Inspiration

Kalau Pengampunan Tanpa Batas Lebih Indah, Mengapa Harus Dendam? Mari Belajar Mengampuni!

Sahabat Peradaban Kasih yang terkasih. Pitutur luhur falsafah Jawa ini sangat mendalam dan cocok dengan bahan permenungan umat Katolik sedunia seturut penanggalan liturgi hari Kamis, 16/8/2018. Seperti apakah pitutur luhurnya dan bagaimana bisa nyambung dengan bacaan Injil pada hari Kami pekan ke-19 (16/8/2018)? Mari kita simak.

Pemilik hak cipta: Aloys Budi Purnomo Pr

Ada ungkapan dalam bahasa Jawa: sing gedhe pangapuramu menawa ana sing luput marang sliramu. Artinya: milikilah rasa pengampun yang besar bila ada yang bersalah kepadamu. Itu arti harafiahnya. Dan secara rohani, dalam agama dan kepercayaan apa pun diajarkan agar kita memiliki hati yang mengampuni.

Nah tentang berapa banyak atau berapa kali kita harus mengampuni, terdapat kisah dalam Injil sebagai berikut. Sekali peristiwa datanglah Petrus kepada Yesus dan berkata, “Tuhan, sampai berapa kali aku harus mengampuni saudaraku jika ia berbuat dosa terhadap aku?Sampai tujuh kalikah?”

Yesus menjawab, “Bukan hanya sampai tujuh kali, melainkan sampai tujuh puluh kali tujuh kali.” Sebab hal Kerajaan Surga itu seumpama seorang raja yang hendak mengadakan perhitungan dengan hamba-hambanya.Setelah ia mulai mengadakan perhitungan, dihadapkanlah kepadanya seorang yang berhutang sepuluh ribu talenta.Tetapi karena orang itu tidak mampu melunasi utangnya, raja lalu memerintahkan, supaya ia beserta anak isteri dan segala miliknya dijual untuk membayar utangnya.

Maka bersujudlah hamba itu dan menyembah dia, katanya, “Sabarlah dahulu, segala utangku akan kulunasi. Tergeraklah hati raja oleh belas kasihan akan hamba itu, sehingga hamba itu dibebaskannya, dan utangnya pun dihapuskannya.

Tetapi ketika hamba itu keluar, ia bertemu dengan seorang hamba lain yang berutang seratus dinar kepadanya. Kawan itu segera ditangkap dan dicekik, katanya, “Bayarlah hutangmu!Maka sujudlah kawan itu dan minta kepadanya, “Sabarlah dahulu, utangku itu akan kulunasi.Tetapi ia menolak dan menyerahkan kawannya ke dalam penjara sampai semua utangnya ia lunasi.

Melihat itu kawan-kawannya yang lain sangat sedih, lalu menyampaikan segala yang terjadi kepada tuan mereka.Kemudian raja memerintahkan memanggil orang itu dan berkata kepadanya, “Hai hamba yang jahat! Seluruh utangmu telah kuhapuskan karena engkau memohonnya. Bukankah engkau pun harus mengasihani kawanmu seperti aku telah mengasihani engkau?”

Maka marahlah tuannya dan menyerahkan dia kepada algojo-algojo, sampai ia melunasi seluruh utangnya.Demikian pula Bapa-Ku yang di surga akan berbuat terhadapmu, jika kalian tidak mengampuni saudaramu dengan segenap hatimu.” (Mat 18:21-19:1)

Sing gedhe pangapuramu sama dengan kisah Injil tadi atau sebaliknya, kisah dalam Injil itu sama dengan kearifan lokal falsafah Jawa tentang pengampunan. Kita diajak untuk mengampuni tanpa batas. Tujuh pulub kali tujuh kali. Itu sama dengan sing gedhe pangapuramu itu.

Di tengah sulitnya kita bisa mengampuni tanpa batas, kearifan lokal sing gedhe pangapuramu dan ampunilah 70×7 kali semoga dapat kita lakukan dalam kehidupan kita sehari-hari. Bagaimana menurutmu Gan?

Semoga bermanfaat. Terima kasih. Salam peradaban kasih. Tuhan memberkati kita semua.***

JoharT Wurlirang, 16/8/2018

Sumber: refleksi pribadi terinspirasi falsafah Jawa dan Mateus 18:21-19:1

Sumber https://idstory.ucnews.ucweb.com/story/928010735902798?uc_param_str=dnvebifrmintcpwidsudsvnwpflameefutch&url_from=wmconstomerwebsite&stat_entry=personal&comment_stat=1

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.