Inspiration

Bikin Nangis! Kebaikan Tak Hanya Akan Tampak Tapi Akan Menang, Mari Berjuang Bersama!

Sahabat Peradaban Kasih yang terkasih. Sudah viral di medsos dan kita baca di broadcast WA kesaksian jujur yang bikin nangis. Hanya orang yang berhati nurani saja yang tersentuh bahkan tersedu membaca kesaksian Bapak ini. Pasti kamu juga pernah membacanya. Ijinkan saya menarasikan ulang di sini dalam perspektif falsafah Jawa bahwa becik iku ketitik. Yang baik pasti tak hanya akan tampak melainkan juga akan menang secara manusiawi maupun Ilahi

Referensi pihak ketiga

Kearifan lokal itu tampak nyata dalam kesaksian Bapak Muh. K. Anwar ini atas sikapnya kepada Presiden Jokowi. Mari kita simak kesaksian Bapak ini. Dari Tanjung, Lombok Utara di bulan Agustus 2018, Bapak Muh. K. Anwar menulis suratnya kepada Presiden Jokowi yang kemudian menjadi viral di medsos. Saya berharap ini bukan hoax melainkan kebenaran.

Awalnya membenci

Anwar mengaku bahwa dirinya membenci Jokowi. “Saya bukan pendukungmu, bahkan saya pembencimu. Saya tak rela engkau kembali jadi presiden. Bukan karna harga-harga pada mahal seperti kata orang, toh kami masih pada mampu untuk belanja, padahal kami bukan orang mampu. Saya menolakmu karna masalah idiologi, masalah kapasitasmu dan semua predikat tentangmu seperti yang saya yakini selama ini. Maka ketika gempa menimpa kami, dan engkau datang berkunjung saya tetap tidak respek. Toh itu tugasmu pak presiden.”

Dengan jujur Anwar menulis, “…. ketika engkau datang ke Lombok Utara dan masyarakat pada menyambutmu, saya diam saja dan hanya melihatmu dari jauh dengan rasa sinis. Bahkan saya melarang anak istri untuk ikut larut dalam euforia kegembiraan menyambutmu. Padahal saya lihat istri saya pengen juga mendekat, ikut salaman bahkan berfoto-foto seperti yang dilakukan masyarakat lainnya.

Awal perubahan

Ternyata, sikap menolak dan membenci itu pelan-pelan berubah gara-gara peristiwa ini meski belum sepenuhnya seperti tampak dalam kutipan ini. “Sampai datang waktu sholat. Kulihat bapak presiden tetap ingin sholat jamaah bersama kami walau diingatkan sarana yang tidak memungkinkan. Dengan tenang bapak presiden menuju gentong biru tempat penampungan air untuk berwudhu. Sangat hati-hati dan memakai air sedikit sekali, mungkin karna tahu air bersih sulit kami dapatkan. Dan agar jamaah lainnya tetap kebagian air untuk berwudhu. Lalu menyilahkan orang lain berwudhu di tempat itu. Sampai pada saat sholat saya masih mencari-cari kesalahannya. Bacaannya standar saja seperti imam lainnya. Orang-orang pun bersalaman dengan bapak presiden tanpa canggung. Tapi saya tetap menjauh dan tidak peduli.

Perubahan hingga penyesalan

Inilah titik balik perubahan hingga penyesalan yang mengubah sikap dan hati Anwar. “Ketika bapak presiden ikut tidur di tenda, saya diam-diam mulai memperhatikannya. Sosok yang mungkin sudah letih malam itu, tetap tampil penuh perhatian, menyapa rakyatnya dan berdiskusi pendek entah apa yang ditanyakan. Tubuh pemimpin itu rela merebahkan tubuhnya di bawah tenda beralaskan karpet di lapangan sepak bola ini dengan kondisi yang sangat memprihatinkan.

Sejak tidur ditenda ini. Saya tidak pernah pulas, selalu was-was dan terbangun begitu mendengar bunyi apapun. Khawatir dengan gempa susulan, khawatir dengan semua kemungkinan buruk yang siap menimpa kami. Tapi malam ini, alam pun seperti diam memberi kenyamanan untuk kami beristirahat. Begitu syahdu, begitu damai perasaan keluarga saya.

Baru kali ini saya pulas tertidur seperti ada seseorang yang melindungi kami, menjaga istirahat kami, berada di tengah-tengah kami seperti rakyat lainnya. Sebelum tertidur, saya masih melihat dari jauh sosok pemimpin itu terbangun duduk. Mengitari pandangannya melihat dengan seksama pada rakyatnya yang bergelimpangan di atas tikar. Bapak presiden ikut merebahkan badannya, ikut bersama kami merasakan dinginnya malam,.”

