Inspiration

Isak Tangis Doa Mengiringi Narasi Gugurnya Imam Husain bin Ali bin Abi Thalib dalam Asyura

Sahabat Peradaban Kasih yang terkasih. Sejak menghadiri peringatan Asyura (baca: Asyuro) 10 Muharram 1440 H (20 September 2018) di MAC Majapahit, saya termenung dalam haru atas kekhusyukkan para hadirin dalam acara tersebut. Dalam konteks Haul Cucu Rasulullah Nabi Muhammad SAW, yakni, Imam Hussein bin Ali bin abi Thalib; puncak acara ini membuat saya terbawa dalam rasa-perasaan religiositas iman tentang kemartiran (kematian suci). Dalam semua agama dan kepercayaan, terdapat pemahaman tentang kemartiran, yakni kematian suci karena membela iman dan kemanusiaan. Itulah yang menggema dalam hati dan jiwa saya saat berada dalam suasana isak tangis doa mengiringi pembacaan kisah kemartiran Imam Husain bin Ali bin Abi Thalib dalam Asyura tersebut.

Orisinil

Saya berada di antara ribuan jemaah yang mengenakan pakaian hitam yang menghadiri acara Asyura tersebut. Saya merasa tidak salah mengenakan pakaian pula, sebab warna hitam baju kolar imamat dan celana sarung hitam pula yang kukenakan saat itu. Saya hadir memenuhi undangan panitia bersama jemaah Yayasan Nuruts Tsaqalain, sebuah yayasan yang menaungi umat Islam syiah.

Pemilik hak cipta: Aloys Budi Purnomo Pr

Entah mengapa, saat para tamu undangan lain berpamitan satu per satu, saya tak bergeming dan ingin menuntaskan kehadiran itu dalam kebersamaan hingga akhir. Maka, saya tetap duduk bersimpuh di samping Ustad Toha Al-Musawa. Sejumlah jemaah menyalamiku dan berterima kasih bahwa aku hadir bersama mereka hingga akhir, terhitung sejak saya datang sekitar pukul 12.15 hingga pukul 17.00-an WIB.

Pemilik hak cipta: Aloys Budi Purnomo Pr

Hingga akhir pula, saya mencecap pengalaman rohani kisah kemartiran Imam Husain bin ALi bin Abi Thalib bersama dengan sekitar 4.000-an jemaah yang hadir, mulai dari anak-anak, remaja, orang muda, dan dewasa, baik perempuan maupun laki-laki. Bagiku, ini adalah pengalaman baru penuh haru yang meneguhkan semangat untuk terus bersatu dalam keberagaman dengan siapa saja dan di mana saja tanpa diskriminasi.

Pemilik hak cipta: Aloys Budi Purnomo Pr

Isak tangis para hadirin saat kisah kemartiran Imam Husain dibacakan, serta lantunan doa yang menggema, dalam pemahamanku merupakan bagian dari “yang baik, benar dan suci” yang diajarkan dalam Lumen Gentium 16 dan Nostra Aetate 2 oleh Konsili Vatikan II. Gereja tidak menolaknya, melainkan justru mendorong agar umat mengembangkan sikap hormat yang tulus dan kerja sama dalam semangat dialog dan cinta. Itulah alasan mengapa saya tetap hadir hingga akhir dan ternyata, boleh merasakan rasa haru dan cinta jemaah dalam isak tangis dan doa mereka yang luar biasa istimewa. Itulah doa-doa yang mengalir dari hati dan jiwa yang ikhlas. Hidup beriman pun menjadi penuh berkah bagi umat dan masyarakat.

Bagaimana menurutmu, Sahabat Peradaban Kasih?

Demikian, semoga bermanfaat. Terima kasih. Tuhan memberkati. Salam peradaban kasih.***

JoharT Wurlirang, 21/9/2018

Sumber: refleksi pribadi berdasarkan pengalaman hadir dalam Asyuro 10 Muharram 1440 H di MAC Majapahit

Sumber
https://idstory.ucnews.ucweb.com/story/130788912082176?uc_param_str=dnvebifrmintcpwidsudsvnwpflameefutch&url_from=wmconstomerwebsite&stat_entry=personal&comment_stat=1

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.