Inspiration

Janganlah Ikut-Ikutan Apalagi dalam Hal Keburukan, Lebih Baik Berprinsip untuk Kebaikan!

Sahabat Peradaban Kasih yang terkasih. Dewasa ini, kalau orang tidak mempunyai prinsip hidup yang baik dan berpegang teguh padanya, mudah sekali lantas terombang-ambing, lalu jatuh terpuruk dari tebing kehidupan ini dan akan terguling-guling (gulung koming)! Belum lagi, jiwa terluka dan akan ndleming! Bagaimana kearifan lokal falsafah Jawa menginspirasi kita, agar semua itu tak menimpa diri kita? Mari kita simak bersama.

Referensi pihak ketiga

Kearifan lokal itu dirumuskan dalam pitutur luhur budaya Jawa sebagai berikut. Aja kaya belo melu seton, ela-elu anut grubyuk! Belo itu anak kuda. Lah kok ikut-ikutan pertemuan di hari setu (sabtu), nggak nyambung lah. Ia hanya ela-elu anut grubyuk, tidak tahu apa yang dilakukannya. Karena ketidaktahuan itulah, maka bahaya menghadang di jalan hidupnya. Jangan sampai terjadi seperti itu!

Manusia jangan seperti anak kuda yang tak tahu apa yang dilakukannya. Maka, hendaklah mempunyai prinsip yang baik, dan peganglah prinsip yang baik itu dengan tekun dan teguh pula. Kalau orang tidak punyai prinsip dan hanya ikut-ikutan saja, apalagi dalam hal yang buruk, itu sangat berbahaya bagi dirinya sendiri dan apalagi bagi sesama, bahkan semesta alam.

Referensi pihak ketiga

Sekarang ini, sikap ela-elu anut grubyuk kaya belo melu seton tampak jelas dalam kehidupan masyarakat kita yang hanya ikut-ikutan tanpa tahu dengan baik apa yang diikuti. Semakin berbahaya lagi kalau sikap itu ditunggangi dengan maksud-maksud politik yang jahat, bukan demi kebaikan hidup bersama, tetapi melulu demi kekuasaan yang bahkan dengan sepak terjang yang korup.

Sudah saatnya, masyarakat kita mengembangkan inspirasi dan motivasi yang baik dalam kehidupan bersama. Meski kadang harus dihadang oleh orang-orang yang meradang dengan sikap garang, namun hidup punya prinsip itu baik. Jangan hanya ikut-ikutan suara yang lantang seakan itu pasti menang! Landasilah setiap perilaku dengan dasar-dasar yang benar, bukan sekadar karena mau makar dengan cara-cara yang vulgar dan kasar! Ibarat jualan barang kebutuhan, tak akan cara menjajakan menggunakan kekerasan dan kebohongan, tetapi dengan cara yang cantik dan apik sehingga menarik.

Referensi pihak ketiga

Aja kaya belo melu seton, ela-elu anut grubyuk! Ayo, Janganlah ikut-ikutan apalagi dalam hal keburukan. Lebih baik berprinsip untuk mewujudkan kebaikan dan kesejahteraan hidup bersama. Bukankah begitu, Sobat? Bagaimana menurutmu? Boleh donk memberi komentar yang benar. Terima kasih. Salam peradaban kasih. Tuhan memberkati kita semua.***

Kampus Ungu Unika Soegijapranata, 2/8/2018

Sumber: Pitutur Luhur Budaya Jawa (2017:57)

Sumber
https://idstory.ucnews.ucweb.com/story/3894621011940766?uc_param_str=dnvebifrmintcpwidsudsvnwpflameefutch&url_from=wmconstomerwebsite&stat_entry=personal&comment_stat=1

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.