rangka pelayanan yang total. Pelayanan demi kemanusiaan dengan terus bergerak dalam pengembaraan spiritual di bawah kolong langit, berbantalkan ombak dan berselimutkan mega. Bahkan lebih dari itu, kalau serigala saja punya liang dan burung punya sarang, pelayan-pelayan total untuk kemusiaan dan keselamatan bahkan tak sempat meletakkan kepalanya di atas bantal. Seluruh hidupnya diabdikan untuk kemanusiaan dan pelayanan keselamatan tanpa pamrih. Sungguh luar biasa dahsyat! Begitulah peradaban kasih dibangun dan diwujudkan. Terima kasih. Salam peradaban kasih. Tuhan memberkati kita semua.***

Kampus Ungu Unika Soegijapranata, 2/7/2018

Sumber: refleksi pribadi terinspirasi Pitutur Luhur Budaya Jawa (2017:175) dan Mateus 8:20

Sumber
https://idstory.ucnews.ucweb.com/story/3204834713320958?uc_param_str=dnvebifrmintcpwidsudsvnwpflameefutch&url_from=wmconstomerwebsite&stat_entry=personal&comment_stat=1

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.