Inspiration

Ngangsu Kawruh! Jangan Takut, Maju Terus Demi Kesejahteraan dan Kebaikan!

Sahabat Peradaban Kasih yang terkasih. Dalam artikel saya yang berjudul “Jagalah Agar Semangat Tetap Menyala, Aja Mung Obor-Obor Blarak! Bagaimana Caranya?” (lihat tz.ucweb.com/8_3emqI) saya menyebutkan istilah “creed and passion” sebagai salah satu istilah yang disampaikan Rektor Unika Soegijapranata, Prof Dr Frederik Ridwan Sanjaya, MS.IEC pada kesempatan sambutan dalam Upacara Pembukaan Pembekalan Terpadu Mahasiswa Baru (PTMB) Unika Soegijapranata. Mohon maaf, ternyata, saya salah mendengar, meski maknanya sama yakni sesuai dengan falsafah Jawa aja obor-obor blarak. Bagaimana persisnya yang benar? Kita simak yuk!

Referensi pihak ketiga

Yang di telinga saya terdengar “creed” ternyata yang dimaksudkan adalah “grit” sebagaimana dipopulerkan oleh Angela Duckworth dalam buku yang berjudul Grit: The Power of Passion and Perseverance (2016). Begitulah, Mas Benny Setianto dan Prof Ridwan memberikan ralat, koreksi dan masukan atas istilah tersebut. Yang benar “grit” bukan “creed”. Makna yang terkandung di dalamnya memang sama: ketabahan, keyakinan, daya tahan dan semangat menyala tidak seperti obor-obor blarak dalam mengembangkan bakat dan talenta untuk bangsa dan untuk manusia.

Referensi pihak ketiga

Nah, dari pengalaman itu, saya menemukan falsafah Jawa yang bisa menjadi konteks permenungan ini. Sepanjang hidup kita, kita ini memang selalu harus belajar dan belajar. Itulah yang dalam pitutur luhur falsafah Jawa disebut ngangsu kawruh. Ngangsu kawruh tak hanya soal menimba ilmu di kelas, melainkan juga menimba ilmu dalam kehidupan sehari-hari.

Istilah “grit” yang dalam bahasa Ingris pada umumnya berarti pasir atau gigi gemeretak, ternyata memiliki makna baru dalam perkembangan bahasa. Makna baru dari “grit” adalah daya tahan, ketabahan, ketekunan, dan keyakinan untuk terus maju dalam menggapai kehidupan yang lebih baik, yang lebih sejahtera, dan yang lebih bermanfaat bagi umat dan masyarakat.

Referensi pihak ketiga

Dalam hal bahasa saja, misalnya, kita mengalami kemajuan yang sangat pesat. Salah satunya berasal dari kata “grit”. Ada lagi kita kenal “phubbing” yang dewasa ini bahkan menjadi penyakit baru yang menjangkiti manusia akibat perangkat gadget yang membuat yang bersangkutan tercerabut dari akar sosial dan terbelenggu dalam penjara individual. Maka lalu ada gerakan stop phubbing if you care!

Begitulah bahasa. Di masa lalu, kita masih membaca “Thou Art” dan kini kita mengenalnya sebagai “You are”. Di masa lalu, kita memanggil orangtua kita ayah dan ibu, namun prokem berkembang membuat kita menyapa mereka bokap dan nyokap. Begitulah, maka, kita tak perlu malu dan menjadi malas untuk terus belajar dan belajar.

Referensi pihak ketiga

Ngangsu kawruh dalam pitutur luhur falsafah Jawa berarti berlaku seumur hidup! So, terima kasih kepada Mas Benny dan Prof Ridwan yang memberikan ralat dan koreksi serta masukan yang sangat bagus dan bermakna atas kosa kata baru yakni “grit” yang berarti daya tahan, rasa-perasaan komitmen, ketabahan, keyakinan dan tekad untuk maju dan mengembangkan segala bakat dan talenta untuk bangsa dan umat manusia!

Demikian, terima kasih. Salam peradaban kasih. Tuhan memberkati kita semua.***

Kampus Ungu Unika Soegijapranata, 15/8/2018

Sumber: refleksi pribadi terinspirasi dari dialog dengan Prof Dr F Ridwan Sanjaya dan Benny Setianto tentang “grit”

Sumber https://idstory.ucnews.ucweb.com/story/783642601108411?uc_param_str=dnvebifrmintcpwidsudsvnwpflameefutch&url_from=wmconstomerwebsite&stat_entry=personal&comment_stat=1

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.