Inspiration

Indahnya Bersikap Jangan Manis Di Bibir Lain Di Hati, Mengapa? Bacalah Sejenak Saja!

Sahabat Peradaban Kasih yang terkasih. Inspirasi kearifan lokal yang satu ini baik untuk diingat lagi dan diwartakan dalam rangka membangun sikap jujur dan tulus ikhlas. Seperti apakah kearifan lokalnya? Kita simak yuk. Sejenak saja!

Referensi pihak ketiga

Rumusannya begini. Abang-abang lambe. Abang itu merah. Lambe itu bibir. Bibir dibikin merah bukan secara alamiah, melainkan dengan polesan warna. Di masa lalu, pemerah bibir para leluhur kita adalah buah mengunyah sirih. Proses mengunyah sirih menghasilkan warna merah bila dicampur denga ramuan lain. Warna merah itu berupa dubang (idu abang, yakni air ludah warna merah) dan bibir yang mengunyah sirih pun menjadi merah, entah perempuan maupun lelaki.

Di zaman now, jarang sudah kita jumpai orang makan sirih kecuali di daerah tertentu. Pewarna bibir sudah modern, menggunakan lipstik. Namun, baik daun sirih maupuh lipstik, warna merah itu palsu. Dari situlah muncul pitutur luhur abang-abang lambe. Apa artinya?

Referensi pihak ketiga

Dalam peribahasa Indonesia, abang-abang lambe itu sama dengan manis di bibir lain di hati. Perkataan hanyalah polesan bibir, tidak tulus dari kedalaman hati yang penuh kasih. Kata-kata manis yang enak didengar tanpa ditopang realitas sebagai kebenaran. Kecenderungannya bersikap basa-basi.

Manis di bibir lain di hati bisa berbahaya sebab menjadi sumber kehancuran mentalitas diri pribadi, masyarakat, komunitas, bangsa bangsa umat manusia. Ibarat sikap basa-basi, hilang basanya tinggallah basi. Tidak enak dengan aroma tak sedap nan busuk.

Referensi pihak ketiga

Inilah inspirasi kearifan lokal yang perlu dikembangkan lagi dewasa ini. Aja abang-abang lambe. Jangan manis di bibir lain di hati. Hidup bersama dibangun dalam sikap yang tulus dan ikhlas, bukan dengan basa-basi yang menyembulkan puncak gunung es kebohongan dan tipu daya setan! So, girls and guys, hati-hati dengan sikap abang-abang lambe. Kita bangun hidup bersama saja yang dilandasi kasih persaudaraan yang tulus dan ikhlas dalam semangat cinta kasih. Itu baru namanya indah! Terima kasih. Salam peradaban kasih. Tuhan memberkati kita semua.***

JoharT Wurlirang, 19/7/2018

Sumber: refleksi pribadi terinspirasi Pitutur Luhur Budaya Jawa (2017:1)

Sumber
https://idstory.ucnews.ucweb.com/story/3044261910261912?uc_param_str=dnvebifrmintcpwidsudsvnwpflameefutch&url_from=wmconstomerwebsite&stat_entry=personal&comment_stat=1

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.