Inspiration

Inilah Inspirasi Sepi Ing Pamrih, Kalau Bisa Membatu, Mengapa Harus Bilang Tidak?

Sahabat Peradaban Kasih yang terkasih. Kearifan lokal falsafah Jawa yang satu ini selalu menarik untuk direnungkan. Makna yang satu ini yang akan kubagikan ini, pasti bersifat baru dari biasanya. Penasaran? Mari kita baca!

Referensi pihak ketiga

Sepi ing pamrih rame ing gawe. Itulah pitutur luhurnya. Lalu makna baru seperti apa yang bisa direnungkan? Begini. Biasanya, pitutur luhur falsafah Jawa ini dibaca dalam konteks kerja bersama. Namun, menurutku, kearifan lokal ini juga bis menjadi penyemangat pribadi dalam melayani. Ya, dalam rangka pelayanan, inspirasi kearifan lokal ini memberi motivasi yang dahsyat. Di dalamnya termuat semangat yang kuat untuk memberikan diri dalam rangka pelayanan yang kepada umat dan masyarakat dari sisi pribadi.

Inilah contohnya. Tiba-tiba saya mendapat pesan via WA dalam bentuk pertanyaan. Apakah saya bisa membantu melayani Misa Sabtu sore di Tanah Mas karena Romo yang bertugas sakit (28/7/2018)? Saya pun langsung menjawab: ya! Tanpa pikir panjang, meskipun itu bukkan tanggung jawab saya dan saya pun bisa menolaknya. Itulah yang disebut sepi ing pamrih rame ing gawe. Siap sedia menolong dan melayani saat dibutuhkan, dan nyatanya saya bisa. Kecuali, bila pada saat yang bersamaan saya ada jadwal lain, pasti lalu saya jawab: maaf, tidak bisa!

Demikian, semoga bermanfaat. Terima kasih. Salam peradaban kasih. Tuhan memberkati kita semua.***

JoharT Wurlirang, 28/7/2018

Sumber: refleksi pribadi

Sumber
https://idstory.ucnews.ucweb.com/story/3799458654743538?uc_param_str=dnvebifrmintcpwidsudsvnwpflameefutch&url_from=wmconstomerwebsite&stat_entry=personal&comment_stat=1

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.