Inspiration

Indahnya Meminta Maaf dan Saling Memaafkan. Buah Doa dan Persaudaraan! Cobalah!

Sahabat Peradaban Kasih yang terkasih. Kadang kalau kita salah, sulit banget ya minta maaf. Padahal saat kita bisa minta maaf dan memaafkan ternyata yang menurut kita salah, belum tentu bagi yang lain diperhitungkan sebagai salah. Kok bisa? Inilah jawabannya.

Pemilik hak cipta: Aloys Budi Purnomo Pr – Mbak Rofiah

Masih terkait dengan acara Haul Ketiga KH Mohammad Zoemri di PPTI Al Falah. Saya diminta jadi nara sumber. Inolah bunyi permintaan itu melalui WA. Nomornya belum tersimpan di gawai saya.

“Selamat sore, Romo. Sy Rofi dari eLSA Begini Romo, dalam rangka memperingati haul Bapak kami yg ketiga, pondok pesantren Al-Falah Salatiga mau mengadakan dialog publik dengan tema merawat kebhinnekaan yang akan dilaksanakan tanggal 6 September. Kami bermaksud memohon Romo untuk menjadi salah satu narasumber dalam acara tersebut, apakah Romo ada waktu dan berkenan?”

“Mas Rofi. Maaf baru balas. Tanggal 6 September jam berapa ya” jawabku.

“Jam 8 – 12, Romo. Nanti saya kirim ToR-nya.”

“Jam 8-12 pagi apa malam Mas hehe.” tanyaku.

“Pagi, Romo. Hehe.”

“Oke!” jawabku.

“Saget njih, Romo. Alhamdulillaah. Nanti saya kirim ToR-nya, pada intinya Romo diminta berbicara tentang kebhinnekaan Suwun sanget, Romo.”

“Oke Gus.” jawabku.

Dalam dialog tersebut. Saya membayangkan nama Rofi adalah nama cowok. Maka selalu saya jawab dengan sapaan Mas bahkan Gus sebab Rofi anak seorang Kiai Haji Pengasuh Pondok Pesantren.

Pemilik hak cipta: Aloys Budi Purnomo Pr

Nah, pada hari H, saat saya tiba di Ponpes, saya disambut oleh seorang lelaki yang gagah dan ganteng. Kami bersalaman bahkan bercipacipiki. Lalu beliau bilang, “Saya suaminya Rofiah yang menghubungi Romo.”

Waduh. Ternyata yang menghubungi saya bukan Mas bukan Gus tetapi Mbakyu. Tak lama sesudah itu, Mbak Rofiah pun menyambutku dan menjabat erat tanganku sambil berkata, “Terima kasih, Romo berkenan hadir dan menjadi narasumber dalam dialog nanti.”

Saya pun galau merasa bersalah. Jadi yang selama ini menghubungi saya itu Mbah Rofiah bukan Mas Rofi apalagi Gus Rofi. Itulah sebabnya, sesampai di Semarang, saya WA ke nomor tersebut.

“Maaf ini nomornya Mbak Rofiah apa suami ya hehehe. Tiwas tak panggil Mas Rofi ternyata Mbak Rofiah hehehehe. Saya sudah sampe Unika lagi. Bahagia bisa ikut acara Haul KH Mohammad Zoemri.”

“Injih, dalem Rofiah. Mboten punopo, Romo. Dalem sekeluarga rumaos bingah sanget Romo kerso rawuh. Sembah nuwun.” jawabnya. OMG! Ternyata, benar feeling saya. Saya salah!

Pemilik hak cipta: Aloys Budi Purnomo Pr

“Matur sembah Mbak Rofiah. Nyuwun pangapunten sedaya kalepatan kawula njih.” tulis saya meminta maaf atas kesalahan saya.

Jawabnya: Mboten wonten kalepatan, Romo. Mugi Romo tansah pinaringan sehat panjang yuswo, langgeng pasederekan kita. Tidak ada kesalahan Romo. Semoga Romo selalu sehat dan panjang umur. Abadilah persaudaraan kita.

Jawabku: Amin. Tansah ngadinonga njih Mbakyu. Mari kita saling mendoakan.

Jawabnya: Injih. Oke.

Begitulah indahnya memohon maaf dan saling memaafkan. Bahkan berbuah doa dan persaudaraan. Demikian pengalaman ini nyata. Semoga bermanfaat. Terima kasih. Tuhan memberkati. Salam peradaban kasih.***

JoharT Wurlirang, 6/9/2018

Sumber: refleksi pribadi

Sumber
https://idstory.ucnews.ucweb.com/story/286548326175303?uc_param_str=dnvebifrmintcpwidsudsvnwpflameefutch&url_from=wmconstomerwebsite&stat_entry=personal&comment_stat=1

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.