Inspiration

Mudahnya Berburuk Sangka Hingga Bersikap Pilih Kasih, Kenapa Harus Begitu?

Sahabat Peradaban Kasih yang terkasih. Betapa mudah kita tergoda bersikap pilih kasih. Itu yang disebut sikap diskriminatif. Bagaimana kearifan lokal Jawa menyikapi dan mengajarkan agar kita tidak pilih kasih?

Referensi pihak ketiga

Inilah pitutur luhur kearifan lokal falsafa Jawa tentang sikap pilih kasih. Emban cindhe emban siladan. Sebagai wewaler atau larangan, biasanya lalu ditambah dengan kata aja (= jangan). Aja emban cindhe emban siladan. Dalam hidup ini, janganlah bersikap pilih kasih. Mengapa? Karena, mata kita bisa salah melihat, telinga kita bisa salah mendengar, bibir kita bisa salah bicara. Namun, hati dan cinta kasih dalam kejujuran apa adanya tak akan salah sebab nurani tak akan berbohong di hadapan manusia bahkan Tuhan!

Referensi pihak ketiga

Maka jangan pilih kasih. Yang dimaksud bersikap pilih kasih adalah membuat perlakukan tidak sama terhadap orang-orang yang berada dalam tanggungjawab asuhan atau bimbingannya. Sikap pilih kasih dianggap tidak baik maka tak boleh terjadi, apalagi bagi siapa saja yang berada dalam posisi sebagai pemimpin. Memang, adalah kecenderungan seseorang tergoda untuk bersikap pilih kasih. Ia lebih mengasihi dan percaya secara berlebihan kepada orang yang satu dan memandang tidak penting terhadap yang lain. Bahaya pula bila orangtua pilih kasih pada anak-anaknya, guru pada murid-muridnya, pemimpin pada anggota-anggotanya dan seterusnya.

Tentu sangat wajar bahwa kita tidaj bisa menyamaratakan sikap terhadap semua orang. Nah, sikap emban cindhe emban siladan itu menjadi tidak baik justru karena dilandasi oleh hal-hal yang subyektif. Tidak memperlakukan semua menurut tolok ukur obyektif. Hal ini tentu akan menodai upaya membangun peradaban kasih. Karenanya, baiklah kita belajar untuk bersikap adil, tanpa prasangka, bersikap obyektif dan jangan pilih kasih. Bahkan Tuhan pun tak pernah pilih kasih. Tuhan menurunkan hujan bagi orang baik dan orang jahat, demikian pula matahari terbit pun untuk orang baik maupun orang jahat. Siapakah kita hingga berani pilih kasih dalam hidup ini? Janganlah berlaku demikian!

Referensi pihak ketiga

Salam peradaban kasih. Terima kasih. Tuhan memberkati kita semua dengan hati yang tanpa prasangka buruk terhadap sesama.***

JoharT Wurlirang, 30/6/2018

Sumber: refleksi pribadi terinspirasi Pitutur Luhur Budaya Jawa (2017)

Sumber
https://idstory.ucnews.ucweb.com/story/1603822331359624?uc_param_str=dnvebifrmintcpwidsudsvnwpflameefutch&url_from=wmconstomerwebsite&stat_entry=personal&comment_stat=1

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.