Inspiration

Jangan Memimpikan Surga Bila Masih Terikat Manisnya Hal-Hal Duniawi! Lalu Harus Bagaimana?

Sahabat Peradaban Kasih yang terkasih. Falsafah lokal budaya Jawa ini menjadi pitutur adi luhur karena mengajak kita untuk terbebaskan dari ikatan duniawi. Ungkapannya indah, meski pelaksanaannya tidak mudah. Aja ngimpi swarga yen isi lena legine donya. Jangan memimpikian surga bila masih terikat pada manisnya hal-hal duniawi! Wow keren banget Gan! Lalu bagaimana penjelasannya?

Referensi pihak ketiga

Barangkali, gambaran-gambaran realitas ini bisa membantu kita merenungkannya. Ingat, saat kita hendak naik pesawat terbang, kita hanya boleh membawa barang bawaan dalam batas tertentu. Mengapa? Jelaslah Gan, agar pesawat tidak kelebihan beban sehingga tidak bisa terbang sesuai aturan. Kalau sampai pesawat terbang kelebihan beban, itu bahaya girls and guys! Ia akan terjatuh bersama semua penumpang dan awaknya Celaka bukan?

Juga mari kita ingat. Kapal yang sedang berlayar di lautan, bila ia kelebihan beban, maka itu pun berbahaya! Ia akan tenggelam karena bobotnya lebih dari yang dapat terbawa.

Satu lagi perbandingan. Bagi para Sobat Peradaban Kasih yang hobi mendaki gunung pasti paham. Seorang pendaki gunung tidak akan menggunakan atau membawa alat berat atau ransel yang berat saat ia mendaki gunung. Mengapa? Jawabannya jelas. Agar langkahnya tak terhambat dalam menggapai puncak gunung yang sedang didaki.

Referensi pihak ketiga

Nah, demikianlah pula dalam hidup rohani. Kita hanya dapat mencapai Tuhan bila kita mengosongkan diri dan membiarkan rahmatNya mengisi hati, jiwa dan hidup kita. Itulah yang dimaksudkan Yesus ketika bersabda, “Lebih mudah seekor unta masuk melalui lubang jarum daripada orang kaya masuk surga!” Jangan salah! Yesus tidak pernah membenci orang kaya. Tapi, Yesus mengingatkan siapa saja agar tidak terpikat legine donya. Ibarat falsafah Jawa tadi, aja ngimpi swarga yen isi lena legining donya.

Artinya? Kalau orang masih melekatkan dan mengikatkan diri pada hal-hal material duniawi saja, itu berarti ia berada dalam bahaya tidak memiliki ruang untuk Tuhan. Maka, nasalahnya bukan tentang kekayaan dan orang kaya. Perjalanan menuju Kerajaan Surga itu seperti pendakian spiritual, bila kita ingin mengalami keintiman dengan Tuhan, kita harus bebas dari apa pun yang memberatkan dan membelenggu hidup kita. Begitu Sobat? Bagaimana menurutmu?

Ah, mana mungkin bisa seperti itu? Mungkin begitu reaksi kita. Percayalah! Meninggalkan semua kesenangan duniawi untuk masuk surga mungkin tampak mustahil bagi kita. Tidak seorang pun dapat mengatasi keterikatan ini tanpa bantuan kasih karunia Allah. Itulah sebabnya Yesus juga berkata, “Bagi manusia ini tidak mungkin, tetapi bagi Allah segala sesuatu adalah mungkin.”

Referensi pihak ketiga

So, Gan, mari kita nikmati, resapkan dan syukur bisa jalan pitutur luhur pepatah Jawa itu. Aja ngimpi swarga yen isih lena manising donya. Mungkin falsafah itu bisa membantu kita memahami makna rohani bahwa lebih mudah seekor unta melewati lobang jarum daripada orang kaya masuk surga.

Semoga bermanfaat. Terima kasih telah membaca artikel ini. Tuhan memberkati kita semua dengan kerelaan menanggalkan setiap kelekatan duniawi kita sehingga memudahkan kita mendaki puncak gunung surgawi sesuai dengan agama dan kepercayaan kita masing-masing. Salam peradaban kasih!

JoharT Wurlirang, 21/8/2018

Sumber: refleksi harianku berdasarkan Mateus 19:23-30 dan falsafah Jawa

Sumber
https://idstory.ucnews.ucweb.com/story/4000391147260360?uc_param_str=dnvebifrmintcpwidsudsvnwpflameefutch&url_from=wmconstomerwebsite&stat_entry=personal&comment_stat=1

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.