Inspiration

Pentingnya Sujud Menyembah Berserah Kepada Tuhan, Untuk Apa?

Sahabat Peradaban Kasih yang terkasih. Ada hal menarik yang masih bisa direnungkan dalam kaitannya dengan olah (ke)batin(an) dan kerendahan hati. Itu tampak dalam upaya menggapai pengosongan diri, hingga Tuhan sendirilah yang mengisi kehidupan manusia dengan daya kuasa Roh Kasih-Nya. Tidak mudah, namun mari kita coba renungkan dengan cara yang sesederhana mungkin. Kita simak yuk.

Referensi pihak ketiga

Prinsipnya tiga hal harus diperhatikan, yakni suwungsujud pasrah lan sumarah. Suwung adalah pengosongan diri. Sujud pasrah itu sujud menyembah. Sumarah berarti penyerahan diri. Semua itu berpusat pada Tuhan. Asal pusatnya Tuhan dan bukan diri sendiri, itu sudah benar. Tapi kalau pusatnya diri sendiri, nah, ini salah! Mengapa?

Referensi pihak ketiga

Suwung, sujud pasrah dan sumarah itu ibarat jalan atau cara untuk mendekatkan diri dengan Tuhan bukan tujuan. Tujuannya adalah Tuhan. Maksudnya, agar manusia semakin dekat dengan Tuhan, mengalami persatuan kasih dengan Tuhan. Buahnya adalah kerendahan hati dalam pelayanan yang memberi kesejahteraan dan keadilan kepada sesama dan semesta.

Referensi pihak ketiga

Proses perjumpaan dengan Tuhan itulah yang dalam tradisi kejawen disebut manunggaling kawula-Gusti. Apa itu? Dalam permenunganku, manunggaling kawula-Gusti itu bukan ajaran, melainkan pengalaman rohani. Dalam hal ini, saya setuju dengan pendapat yang mengatakan bahwa manunggaling kawula-Gusti itu pertama-tama pengalaman rohani ketika manusia jumbuh dengan Tuhan. Terjadilah yang disebut wihdatul suhud, yakni saat manusia mengalami kedekatan dengan Tuhan dalam taraf kasih yang mendalam. Kedekatan itu menjadi persatuan manusia dengan Tuhan dalam kasih dan berbuah pada kasih kepada Tuhan, sesama dan semesta (memayu hayuning bawana). Namun betapa pun manusia adalah manusia dan Tuhan adalah Tuhan. Persatuan manusia dengan Tuhan tak pernah membuat manusia kehilangan jati dirinya sebagai manusia dan Tuhan sebagai Tuhan. Meminjam kata-kata Yesus, “Aku dan Bapa satu, Aku dalam Bapa, Bapa dalam Aku, namun Bapa lebih besar dari Aku”.

Referensi pihak ketiga

Maka, persatuan manusia dengan Tuhan hanya bisa terjadi manakala manusia mau mengosongkan dirinya (suwung), sujud berserah dan sumarah kepada Tuhan. Syaratnya, bersikap rendah hati dan hanya mengandalkan kekuatan Tuhan. Inilah pentingnya sujud menyembah dan berserah kepada Tuhan. Persatuan oleh pengosongan diri itu disebut pengalaman kenotik (pengosongan diri dalam perendahan diri yang serendah-rendahnya) dan membiarkan Tuhan mengisi kekosongan itu dengan daya kuasa Roh Kasih-Nya yang mengangkat, meninggikan, menghidupkan dan memuliakan melulu seturut dengan kehendak-Nya saja.

Referensi pihak ketiga

Demikian semoga bermanfaat. Apa pesannya? Apa pun agama dan kepercayaan kita, marilah kita kian berserah kepada Tuhan dengan segala kerendahan hati melalui pengosongan diri kita. Penyerahan diri itulah yang pasti membuat kita mengalami kedekatan dengan Tuhan. Semoga membuahkan peradaban kasih. Salam peradaban kasih. Tuhan memberkati kita semua.***

JoharT Wurlirang, 3/7/2018

Sumber: refleksi pribadi terinspirasi Mistik Kejawen (2018: 37-49)

Sumber
https://idstory.ucnews.ucweb.com/story/3826498258181493?uc_param_str=dnvebifrmintcpwidsudsvnwpflameefutch&url_from=wmconstomerwebsite&stat_entry=personal&comment_stat=1

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.