Inspiration

Menggoreng Rupiah, Bikin Suasana Gerah, Bukannya Jadi Berkah! Optimis Yuk!

Sahabat Peradaban Kasih yang terkasih. Nilai tukar rupiah yang melemah terhadap dolar Amerika Serikat kian gosong digoreng para politisi yang menjadi lawan Pemerintahan Presiden Jokowi. Gorengan melemahnya rupiah di tungku politik kekuasaan bukannya jadi berkah, justru kian bikin suasana jadi gerah!

Referensi pihak ketiga

Inilah yang bisa saya simpulkan terinspirasi dari penegasan pengamat ekonomi Bhima Yudhistira. Sebagaimana dilansir oleh www.kricom.id (10/9/2018 pukul 10.01 WIB, Ekonom INDEF (Institue for Development of Economics and Finance) tersebut mengatakan, bahwa, depresi nilai rupiah terhadap dolar Amerikas Serikat (AS) amat rawan dipolitisasi, terlebih di saat Indonesia sedang menyongsong tahun politik.

“Kalau digoreng terus kemudian disusupi isu bahwa ini salah Pak Jokowi, kalau terus mengibasi bara api, jika nanti oposisi menang di 2019, apa enak berkuasa saat Rupiha di Rp. 15.000?” (Bhima Yudhistira, 10/9/2018)

Selanjutnya, Bhima menegaskan bahwa kendati tembus Rp. 15.000 per dolar AS, harga kebutuhan pokok masih stabil. Dampak ke masyarakat bawa belum begitu terasa. Sesungguhnya, kondisi saat ini tidak sama dengan kondisi 1998. Begitu girls and guys. Jadi jangan mudah terprovokasi oleh para penggoreng rupiah yang sedang melemah ini ya.

Referensi pihak ketiga

Tentang nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat yang diributkan para oposan Pemerintahan Jokowi itu, bagaimana sih kebenarannya di tingkat akar rumput? Apakah masyarakat akar rumput kita juga ribut-ribut dengan kondisi rupiah terhadap dolar Amerika Serikat yang kian merosot? Mari kita simak jawabannya.

Hengky17 dalam cuitannya di tweeter mengatakan, “Banyak yang ribut dollar naik, padahal gajian pake #rupiah, makan di warteg pake #rupiah, anak bayar spp pake #rupiah, kita mah apa, jangan bawa2 nama rakyat, lebih baik bantu pemerintah gak konsumsi barang impor.” (Sumber: @Henkyks, 4 September 2018, pukul 23.09)

Berikut tanggapan isn @isnaendi, “Aing bingung sama anak-anak di grup pada heboh dollar naik, wong makan diwarteg ae masih semono wae” (Sumber: @isnaendi, 09.12 – 5 Sep 2018)

Referensi pihak ketiga

Sebagaimana dilansir bbc.com, Agustinus Prasetyantoko, mengatakan bahwa harga barang konsumsi yang bergantung pada produk impor seperti tahu-tempe berpotensi melonjak jika rupiah terus melemah. Namun, dia memprediksi dampak jangka dekat depresiasi rupiah hanya akan dirasakan pelaku pasar keuangan dan pengusaha besar, bukan masyarakat kelas menengah ke bawah.

Baru-baru ini bahkan ada tayangan video di youtube dan facebook tentang sosok seorang ibu dari Tanah Batak yang berjualan di pasar sambil bernyanyi riang memuji Jokowi. Dalam bahasa Toba, ibu ini menyanyi riang gembira sambil berjualan di tengah pasar. Kurang lebih isi lagunya berupa pengakuan dan pujian bahwa di tengah melemahnya rupiah ini, toh Jokowi tetap bekerja memberi solusi untuk kesejahteraan rakyat Indonesia. Asyik juga. Youtube ini jujur banget. Bikin hati para provokator penggoreng kasus melemahnya rupiah jadi makjleb! Simak saja lampiran youtubenya ini.

Orisinil

Karenanya, alih-alih saling menyalahkan. Yuk kita mencari solusi bersama demi kesejahteraan rakyat kita. Nyinyir doank tanpa beri solusi tak akan pernah membuat dirimu lebih baik dibandingkan yang dinyinyiri. Minimal, mari bikin suasana lebih adem dan tenang seperti nyanyian Inang dalam youtube itu. Itu sudah cukup!

Demikian, semoga bermanfaat. Terima kasih berkenan membaca artikel ini. Terima kasih komentarnya dan jangan lupa like and share ya. Tuhan memberkati. Salam peradaban kasih.***

Kampus Ungu Unika Soegijapranata, 10/9/2019

Sumber: refleksi pribadi terinspirasi dari www.kricom.id; bbc.com dan youtube terlampir

Sumber
https://idstory.ucnews.ucweb.com/story/3512555241018189?uc_param_str=dnvebifrmintcpwidsudsvnwpflameefutch&url_from=wmconstomerwebsite&stat_entry=personal&comment_stat=1

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.