Inspiration

Urip Sing Prasaja, Hiduplah Sederhana, Mengapa? Jawabannya Mengejutkan!

Sahabat Peradaban Kasih yang terkasih. Urip sing prasaja! Begitulah pitutur luhur budaya Jawa. Hiduplah dalam kesederhanaan. Mengapa? Beginilah jawabannya.

Pemilik hak cipta: Aloys Budi Purnomo Pr

Dalam falsafah Jawa, prasaja itu sama dengan bersahaja. Hidup sederhana. Namun, dalam filosofi Jawa, kesederhanaan itu merupakan konsep yang menyangkut seluruh kehidupan manusia, tak hanya soal harta benda duniawi. Sikap bersahaja itu menyangkut hati, pikiran, perkataan, dan perbuatan.

Ketika orang bisa hidup prasaja, tenyata, ia akan mengalami kedamaian, ketenangan dan kebahagiaan lahir dan batin. Hidupnya lurus, tidak ngangsa, dan tidak terpusat pada diri sendiri, melainkan demi kebaikan orang lain. Kalau pun yang bersangkutan harus mengalami penderitaan dan perjuangan yang ditanggungnya sendiri, semua demi kepentingan hal yang lebih luas dan lebih besar. Itulah sebabnya, orang yang hidup prasaja juga tidak gampang iri, cemburu, meri, drengki lan srei. Hatinya dipenuhi rasa syukur melihat keberhasilan dan kebahagiaan orang lain.

Dalam falsafah Jawa pewayangan, ngelmu urip prasaja biasanya digambarkan dalam figur-figur para ponokawan, Semarang, Gareng, Petruk dan Bagong. Mereka adalah pribadi-pribadi yang menghayati ngelmu urip prasaja. Terutama Semar, Ia seorang dewata yang rela menjelma menjadi pamong dalam wajah abdi yang bersahaja!

Referensi pihak ketiga

Namun jangan salah. Sikap prasaja tidak sama dengan sikap menyerah kalah lantas tak mau berusaha untuk sesuatu yang lebih baik dalam rangka hidup bersama. Justru sikap prasaja itu ditandai dengan semangat yang menyala dan kerja keras yang luar biasa. Mengapa? Karena kebersahajaan itu harus dipertanggungjawabkan, bukan sebagai kesempatan untuk lari dan bersembunyi lantas tidak berbuat apa-apa dengan alasan urip prasaja. Urip prasaja tidak seperti itu.

Urip prasaja itu disertai dengan ihtiar terus-menerus hingga titik darah penghabisan. Bukannya menyerah di tengah jalan. Nah, mengejutkan bukan? Sering orang membayangkan bahwa urip prasaja itu yang penting apa adanya, “Isaku mung semene!” (Hanya inilah kemampuanku!) Bukan, ternyata bukan dan tidak seperti itu. Inilah kedalaman falsafah Jawa tentang urip prasaja. Ada aspek yang mendalam terkait dengan usaha, kerja keras dan tanggung jawab. Nilai kebersahajaan justru tampak dalam orientasi yang tidak demi kepentingan diri sendiri, melainkan demi kepentingan hidup bersama yang lebih luas!

Referensi pihak ketiga

Karenanya, kalau pun semua ihtiar untuk kebaikan bersama tidak didukung oleh orang lain yang pesimis dan apatis, orang yang menghayati urip prasaja justru akan setia menjalankan keputusan dan tanggung jawabnya itu. Itulah kedalaman makna urip prasaja. Semoga kita dianugerahi sikap dan semangat itu dalam kehidupan kita. Bagaimana menurutmu?

Terima kasih telah membaca artikel ini. Tuhan memberkati. Salam peradaban kasih.***

JoharT Wurlirang, 23/8/2018

Sumber: refleksi pribadi terinspirasi Pitutur Luhur Budaya Jawa (2017:385)

Sumber
https://idstory.ucnews.ucweb.com/story/3976876395846908?uc_param_str=dnvebifrmintcpwidsudsvnwpflameefutch&url_from=wmconstomerwebsite&stat_entry=personal&comment_stat=1

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.