Inspiration

Inspirasi Falsafah Jawa: Mengapa Harus Umuk Saat Menang, dan Ngamuk Saat Kalah? Janganlah!

Sahabat Peradaban Kasih yang terkasih. Umuk itu sama dengan sombong. Ngamuk sama dengan kalap marah membabi buta. Dua-duanya setali tiga uang tidak ada gunanya dalam menjalani kehidupan ini. Itulah inspirasi dan motivasi yang ditawarkan oleh falsafah Jawa sebagai kearifan lokal.

Referensi pihak ketiga

Menang ora umuk, kalah orang ngamuk. Saat menggapai kemenangan tidak usahlah menyombongkan diri. Demikian pula saat mengalami kekalahan, ya tidak usah marah-marah, mengamuk, sampai-sampai bersikap destruktif anarkhistik. Jangan ya. Baik umuk maupun ngamuk itu dilarang oleh agama, apa pun agama dan kepercayaan kita.

Alih-alih bersikap umuk dalam kemenangan, dan ngamuk dalam kekalahan, mengapa tidak saling bergandengan tangan merayakan kegembiraan dalam keberagaman? Bukankah kekalahan itu hanyalah kemenangan yang tertunda? Maka, meski kalah, tetaplah bergembira lalu mempersiapkan diri sebaik mungkin untuk langkah selanjutnya, agar di kemudian hari beroleh kemenangan. Dan, kalau sudah beroleh kemenangan, tetaplah bersikap rendah hati, tidak usah umuk. Sikap umuk itu yang juga bisa merangsang pihak yang kalah jadi ngamuk! So, jangan umukan dan jangan pula ngamukan! Okay?! Bagaimana menurut kamu?

Terima kasih. Salam peradaban kasih. Tuhan memberkati kita semua.***

Kampus Ungu Soegijapranata, 25/7/2018

Sumber: refleksi pribadi

Sumber
https://idstory.ucnews.ucweb.com/story/4385310172077378?uc_param_str=dnvebifrmintcpwidsudsvnwpflameefutch&url_from=wmconstomerwebsite&stat_entry=personal&comment_stat=1

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.