Rasa damai oleh penyesalan

Sungguh indah kesaksian Muh K. Anwar saat dia mulai merasa damai. Dengan jujur dia menulis dan ini yang bikin saya nangis saat membacanya. “Malam ini begitu damai dan tenang. Bahkan suara tangis anak-anak yang biasanya berisik malam ini tidak terdengar. Anak saya juga tidak rewel. Malam yang begitu tenang. Seakan tidur kami dininabobokkan oleh seorang ayah pada anak-anaknya. Ya, seorang presiden pada rakyatnya.Sewaktu bapak presiden pamit untuk melanjutkan perjalanannya, barulah saya mendekat untuk ikut menjabat tangan itu. Dengan lirih saya ucapkan terima kasih dan kata maaf yang mungkin tidak dimengerti oleh bapak presiden. Dalam hati saya memohon pada sang khalik, maafkan hambamu yang sangat kejam membenci pemimpinnya ini.”

Dari membenci jadi memuji

Rasa sesal dalm dirinya mengubah kebencian menjadi kekaguman dan pujian. Inilah kesaksiannya, “Kulihat ketulusan pada wajah kurusnya, kulihat keteduhan pada matanya. Kulihat senyum tipisnya yang ikhlas sambil menjabat tangan saya. Ingin rasanya memeluk tubuh kurus yang keletihan itu sambil memohon maaf, ampun atas kesalahan yang kulakukan. Tapi saya hanya bisa berkata pelan “maafkan saya pak.” Hanya itu yang keluar dari mulut saya, karna bapak presiden dengan cepat menjabat tangan-tangan yang lain. Saya melihat punggung itu menjauh ditemani bapak gubernur kami TGB. Sosok pemimpin-pemimpin yang baru saja memperlihatkan jatidirinya, tabiat dan karakternya, bukan pencitraan seperti yang selama ini saya tuduhkan… Maafkan saya Bapak Presiden. Maafkan rakyatmu yang tidak tahu diri, yang hanya mengenalmu dari opini-opini dan sosial media.Walau saya masih bersyukur, masih sempat meminta maaf sebelum ajal menjemput dan mempertanggungjawabkan semua dosa-dosa saya terhadap sang ulil amry kepada sang Khalik Allah SWT…”

Itulah kesaksian yang ditulis Muh K. Anwar dengan tulus. Membaca kesaksian dalam bentuk surat personal itu, saya melihat adanya lima momen penting yang menggambarkan perjalanan sikapnya. Awalnya membenci, laku terjadilah perubahan karena pengamatan dan perjumpaan langsung, perubahan menjadi penyesalan yang membawa rasa damai dan bahkan perubahan dari membenci ke memuji. Persis dalam prosea itulah falsafah Jawa becik iku ketitik sungguh menjadi nyata.

Melalui artikel ini, saya pun ingin berterima kasih kepada Bapak Muh. K. Anwar yang telah menuliskan kesaksiannya. Semoga kesaksian ini sampai kepada Presiden Jokowi dan membuat Bapak Muh. K. Anwar mengalami berkah yang berlimpah bersama seluruh keluarga serta masyarakat Lombok pada umumnya dan bagi bangsa ini.

Alangkah indahnya kalau kita semua memiliki hati dan jiwa seperti Bapak Muh. K. Anwar. Bangsa ini pasti akan damai sejahtera dan masa depan bangsa ini pun akan jaya. Terutama, pastilah peradaban kasih bagi masyarakat Indonesia yang sejahtera, bermartabat, dan beriman apa pun agama dan kepercayaannya akan segera terwujud seluas negeri ini.

Terima kasih Pak Muh K. Anwar yang kesaksiannya memberi inspirasi dan motivasi saya untuk menulis artikel ini. Salam peradaban kasih. Tuhan menberkati Pak Muh. K. Anwar bersama seluruh keluarga di mana pun berada.****

JoharT Wurlirang, 20/8/2018

Sumber: refleksi atas kesaksian Muh. K. Anwar dari broadcast WA

Sumber
https://idstory.ucnews.ucweb.com/story/2947567072146560?uc_param_str=dnvebifrmintcpwidsudsvnwpflameefutch&url_from=wmconstomerwebsite&stat_entry=personal&comment_stat=1

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.