Inspiration

Kejamnya Ketidakadilan, Mengapa Masih Terjadi?

Sahabat Peradaban Kasih yang terkasih. Dalam falsafah Jawa teradapat ungkapan undhaking pawarta, sudaning kiriman. Berita bisa berkembang liar menjadi hasutan sementara kiriman bisa dikorupsi hingga tak tersampaikan sebagaimana seharusnya. Begitulah makna falsafah Jawa tersebut. Falsafah Jawa itu bisa pula dipergunakan untuk merefleksikan peristiwa aktual yang sedang viral yang menimpa Ibu Meiliana, warga Tanjung Balai yang mendapat vonis penjara 18 bulan dengan tuduhan melanggar pasal penistaan agama.

Referensi pihak ketiga

Siapa pun yang berhati nurani pasti sedih dan turut menangis atas peristiwa yang menimpa Ibu Meiliana, yang divonis hukuman penjara 18 bulan oleh hakim dalam Pengalaman Negeri Medan. Ibu Meiliana divonis hukuman 18 bulan atas tuduhan penistaan agama. Padahal fakta yang terjadi tidaklah demikian. Sebagaimana dinyatakan dalam persidangan, Meiliana hanyalah curhat dengan pemilik warung dan mengatakan mengapa suara adzan di masjid kok semakin keras ya. Namun curhatan itu kemudian tersebar menjadi tuduhan bahwa Meiliana telah menolak adzan dan karenanya dianggap menista agama Islam. Begitulah, falsafah Jawa undaking pawarta, sudaning kiriman.

Berita dari sekadar curhat diubah menjadi hojat. Keluhan berubah menjadi penistaan. Dan akibatnya, Meiliana harus dijatuhi vonis hukuman 18 bulan penjara dengan tuduhan menista agama. Keputusan hakim ini dinilai sebagai tidak adil oleh sejumlah pihak. Nasib yang menimpa Meiliana adalah buah kejamnya fitnah yang diperburuk oleh ketidakadilan.

Referensi pihak ketiga

Keprihatinan dan dukungan terhadap Meiliana pun terus mengalir dari berbagai pihak yang meminta agar keadilan yang seadil-adilnya diberikan kepada Meiliana yang menjadi korban fitnah dan ketidakadilan. Bahkan, ia telah banyak mengalami kerugian secara meterial maupun mental sejak keluarganya diserang dan rumahnya dirusak oleh massa yang kalap karena termakan fitnah!

Sebagaimana dilansir oleh www.dw.com (23/8/2018), tak kurang, Menteri Agama RI, Lukman Hakim Saifuddin pun mengatakan bahwa dirinya bersedia menjadi saksi yang meringankan bagi Meiliana, apabila terjadi banding sesudah keputusan PN Medan tersebut.

Benarlah yang dikatakan pepatah bahwa fitnah itu lebih keji dari pembunuhan. Fitnah bisa lahir dari ucapan-ucapan yang ditambahkan yang tidak lagi sesuai dengan kenyataan. Itulah yang dalam kearifan lokal falsafah Jawa disebut undhaking pawarta, sudaning kiriman.

Referensi pihak ketiga

Mari kita berdoa, semoga ketidakadilan yang sedang menimpa Ibu Meiliana dapat segera diatasi sesuai dengan prosedur hukum yang adil dan beradab. Dukungan banyak pihak pasti akan memberikan jalan terbijak bagi Ibu Meiliana.

Terima kasih telah membaca artikel ini. Tuhan memberkati bangsa ini dengan kejujuran dan keadilan. Salam peradaban kasih.***

JoharT Wurlirang, 24/8/2018

Sumber: refleksi pribadi terinspirasi Pitutur Luhur Budaya Jawa (20017:425) dan www.dw.com/id/menag-lukman-saifuddin-bersedia-jadi-saksi-meringankan-meiliana/a-45195525

Sumber
https://idstory.ucnews.ucweb.com/story/955744432972208?uc_param_str=dnvebifrmintcpwidsudsvnwpflameefutch&url_from=wmconstomerwebsite&stat_entry=personal&comment_stat=1

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.