Inspiration

Mari Melayani dengan Rendah Hati, Buahnya Ternyata Kemuliaan dan Kesejahteraan!

Sahabat Peradaban Kasih yang terkasih. Sekali lagi, mari kita angkat dan refleksikan falsafah Jawa ini. Andhap asor dhuwur wekasane. Barangsiapa bersikap rendah hati ia akan memetik kemuliaan pada akhirnya.

Referensi pihak ketiga

Masyarakat Jawa sangat menanamkan sikap andhap asor dhuwur wekasane dalam keluarga sejak masa kanak-kanak. Mengapa? Karena, kerendahan hati itu memiliki nilai mulia dalam kehidupan. Bahkan, masyarakat Jawa menjadikan sikap andhap asor sebagai kualitas hidup personal maupun sosial.

Sikap andhap asor ditandai oleh watak tetap tenang meski diserang. Tidak membenci meski dicaci. Tidak mengumbar kemarahan walau menerima hinaan, celaan, dan nistaan. Justru semua itu menjadi kesempatan untuk mawas diri agar bisa menggapai kemuliaan dan kebahagiaan hidup yang sejati.

Referensi pihak ketiga

Falsafah Jawa ini juga selaras dengan ajaran semua agama dan kepercayaan. Sekurang-kurangnya, yang saya ketahui dan dalami, falsafah ini pun dapat ditempatkan pula dalam ajaran Kristiani. Ada sabda Yesus yang mengatakan isi yang sama.

“Siapa pun yang terbesar di antara kamu, hendaklah ia menjadi pelayanmu. Barangsiapa meninggikan diri, akan direndahkan, dan barangsiapa merendahkan diri, akan ditinggikan.” (Mateus 23:26-11-12

Barangsiapa meninggikan diri akan direndahkan. Barangsiapa merendahkan diri akan ditinggikan. Itulah sikap andhap asor dhuwur wekasane dalam perspektif Kristiani. Sikap rendah hati dihayati dengan kerelaan melayani. Maka, melayani dengan rendah hati.

Referensi pihak ketiga

Saya senang kalau Sahabat Peradaban Kasih juga berkenan memberikan kutipan serupa sesuai agama dan kepercayaan masing-masing. Kita pun diperkaya satu terhadap yang lain dalam pemahaman tentang kerendahan hati dan dengan demikian juga diteguhkan dalam menghayati sikap rendah hati dalam hidup sehari-hari.

Demikian, semoga bermanfaat. Terima kasih membaca artikel ini. Terima kasih juga bila berkenan memberikan masukan tentang kerendahan hati sesuai dengan agama, kepercayaan dan kebudayaan masing-masing. Jangan ragu, tuliskan di kolom komentar ya.

Tuhan memberkati. Salam.peradaban kasih.***

JoharT Wurlirang, 25/8/2018

Sumber: refleksi pribadi terinspirasi Pitutur Adi Luhur (2009:60-61) dan Mateus 23:11-12

Sumber
https://idstory.ucnews.ucweb.com/story/3821139098413499?uc_param_str=dnvebifrmintcpwidsudsvnwpflameefutch&url_from=wmconstomerwebsite&stat_entry=personal&comment_stat=1

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.