Inspiration

Dahsyatnya Rasa-Perasaan Manusia dalam Kesadaran akan Tuhan dan Kehidupan Sejati, Mengapa?

Sahabat Peradaban Kasih yang terkasih. Manusia itu hidup tak hanya dengan pikiran tetapi juga perasaan. Masyarakat Timur, khususnya masyarakat Jawa, memang dikenal sangat ditandai oleh keunikan rasa-pangrasa. Itulah sebabnya lahirlah falsafah berikut ini. Saya senang dan bersyukur menemukan meme tentang hal itu yang memberi inspirasi dan motivasi untuk menulis artikel ini. Kita simak yuk.

Referensi pihak ketiga

Manungsa manunggale ing rasa. Sejatine urip iku ing rasa. Rasa iku kelebu ing jerone ati. Urip iku mati mati sejatine urip. Urip sejati urip satemene urip lebur dadi siji marang Hyang Maha Gusti. Rumusan kutipan dalam gambar itu panjang dan mendalam. Terdiri dari sejumlah kalimat. Itu menjadi bagian dari proses panjang permenungan tentang manunggaling kawula kalian Gusti. Proses itu bukan melalui pikiran melainkan rasa-pangrasa (perasaan). Rasa-perasaan itu bukan soal fisik material (rasa manis, asin, pahit atau lainnya yang serupa) melainkan rasa-perasaan yang bersumber dari kedalaman hati.

Dari kedalaman hati itulah rasa-perasaan manusia muncrat kadya toya (memancar laksana air mancur) yang memberi pengaruh bagi seluruh kehidupannya. Ibaratnya, seperti disampaikan oleh Sang Sabda Kehidupan, dari dalam hati orang yang percaya (= beriman, apa pun agama dan kepercayaannya) akan memancar sumber mata air kehidupan.

Itulah sebabnya manusia harus menyatu dengan rasa yang bersumber dari kedalaman hati. Masuk dalam keprihatinan (keperihatinan = hati yang pedih) sampai kematian insani demi beroleh kehidupan Ilahi. Itulah buah dari rasa persatuan, persatuan rasa dengan Gusti Sangkan Paraning Dumadi. Itulah hidup yang sejati dan kesejatian hidup. Buahnya adalah kepekaan pada kebutuhan sesama dalam rupa belarasa yakni hati yang tergerak oleh belas kasihan dan kerahiman.

Demikianlah refleksi spontan ini saya bagikan. Mohon maaf bila ada kekurangan atau kurang mendalam, namun rasaku itu cukup untuk sekadar mengenal tahap awal pentingnya rasa-pangrasa dalam hidup manusia. Semoga bermanfaat. Saya senang bila ada tanggapan pendalaman atas refleksi spontan ini sehingga makna yang kita temukan semakin mendalam. Silahkan disampaikan melalui kolom komentar. Pastinya akan bermanfaat dan menjadi berkat. Salam peradaban kasih. Tuhan memberkati kita semua dengan rasa-perasaan positif dan belarasa.***

JoharT Wurlirang, 26/7/2018

Sumber: refleksi pribadi dalam keheningan pagi, terinspirasi meme gambar sampul artikel ini.

Sumber
https://idstory.ucnews.ucweb.com/story/3742255252153701?uc_param_str=dnvebifrmintcpwidsudsvnwpflameefutch&url_from=wmconstomerwebsite&stat_entry=personal&comment_stat=1

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.