Inspiration

Perhitungkanlah Kekuatanmu, Jangan Seperti Cicak Nguntal Cagak!

Sahabat Peradaban Kasih yang terkasih. Falsafah lokal Jawa ini agak tidak enak untuk disimak; terlalu vulgar untuk didengar. Namun begitulah kenyataannya, masyarakat Jawa yang berciri lemah lembut dan gemulai bisa saja bersikap tegas di saat yang tepat. Itu sudah dikatakan dalam pitutur luhur empan papan atau dalam laku hambeging agni laku hambeging surya. Itulah yang kurang lebih terjadi di balik falsafah cecak nguntal cagak!

Referensi pihak ketiga

Meski tampak sengak, dan tidak enak disimak, atau terlalu vulgar untuk didengar, namun itulah pitutur luhur falsafah Jawa. Dan pitutur luhur itu memang ditujukan pada mereka yang tidak bisa diperlakukan dengan lemah lembut dan halus gemulai. Kepada mereka itulah maka pitutur luhur ini harus dikatakan: cecak nguntal cagak. Apa arti dan maknanya?

Cecak nguntal cagak adalah falsafah yang bernuansa teguran keras terhadap siapa pun yang memiliki cita-cita yang tidak sepadan dengan kekuatannya. Maka, pitutur luhur cecak nguntal cagak berarti nduwe gegayuhan kang ora imbang karo kekuwatane. Orang yang memiliki harapan keinginan, namun harapan keinginan itu tidak sesuai dengan kekuatan yang ada.

Ini merupakan suatu strategi berhitung kekuatan diri sendiri dan kekuatan lawan bila diterapkan dalam suatu pertandingan. Hal yang sama juga bisa diterapkan dalam konteks sosial politik. Kalau tidak memiliki kemampuan yang memadahi untuk menjadi presiden, misalnya, ngapain terus-menerus memaksakan diri untuk nyapres. Itu ibaratnya kalau dalam konteks capres-cawapres kita. Maka pitutur luhur ini bisa diserukan dengan tambahan kata “aja kadya” sehingga menjadi aja kadya cecak nguntal cagak sebagai suatu peringatan.

Referensi pihak ketiga

Maka, di balik falsafah tersebut diperhitungkan suatu kemampuan yang sudah menjadi kenyataan dan terbukti terjadi secara signifikan. Contohnya. Presiden Jokowi. Dalam pelayanan kepemimpinannya sebagai Presiden Republik Indonesia periode 2014-2019, meski ada kekurangan di sana-sini, namun bukti nyata pembangunan untuk pemerataan kesejahteraan yang adil dan beradab sudah bisa dinikmati warga masyarakat. Fakta itu tidak bisa dimungkiri oleh siapa pun, meski selalu dinafikan oleh lawan-lawannya. Bukti-bukti itu menjadi tanda kemampuan untuk memimpin bangsa ini menjadi bangsa yang maju dan berkeadilan. Apalagi, kesederhanaan dan kebersihannya dari berbagai kejahatan ekonomi, kejahatan politik dan kejahatan kemanusiaan; semua itu menjadi modal untuk melangkah maju sebagai capres dalam Pilpres 2019 nanti.

Dalam konteks Presiden Jokowi, falsafah cecak nguntal cagak tidak bisa diterapkan. Mengapa? Karena sudah dibuktikan dengan berbagai data dan fakta kerja, tekad Jokowi untuk maju dalam Pilpress 2019 ditopang dengan kekuatan yang nyata. Kekuatan itu adalah citra yang jujur, sederhana, dan bersih dari praktik korupsi, kolusi dan nepotisme. Ini modal dasar. Belum lagi, modal kekuatan dukungan para pencinta dan relawan Jokowi bukan demi dirinya sendiri melainkan dalam rangka kemajuan bangsa yang sejahtera. Semua itu adalah kekuatan yang nyata untuk membangun peradaban kasih bagi masyarakat Indonesia yang sejahtera, bermartabat dan beriman, apa pun agama dan kepercayaan kita.

Referensi pihak ketiga

Demikian uraian tentang falsafah Jawa cecak nguntal cagak! Jangan sampailah kita menjadi seperti cecak nguntal cagak ya. Siapa hayo yang menjadi seperti cecak nguntal cagak?! Jawablah dengan jujur di kolom komentar hehe!

Semoga bermanfaat. Terima kasih. Tuhan memberkati kita semua. Salam peradaban kasih.***

Kampus Ungu Unika Soegijapranata, 21/8/2018

Sumber: refleksi pribadi

Sumber
https://idstory.ucnews.ucweb.com/story/4236180124574312?uc_param_str=dnvebifrmintcpwidsudsvnwpflameefutch&url_from=wmconstomerwebsite&stat_entry=personal&comment_stat=1

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.